Kamis, 22 Desember 2011

Obesitas 4 - Kegemukan



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI

Obesitas 4 - Kegemukan

OBESITAS DAN GLYCEMIC INDEX (GI)
Dulu orang menjadi gemuk atau obes dihubungkan dengan asupan kalori atau total energi yang berlebihan. Sehingga orang banyak melakukan upaya penurunan berat badan dengan cara hanya mengurangi jumlah kalori tanpa mempertimbangkan asupan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Apabila pola diet ini terus dilakukan, maka lambat laun tubuh akan menjadi lemas dan menjadi tidak sehat dikarenakan gizi yang tidak terpenuhi.

Penurunan berat badan yang hanya mengandalkan pengurangan jumlah kalori tanpa mempertimbangkan nilai gizi dan pola hidup sehat memang akan menurunkan berat badan, tetapi ini hanya bersifat sementara. Di saat tubuh menerima asupan kalori kurang dari biasanya seperti 2500 kcal menjadi 2000 kcal, tubuh akan memakai fat storage yang ada sebagai sumber energi. Pada tahap ini berat badan akan turun. Tetapi tubuh akan bereaksi secara natural atas perubahan ini dan melakukan sistem survival dengan cara mengurangi jumlah energi yang dikeluarkan dan melakukan fat reserves. Apabila mengkonsumsi 2000 kcal, tubuh hanya akan memakai 1700 kcal dan menyimpan 300 kcal sebagai timbunan lemak. Metabolisme tubuh menjadi lambat dan timbunan lemak tetap meningkat. Dalam jangka panjang, berat badan akan kembali naik walaupun asupan kalori tetap rendah.
 
Apa Hubungan Obesitas dengan GI?
Pada dasarnya, berat badan naik dikarenakan oleh energi yang masuk lebih besar daripada energi yang dikeluarkan sehingga tubuh menyimpan energi yang berlebihan ini dalam bentuk lemak. Berat badan yang berlebihan dapat disebut obesitas. Obesitas dipengaruhi oleh banyak faktor. Artikel ini akan membahas salah satu faktor penyebab obesitas yang berhubungan dengan Glycemic Index(GI).

GI atau Glycemic Index hanya berhubungan dengan makanan yang mengandung karbohidrat di mana karbohidrat tersebut diurai menjadi glukosa yang digunakan sebagai sumber energi. Glukosa ini akan diserap ke dalam darah dan level gula di dalam darah meningkat (glycemia). GI menunjukkan pengaruh makanan terhadap glycemia yang dibandingkan dengan apabila mengkonsumsi glukosa di mana GI untuk glukosa adalah 100. GI tinggi berarti makanan tersebut memberikan efek glycemia yang cukup tinggi.

Tinggi rendahnya GI ditentukan oleh absorption rate atau cepatnya glukosa terserap kedalam darah. Semakin banyak glukosa yang terserap dalam waktu yang ada akan semakin tinggi level gula darah. Pada saat glycemia mencapai titik tertinggi, pankreas mendapat signal untuk memproduksi hormon insulin yang berperan untuk mengurangi kadar gula di dalam darah sehingga tidak berlebihan dan menyimpan glukosa ini dibagian tubuh lainnya seperti di hati dan otot. Glukosa ini tersimpan dalam bentuk glycogen yang akan dipakai apabila level gula darah menurun di bawah normal dan diaktifkan oleh hormon glukagon.

Pankreas yang berfungsi secara normal akan memproduksi insulin dengan jumlah yang sebanding dengan kadar glukosa yang ada di dalam darah. Apabila tubuh mengkonsumsi makanan GI yang lebih tinggi dari sebelumnya, maka pankreas akan memproduksi insulin lebih banyak. Dampak negatif dari pengkonsumsian makanan GI tinggi secara terus menerus adalah hyperglycemia (level gula darah yang berlebihan) dan ini berarti pankreas bekerja keras untuk terus menerus memproduksi insulin dalam jumlah yang banyak.

Lambat laun hyperglycemia dapat menyebabkan daya tahan pankreas menurun dan tidak dapat berfungsi secara normal. Akibatnya, pada saat tubuh mengkonsumsi makanan GI tinggi, pankreas memproduksi insulin dalam jumlah yang sangat berlebihan (hyperinsulinism) dan kadar glukosa di dalam darah jatuh dibawah level normal. Tubuh akan cepat merasa lapar dan adanya kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan kembali.

Hyperinsulinism dapat menyebabkan obesitas tidak hanya dikarenakan oleh konsumsi makanan yang terus menerus dalam waktu yang dekat, tetapi juga akibat sumber energi yang digunakan. Pada saat tubuh mengkonsumsi makanan ber GI tinggi, sumber energi yang digunakan berasal dari glycogen (simpanan karbohidrat) sehingga lemak yang tertimbun tidak terpakai. Apabila hal ini terulang terus menerus, timbunan lemak akan semakin menumpuk, menjadi abnormal dan menyebabkan obesitas. Orang obes cenderung mempunyai level glycogen yang tinggi dan mengalami fluktuasi yang sering akibat hyperinsulinism sehingga sulit sekali untuk membakar lemak.

Asupan makanan GI tinggi > Hyperglycemia > Hyperinsulinism > Obesitas
Proses ini tidak bergantung pada umur. Ini berarti, proses ini dapat terjadi kapan saja dan pada siapa saja bahkan pada anak-anak. Hal ini hanya bergantung pada daya tahan pankreas yang mengalami stres secara terus menerus. Seperti layaknya motor mesin yang dipakai terus menerus tanpa istirahat, lambat laun mesin tersebut akan rusak. Sehingga apabila anda selama ini mengkonsumsi makanan GI tinggi dan tubuh anda sehat sehat saja, bukan berarti ada terbebas dari obesitas. Anda perlu hati-hati untuk kemudian hari.

Apakah ini berarti makanan berkarbohidrat adalah makanan yang jahat? Apakah sebaiknya orang perlu melakukan diet rendah karbohidrat untuk memulai pola hidup sehat? Tidak. Untuk mencegah obesitas, bukan berarti kita harus menghindari makanan berkarbohidrat, tetapi yang perlu dilakukan adalah mengatur sumber karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh. Karbohidrat tetap merupakan nutrisi yang esensial untuk tubuh kita sebagai sumber energi. Diet rendah kalori hanya bersifat sementara. Berat badan turun bukan karena pembakaran lemak akan tetapi akibat hilangnya cairan tubuh dan lean body mass. Di saat tubuh kekurangan karbohidrat, tubuh akan menggunakan protein yang ada di dalam otot untuk diubah menjadi glukosa. Massa otot menurun dan tubuh menjadi cepat lelah dan lemas pada saat berolahraga.

Tren Karbohidrat
Apabila dari dulu karbohidrat sudah merupakan sumber nutrisi yang penting dan sering dikonsumsi, lalu mengapa masalah obesitas baru muncul akhir-akhir ini? Prevalensi obesitas secara global di abad 20 ini jauh lebih tinggi daripada sebelumnya. Pada tahun 1997, WHO mengumumkan obesitas sebagai penyakit yang diderita sedunia. Di Amerika, obesitas meningkat 31% selama 10 tahun walaupun pada saat yang bersamaan total kalori yang dikonsumsi telah menurun. Konsumsi lemak menurun 11% dan konsumsi rendah lemak meningkat dari 19% menjadi 76%.

Hal ini disebabkan oleh perubahan pola hidup sehat dan pola makan dari waktu ke waktu. Di jaman sekarang ini, tidak hanya waktu untuk melakukan aktifitas fisik dan berolah raga menurun tetapi begitupula dengan kualitas karbohidrat yang dikonsumsi. Dietary trend karbohidrat berubah dimana dijaman sekarang lebih cenderung ke arah makanan yang mempunyai nilai GI tinggi.
Berikut adalah faktor yang mempengaruhi nilai GI makanan:
  1. Varian makanan (contohnya jenis beras yang berbeda mempunyai nilai GI yang berbeda pula).
  2. Cara memasak (menggoreng, merebus, tidak dimasak, memanggang, dll).
  3. Proses manufaktur (contoh: popcorn dan corn flakes walau berasal dari sumber yang sama mempunyai GI yang berbeda).
  4. Komposisi serat dan protein.
Variasi makanan dan proses teknologi yang lebih maju ini menyebabkan dietary shift dari konsumsi GI rendah ke GI tinggi. Konsumsi makanan yang mengandung GI rendah seperti grains, wheat, unrefined flour, buah dan sayur sayuran jauh menurun dibanding sebelumnya. Sebaliknya, konsumsi GI tinggi seperti refined flour, gula, white bread, kentang, corn flakes, rice flakes meningkat. Dan ini tidak hanya terjadi di Amerika melainkan diberbagai negara lainnya. Populasi yang mengalami masalah berat badan meningkat dari 10-20% menjadi 30-65% (berdasarkan negara). Berdasarkan studi yang dilakukan pada tahun 1997, diperkirakan 100% orang Amerika akan menderita obesitas pada tahun 2039 berdasarkan pola makan yang ada sekarang ini.


GI terhadap berat badan
Mengetahui nilai GI dari makanan yang kita konsumsi dapat membantu kita dalam mengatur berat badan dan mencegah adanya timbunan lemak yang berlebihan. Bukan berarti kita hanya boleh mengkonsumsi makanan GI rendah, karena mengkonsumsi makanan GI tinggi masih tetap penting, melainkan kita perlu memasukkan makanan GI rendah ke dalam menu sehari-hari kita. Mengkombinasikan makanan GI rendah dengan makanan GI tinggi memberikan dampak positif ke tubuh.
 
Lebih dari 17 studi klinis menunjukkan bahwa konsumsi makanan GI rendah akan memberikan efek kenyang dan menekan rasa lapar lebih lama. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor :
  • Makanan GI rendah lebih lama di usus kecil sehingga otak mendapatkan sinyal bahwa masih ada makanan yang perlu dicerna.
  • Makanan GI rendah tidak mengakibatkan glycemia meningkat tinggi sehingga kadar gula darah tidak akan turun secara drastis, yang dapat menyebabkan rasa lapar.
  • Makanan GI rendah tidak memberikan efek besar terhadap hormon, yang berperan memberikan nafsu makan (kortisol dan adrenalin), yang diproduksi apabila kadar gula darah turun.
  • Makanan GI rendah mempunyai energy density yang rendah karena banyak mengandung serat makanan yang memberikan rasa kenyang lebih lama tanpa menaikkan level energi.
Walaupun makanan GI rendah dengan GI tinggi mempunyai kandungan kalori yang sama, studi klinis telah menunjukkan makanan GI rendah tetap akan lebih membantu menurunkan berat badan. Mengapa demikian? Memakan makanan yang mengandung GI rendah akan mengurangi insulin yang diproduksi oleh pankreas sehingga tubuh akan lebih cenderung mendapatkan energinya dari timbunan lemak yang ada. Lemak akan menjadi lebih cepat terbakar dan berat badan akan lebih sulit untuk naik. Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa konsumsi makanan GI rendah meningkatkan bassal metabolic rate (metabolisme tubuh disaat istirahat) yang diperkirakan akibat dari pengaruh GI rendah yang berfungsi menjaga lean body mass lebih baik daripada karbohidrat lainnya.

Pencegahan obesitas tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan konsumsi makanan GI rendah karena banyak faktor-faktor yang mempengaruhi obesitas. Oleh karena itu, pengelolaan berat badan akan lebih efektif apabila melakukan perubahan dari segi pola hidup dan pola makan. Melakukan aktifitas fisik lebih sering membantu menaikkan metabolisme tubuh walaupun badan dalam keadaan istirahat. Selain itu, tubuh tetap membutuhkan asupan gizi yang cukup dan tidak berlebihan. Mengkonsumsi GI rendah bukan berarti tubuh dapat mengkonsumsi lemak dengan bebas dan tidak menjadi gemuk. Semuanya itu saling berhubungan dan untuk mendapatkan hasil yang optimal, semua faktor perlu diperhitungkan.


Lean body weight or mass,  a waste of arithmetic

Sometimes, people ask me to explain what is "lean body weight".  It's not what you think.  It has nothing to do with your ideal weight, or what your body should be like if you were "lean".
Instead,  it refers to the sum of the weight of your bones, muscles and organs... basically the sum of everything other than fat in your body.
But who would like to have a body with ZERO fat?  Nobody.  In fact, you'd probably die if you had no fat.
So why is it included along with BMI on the body surface area calculator page?  Because it's kind of fun to think about,  that's all.   Also, some medical formulas use lean body mass for various calculations of organ function and medication doses.
Maybe you are wondering why your lean body mass goes up,  as your weight goes up,  even though your height is unchanged.  The reason is that the skeletal muscle mass tends to increase as body fat increases.  It takes extra muscle to carry extra fat around, right?
Hope this helps.

The formula for lean body mass using the method of James1,2 is:

Lean Body Weight (men) = (1.10 x Weight (kg)) - 128 x ( Weight/(100 x Height (m)))

Lean Body Weight (women) = (1.07 x Weight (kg)) - 148 x ( Weight/(100 x Height (m)))
An alternate formula for lean body mass using the method of Hume is
For men over the age of 16: lean body mass in kilograms = (0.32810 * (body weight in kilograms)) + (0.33929 * (height in centimeters)) - 29.5336
For women over the age of 30: lean body mass in kilograms = (0.29569 * (body weight in kilograms)) + (0.41813 * (height in centimeters)) - 43.2933
These formulas are trusted and highly scientific, based on various types of measurements of human body composition, including dual energy X-ray absorptiometry (DEXA). However, remember that they are based on "averages". They predict the lean body weight "average" of a group of people with similar height and weight.
But you, as an individual, might have more muscle than others in your group, or bigger internal organs, or denser bones, or any number of factors that make you a little different than others. So even the lean body weight formulas are estimates.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar