Minggu, 25 Desember 2011

Wasir 4 - Ambeien



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI


Kenali Hemoroid (Wasir) Lebih Dekat

Mengenal hemoroid

Hemoroid (hemorrhoid) dikenal oleh masyarakat luas dengan istilah ambeien atau wasir. Hemoroid merupakan kondisi di mana pembuluh darah vena yang berada di anus dan sekitarnya mengalami pembengkakan dan meradang. Kondisi ini dapat terjadi sebagai akibat buang air besar yang sulit (tinja keras), kehamilan, penuaan, konstipasi kronis, diare kronis, dan hubungan seksual lewat anus (anal sex intercourse).

Frekuensi kasus

Ditilik dari sejarahnya, hemoroid sudah dikenal selama berabad-abad dan diduga masih termasuk salah satu penyakit yang umum ditemukan di mana-mana. Di Amerika Serikat, hemoroid ditemukan dengan jumlah kasus meliputi 4,4% dari seluruh penduduk; paling banyak pada umur 45-65 tahun. Namun sayangnya frekuensi pasti dari hemoroid sulit diketahui. Seseorang yang menderita hemoroid cenderung malu mengutarakan penyakitnya dan takut membayangkan tindakan yang mungkin akan dilakukan dokter. Di samping itu, hemoroid memang bukanlah penyakit yang mematikan. Gejalanya dapat hilang timbul, dan pada sebagian besar kasus gejala hemoroid sudah lenyap dalam beberapa hari saja.

Jenis-jenis
Menurut anatomi atau letaknya, hemoroid dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu hemoroid interna dan hemoroid eksterna. Batas antara interna dan eksterna adalah suatu garis pada anus yang disebut linea dentata atau pectinate line. Linea dentata adalah garis pertemuan antara permukaan usus besar di sisi dalam dan permukaan kulit di sisi luar. Jika benjolan berasal dari atas linea dentata, maka hemoroidnya termasuk hemoroid interna. Sebaliknya jika benjolan berasal dari bawah linea dentata, hemoroidnya termasuk hemoroid eksterna.



  J. C. Goligher telah membuat klasifikasi hemoroid interna menurut derajat prolaps (ukuran benjolan); sebagai berikut:
  1. Grade 1: keluar darah segar saat mengedan. Tidak ada benjolan keluar dari anus.
  2. Grade 2: keluar benjolan dari anus saat mengedan, tetapi begitu berhenti mengedan benjolan tersebut masuk kembali ke anus.
  3. Grade 3: keluar benjolan dari anus saat mengedan, dan tidak masuk kembali secara spontan saat berhenti mengedan (harus didorong dengan jari agar dapat masuk).
  4. Grade 4: benjolan yang keluar dari anus secara permanen dan tidak dapat masuk kembali lagi ke anus.

Gejala klinis
Gejala utama hemoroid tahap awal adalah keluarnya darah berwarna merah segar saat buang air besar, biasanya keluar bersama atau sesudah tinja. Gejala dapat berlanjut menjadi benjolan yang keluar lewat anus; yang seringkali meradang dan mengalami iritasi sehingga timbul pembengkakan dan nyeri. Benjolan ini berpotensi menyumbat keluarnya lendir ataupun tinja dari usus besar, sehingga terjadi kesulitan buang air besar yang akan semakin memperparah hemoroid, dan seterusnya.

Pemeriksaan fisik oleh dokter
Untuk memastikan diagnosis hemoroid interna, dokter akan memeriksa anus dengan jari (colok dubur/rectal examination). Pemeriksaan fisik ini penting untuk mencari asal darah segar. Jika perlu dokter akan melakukan proktoskopi untuk menilai usus besar bagian ujung (rektum) dan anus; atau bahkan kolonoskopi untuk menilai seluruh usus besar. Normalnya pada kasus hemoroid, masalah hanya ada pada anus dan tidak pada usus besar.

Sedangkan untuk hemoroid eksterna, umumnya sudah terlihat dari pemeriksaan fisik luar. Yang diperhatikan dokter di sini adalah apakah hemoroid sudah mengalami trombosis (gangguan sirkulasi darah) atau tidak. Ciri jaringan hemoroid trombotik adalah berwarna kebiruan atau keunguan dan dirasakan nyeri.

Pengobatan hemoroid
Pengobatan hemoroid dapat dilakukan dengan tiga modalitas utama:
  • Modifikasi gaya hidup
  • Obat-obatan (farmakologis)
  • Tindakan (nonfarmakologis)

Berikut ini dapat dilihat jenis pengobatan yang sesuai dengan masing-masing grade hemoroid interna menurut J. C. Goligher.

Lifestyle modification Sclerotherapy Rubberband ligation Surgical Hemorrhoidectomy Stapled Hemorrhoidectomy Emergency Hemorrhoidectomy
Grade 1 ü ü û û û û
Grade 2 ü ü ü û û û
Grade 3 ü û ü ü ü û
Grade 4 ü û û ü ü ü
*Modifikasi dari Nelson & Cima (2007), Kaidar-Person et al (2007), dan Gearhart (2004).

Modifikasi gaya hidup
Modifikasi gaya hidup yang dimaksud di sini antara lain:
  • Konsumsi serat (30 gram per hari) dan banyak minum air putih (6-8 gelas/hari). Menurut Gearhart (2004); diet tinggi serat hanya mengurangi nyeri dan perdarahan, namun tidak mengecilkan hemoroid yang besar.
  • Olahraga teratur: hindari duduk berlebihan.
  • Tidak menahan buang air besar.
  • Jangan mengejan sewaktu buang air besar.
  • Jangan duduk di toilet selama lebih dari 1 menit . Kebiasaan membawa bahan bacaan atau sejenisnya ke dalam toilet harus dihindarkan.
  • Sitz bath (berendam air hangat 10 menit/hari) membantu meredakan nyeri.
  • Jangan lupa untuk menjaga kebersihan/higiene di daerah anus.

Peran Obat-obatan: Topikal

Ada banyak obat oles dan supositoria untuk hemoroid yang dijual bebas. Obat-obatan ini umumnya hanya meredakan gejala peradangan akut untuk sementara saja. Jenis obat hemoroid tersebut antara lain meliputi analgesik lokal, vasokonstriktor, dan kortikosteroid. Penggunaan obat jangka panjang tidak dianjurkan karena kortikosteroid dapat menipiskan kulit sekitar anus.

Belakangan diketahui pula bahwa pemberian lidokain topikal (1.5%) cukup baik mengatasi rasa nyeri setelah hemoroidektomi; dengan ataupun tanpa nifedipin topikal (0.3%).

Peran Obat-obatan: Sistemik

Peran obat sistemik tidak terlalu penting dalam pengobatan hemoroid. Pada kasus hemoroid derajat rendah dan hemoroid yang telah dioperasi dapat diberikan analgesik ringan; untuk menunjang modifikasi gaya hidup. Di Eropa dan Asia banyak digunakan obat vasotopik oral yang bermanfaat untuk mengecilkan pembuluh darah vena yang mengalami varices, termasuk hemoroid. Contoh obatnya adalah citrus flavonoid. Pada pasien pascabedah hemoroid obat vasotopik ini juga dapat dipakai untuk menunjang terapiantibiotik dan antiinflamasi.

Tindakan terhadap hemoroid

Setelah diagnosis hemoroid ditegakkan, dokter akan membantu pasien memilih terapi yang sesuai dengan derajat hemoroid pasien yang bersangkutan. Ada beberapa macam tindakan untuk menyembuhkan hemoroid, yaitu:
  • Skleroterapi
  • Rubber-band ligation
  • Stapled hemorrhoidectomy
  • Conventional hemorrhoidectomy
  • Eksisi (khusus hemoroid eksterna)

Perlu diketahui bahwa modifikasi gaya hidup ini juga penting untuk mencegah terjadinya hemoroid bagi yang belum mengalaminya.

Skleroterapi menggunakan suntikan sodium tetradecyl sulfate yang bersifat sklerotik pada pangkal jaringan hemoroid yang belum terlalu besar. Dengan penyuntikan ini, jaringan hemoroid akan mengalami gangguan aliran darah, mengeras, dan perlahan-lahan mengecil.

Rubber-band ligation adalah prosedur pemasangan pita karet (biasanya sebanyak 2 pita) untuk mengikat bagian permukaan anus yang menonjol akibat hemoroid. Setelah itu karet dibiarkan tetap berada di dalam anus. Selain paling sederhana, tindakan ini ditoleransi cukup baik oleh sebagian besar pasien, dengan efek samping ringan (rasa penuh di perut bawah dan keluar sedikit darah), yang umumnya dapat reda dengan sendirinya.

Hemoroidektomi (hemorrhoidectomy) adalah prosedur bedah untuk mengangkat seluruh jaringan dan vena sekitar anus yang mengalami pembengkakan. Dapat dilakukan secara terencana ataupun darurat; dan cara tertutup ataupun terbuka. Saat ini prosedur hemoroidektomi cukup menggunakan stapler. Di sini stapler dipasang untuk menjepit dan mengurangi aliran darah ke jaringan yang membengkak pada hemoroid; sehingga jaringan pembengkakan diharapkan akan rusak. Keuntungannya adalah masa rawat inap menjadi lebih singkat. Namun sayang, menurut hasil meta-analisis dari Giordano et al (2009), ternyata stapled hemorrhoidectomy ini memberikan angka kekambuhan lebih tinggi daripada pembedahan biasa (konvensional).

Eksisi merupakan tindakan anjuran untuk hemoroid eksterna yang sudah trombosis.

Penyulit Pascabedah
Setelah dilaksanakan prosedur bedah, sejumlah penyulit dapat timbul; antara lain: nyeri, sulit buang air kecil, perdarahan dari anus, konstipasi, abses atau bisul, timbul tonjolan pada kulit (skin tag), dan sebagainya. Umumnya penyulit ini dapat reda dengan sendirinya. Untuk mengantisipasi adanya penyulit, penderita dianjurkan kontrol teratur ke dokter bedah seusai prosedur bedah.

Referensi
Chong PS, Bartolo DCC.Hemorrhoids and Fissure in Ano. Gastroenterol Clin N Am 2008; 37: 627–44.
Gearhart SL. Symptomatic Hemorrhoids. Advances in Surgery 2004; 38: 167-82.
Giordano P et al. Long-term Outcomes of Stapled Hemorrhoidopexy vs Conventional Hemorrhoidectomy. Arch Surg 2009; 144 (3): 266-272.
Kaidar-Person O, Person B. Wexner SD. Hemorrhoidal Disease: A Comprehensive Review. American College of Surgeons 2007; 204 (1): 102-117.
National Digestive Diseases Information Clearinghouse. Hemorrhoids. U.S. Department of Health and Human Services/National Institutes of Health, 2004.
Nelson H, Cima RR. Anus > Common Benign Anal Disorders, in Townsend CM et al.Sabiston Textbook of Surgery: The Biological Basis of Modern Surgical Practice, 18th edition. Saunders-Elsevier; 2007: chapter 51.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar