Jumat, 17 Februari 2012

Visi dan Misi Jamu Godog Kendhil Kencana



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI

Visi dan Misi Jamu Godog Kendhil Kencana

Visi
  • Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, baik fisik, mental, dan sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun sosial.
  • Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pemeliharaan dan pelestarian tanaman, sebagai sumber makanan dan obat, untuk kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup.
  • Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan dan kecenderungan masyarakat memilih pengobatan alternatif yang relatif lebih aman.
  • Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya membina kesehatan melalui pola hidup sehat, pemakaian bahan-bahan alami dan pengobatan secara tradisional.
Vision
  • Increased public awareness to preserve and improve the health, both physical, mental, and social so economically and socially productive.
  • Increased public awareness of the preservation and conservation of plants as food and medicine for the survival and increase quality of life.
  • Increased public awareness in safeguarding public health and the tendency to choose an alternative treatment that is relatively more secure.
  • Increased public awareness of the importance of fostering health through healthy lifestyles, use of natural materials and traditional medicine.
Misi
  • Melestarikan warisan tradisi nenek moyang dalam menjaga kesehatan dan kecantikan.
  • Mendorong kemandirian dan pemberdayaan masyarakat untuk hidup lebih sehat.
  • Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga, masyarakat beserta lingkungannya.
  • Mengembangkan penelitian yang berhubungan dengan pengembangan pengobatan dengan bahan-bahan alami.
Mission
  • Preserve ancestral heritage in maintaining health and beauty.
  • Promote independence and empowerment of people to live healthier.
  • Maintain and improve the health of individuals, families, communities and their environment.
  • Develop research related to the development of treatments with natural ingredients.

Pipisan and Gandhik
The making of Jamu herbal drink. It is a predominantly herbal medicine made from such materials such as roots, leaves, bark and fruits.
Pipisan and Gandhik
Old lady preparing a health potion.
Looked like orange juce but tasted not so good.
Bahan Baku Jamu
Jamu Akar Sari
Bahan Baku Jamu
Jamu Akar Sari

JAMU PUSAKA INDONESIA

Jamu Pusaka Warisan Nenek Moyang Asli Indonesia Yang Dijaga dan Dilestarikan Keberadaannya Oleh dan Bagi Anak Putu/Wayah Buyut Canggah Wareng Udheg-udheg Gantung-siwur Gropak-senthe Kandhang-bubrah Debog-bosok Galih-asem Turun-temurun dari Generasi ke Generasi dari Zaman ke Zaman Sepanjang Matahari Masih Bersinar dan Selama Hutan Semak Belukar Rerimbunan Masih Bertumbuh.
Family tree showing the relationship of each person to the orange person. 
Cousins are colored green. 
The genetic kinship degree of relationship is marked in red boxes by percentage (%).
Manusia adalah makhluk yang berbudaya (Syahruddin, 1995). Dengan kebudayaan yang dimilikinya, mereka tidak  hanya mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan, namun manusia juga dapat merubah alam lingkungannya menjadi sesuatu yang berarti dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan kebudayaan berisi seperangkat pengetahuan yang pada gilirannya dapat dijadikan pedoman untuk menanggapi dan menjawab seluruh tantangan alam dan lingkungan baik fisik maupun sosial. Dari sekian banyak pengetahuan yang dimiliki manusia salah satunya adalah pengetahuan yang menyangkut dengan usaha menghindari dan cara menyembuhkan suatu jenis penyakit. 

Setiap manusia pada hakikatnya ingin terhindar dari gangguan apapun. Kondisi abnormalitas dan disfungsi bagian – bagian tubuh maupun mental diupayakan jauh dari kehidupan manusia. Untuk menormalkan dan memfungsikan hidup, manusia harus tetap menjaga tubuh dan pikiran agar tetap sehat (Slamet, 1984). Hidup sehat merupakan satu jaminan untuk dapat bekerja dan memenuhi kebutuhan. Keadaan sehat merupakan suatu keadaan yang sangat dibutuhkan oleh semua orang. Secara individual maupun keluargamanusia mendapatkan keadaan sehat seperti yang diinginkan.  Seseorang yang berada dalam situasi sakit akan mengalami kendala  –  kendala dalam melakukan aktivitasnya sehari – hari.

Dijelaskan bahwa upaya seseorang untuk mendapatkan kesehatan merupakan suatu pranata  khusus yang terus dipelihara dan dikembangkan.  Pada masa primitif, pemahaman dan kepercayaan tentang kesehatan dipengaruhi budaya dan peradaban primitif pula (Foster dan Anderson, 1986:15).  Ketika peradaban berkembang, maka budaya manusia tentang kesehatan juga berkembang. Sekarang, saat teknologi semakin tak terkendalikan, budaya kesehatan manusia mengarah pada budaya rasional tentang kesehatan.

Pengobatan dan penyembuhan dengan sistem altenatif merupakan suatu upaya kesehatan yang berakar pada tradisi yang berasal dari dalam Indonesia yang sistem pengobatannya  berbeda jauh dengan sistem pengobatan dan penyembuhan ilmu kedokteran yang berasal dari luar Indonesia. Pengobatan alternatif adalah pengobatan non Barat, yang terdiri atas pengobatan tradisional ditambah pengobatan lain yang bukan pengobatan Barat modern. Di kalangan ilmuan sendiri, konsep pengobatan alternatif disamakan penggunaannya dengan pengobatan tradisional maupun pengobatan rakyat (Agoes, 1992:60). Pengobatan alternatif adalah pengobatan tradisional yang telah diakui dan terdaftar oleh Pemerintah.

Masyarakat berbagai status menunjukkan kecenderungan menggunakan pengobatan alternatif dalam pengobatannya. Hal ini dikuatkan oleh Nico. S. Kalangie (1994:129) dengan mengatakan bahwa  
“…At the same time it would be foolish to assume that eventually traditional medicine and popular care will die or wither on vine. First of all, jamu tonics and the like are believe in implicity by even educated Indonesian, physician included…”.  
Terjemahan bebasnya adalah 
“…pada saat bersamaan adalah suatu kebodohan jika menganggap pengobatan tradisional dan popular telah ditinggalkan. Terutama semua  jamu dan sejenisnya secara implisit bahkan dipercayai oleh orang Indonesia yang berpendidikan termasuk dokter…”
Prof. Dr. Nico S. Kalangie, SS. adalah seorang pakar di bidang Antropologi Medis. Dilahirkan pada tanggal 22 Desember 1935. Pendidikan S1 diraih tahun 1963 di IKIP MENADO. Gelar doktor (S3) diselesaikannya pada tahun 1980 di University of California, Berkeley, Amerika.
Beberapa publikasi dan karya ilmiah yang ditulis oleh Prof. Dr. Nico S. Kalangie di antaranya adalah: buku berjudul “Kebudayaan dan kesehatan, pengembangan pelayanan kesehatan primer melalui pendekatan Sosio Budaya”, 1994. menulis paper, judul: Suatu kajian umum mengenai pola penyakit dalam konteks perubahan-perubahan sosiobudaya dan lingkungan hidup. Paper, judul: Suatu kajian umum mengenali pola penyakit dalam konteks perubahan-perubahan Sosiobudaya dan Lingkungan hidup, Pasca Sarjana UI.
http://www.ui.ac.id/download/guru_besar/Prof_Dr_Nico_S_Kalangie_SS.pdf
Fenomena tersebut menarik untuk dipahami dan dicermati lebih lanjut. Hal ini dapat memperlihatkan berbagai model pengobatan di luar pengobatan medis yang sudah lazim yang menjadi pilihan – pilihan tertentu masyarakat dalam menjaga kesehatannya. 
Kenyataan tersebut juga memperlihatkan status pengobatan altenatif yang masih diakui keberadaannya dan dapat menjawab berbagai masalah kesehatan. Akhirnya dapat dipahami bahwa pengobatan alternatif juga merupakan sistem pengobatan yang masih sangat dikenal bagi peminatnya.

World Health Organisation (WHO) menyatakan, pengobatan tradisional adalah ilmu dan seni pengobatan berdasarkan himpunan dari pengetahuan dan pengalaman praktek, baik yang dapat diterangkan secara ilmiah maupun tidak, dalam melakukan diagnosis, prevensi dan pengobatan terhadap ketidakseimbangan fisik, mental ataupun sosial. 

Selain dari definisi tersebut, pemerintah Republik Indonesia dalam ”Seminar Pelayanan pengobatan Tradisional Departemen Kesehatan RI (1978), mengemukakan 2 defenisi untuk pengobatan tradional Indonesia yaitu:
  1. Ilmu dan seni pengobatan yang dilakukan oleh pengobatan tradisional Indonesia dengan cara yang tidak bertentangan dengan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai upaya penyembuhan, pencegahan penyakit, pemulihan dan peningkatan kesehatan jasmani, rohani dan sosial masyarakat.
  2. Usaha yang dilakukan untuk mencapai kesembuhan, pemeliharaan dan peningkatan taraf kesehatan masyarakat yang berlandaskan cara berfikir, kaidah-kaidah atau ilmu di luar pengobatan ilmu kedokteran modern, diwariskan secara turun temurun atau diperoleh secara pribadi dan dilakukan dengan cara-cara yang tidak lazim dipergunakan dalam ilmu kedokteran, yang antara lain meliputi akupuntur, dukun/ahli kebatinan, sinse, tabib, jamu, pijat dan sebagainya banyak dijumpai dalam masyarakat.
Pengobatan ataupun penyembuhan yang paling banyak dijumpai di Indonesia baik itu di kota maupun di desa adalah jenis pengobatan alternatif yang berlatarbelakang akar  budaya tradisi suku bangsa maupun agama di Indonesia. Pengobat (curer) ataupun penyembuh (healer) dari jasa pengobatan maupun penyembuhan tersebut sering disebut sebagai tabib atau dukun. Pengobatan maupun diagnosa yang dilakukan tabib atau dukun tersebut selalu identik dengan campur tangan kekuatan gaib ataupun yang memadukan antara kekuatan rasio dan batin.

Salah satu ciri khas pengobatan alternatif di Indonesia adalah penggunaan doa ataupun bacaan-bacaan atau amalan. Dalam praktek diagnosa sangat penting dalam praktek penyembuhan alternatif. Fungsi amalan atau doa dalam sebuah penyembuh sangat bervariasi dalam sebuah penyembuhan. Pada umumnya setiap penyembuh (tabib/dukun) mempergunakan doa atau bacaan. Akan tetapi kadar keagamaannya yang berbeda. Ada yang sekedar seb agai unsur penyembuh utama maupun hanya sebagai komplementer (pelengkap). 

Doa atau bacaan dapat menjadi unsur penyembuh utama ketika dijadikan terapi tunggal dalam penyembuhan. Misalnya saja dengan membaca ayat suci berulang-ulang dapat membawa kesembuhan. Namun doa dan amalan sering tidak menjadi faktor penting dalam sebuah penyembuhan, tetapi hanya sebagai pelengkap. 

Pantangan juga dikenal dalam pengobatan alternatif. Dalam pengobatan modern pantangan berarti suatu larangan untuk mengkonsumsi ataupun merasakan sesuatu yang dapat menambah parah sesuatu penyakit ataupun menghambat proses penyembuhan penyakit. Untuk penyembuhan alternatif yang dimaksudkan dengan pantangan adalah lebih luas maknanya daripada dalam pengobatan modern. Dalam penyembuhan alternatif, pantangan juga berarti aturan-aturan yang harus dijalankan oleh pasien dalam proses penyembuhan maupun paska penyembuhan. Sebab dalam penyembuhan alternatif, pantangan ada yang bersifat rasional maupun di luar akal.

Keesing (1989) mengatakan bahwa pengetahuan yang berada di kepala seseorang merupakan hal yang sudah ada atau terlukiskan dibenak orang tersebut, di mana pengetahuan ini akan membatu orang tersebut untuk bertindak lebih lanjut, dan mengantikan budaya sebagai himpunan pengalaman yang dipelajari. Keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh manusia sebagai mahkluk sosial yang isinya adalah seperangkat model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan yang dihadapinya dan untuk menolong serta menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukan.

Sistem pengetahuan dapat dibagi 2 (dua), yaitu :
1. Sistem pengetahuan realita, yaitu pandangan atau penafsiran terhadap suatu objek yang didasarkan kepada realitas suatu fenomena yang dapat dikaji secara ilmiah dan secara material dapat terasa.2. Sistem pengetahuan non realitas yaitu pandangan atau penafsiran terhadap sesuatu objek yang didasarkan pada sifat tahayul atau mitos yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat setempat (Noerhadi dalam Alfian, 1985: 209)
Pengetahuan realita di dalam pengetahuan masyarakat mengenai pengobatan alternatif di sini adalah pengetahuan masyarakat yang dalam sistem pengobatannya dapat diterima akal dan pikiran dan dikaji secara ilmiah, misalnya pengobatan bekam yang berasal dari Arab,  teknik pengobatan dengan jalan membuang darah kotor atau racun yang berbahaya dari dalam tubuh melalui permukaan kulit. Sedangkan sistem pengetahuan non realita merupakan sistem pengetahuan manusia yang dalam penyembuhannya tidak masuk akal dan di luar realitas manusia, misalnya sistem pengobatan dengan menggunakan tenaga dalam, magic  dan kebatinan. Pengetahuan masyarakat berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya, apalagi dalam pengetahuan mereka mengenai pengobatan alternatif. 

Seperti ungkapan Noerhadi, ia mengungkapkan :
“Dalam penyembuhan penyakit, saya lebih mempercayai dan menyukai pengobatan yang realita, yang telah teruji kebenarannya dan masuk akal. Kalau dukun-dukun gitu saya sama sekali tidak mempercayainya, saya lebih menyerahkan kepada yang di atas saja”.
Pengetahuan masyarakat dalam memilih penyembuhan penyakitnya diperoleh dari pengalaman  serta dorongan lingkungannya yang menghasilkan tingkah laku yang disebut juga dengan budaya (Spradley, 1980). Kebudayaan menentukan sesuatu dapat dikatakan sebagai penyakit atau sesuatu itu tidak dianggap sebagai suatu penyakit. 
Pendefinisian penyakit dalam suatu masyarakat dan kebudayaan berbeda–beda, adanya pendefinisian yang berbeda–beda ini terjadi karena dipengaruhi oleh letak geografis, kondisi  alam dan lingkungan, makanan, pola makan serta kebiasaan makan. 

Menurut Bapak Tabib Suryadi memiliki pandangan tentang maraknya pemanfaatan pengobatan allternatif, khususnya pengobatan alternatif yang dijalankannya. Pada umumnya pengobatan alternatif rata-rata memiliki pandangan yang lebih unik sekaligus manusiawi. Terapi yang diterapkan adalah praktek pengobatan yang mengikutsertakan peran pasien. Pasien dianggap benar-benar sebagai manusia yang tidak hanya butuh kesembuhan, namun juga jauh dari rasa ketakutan. Ia mengambil contoh tentang tindakan operasi. Dokter dianggap terlalu mudah menjustifikasi tindakan operasi (surgery) pada seorang pasien. Padahal masih ada alternatif tindakan lain yang dapat dilakukan. Secara lengkap Bapak Tabib Suryadi mengemukakan: 
”Dokter sekarang terlalu gampang mengatakan harus operasi, padahal operasi itu tidak gampang.. Banyak resikonya dan juga mahal, padahal hasilnya belum tentu, Orang kan, takut kalau dioperasi. Mereka kalau disuruh milih tentu menghindari operasi”.
Hal tersebut menunjukkan bahwasannya tindakan operasi bukanlah pilihan yang populer di masyarakat dan informan juga mengatakan bahwa banyak pasien-pasien yang sebelumnya diharuskan menjalani operasi di rumah sakit kini menjadi pasiennya.

Salah satu unsur yang mempengaruhi seseorang mengambil tindakan untuk memperoleh kesehatan adalah unsur pandangan individu tentang beratnya penyakit yang dideritanya (perceived seiousness). Semakin tinggi kesulitan dan resiko yang kemungkinan dapat ditimbulkan oleh suatu penyakit maka akan mempengaruhi pada semakin besarnya ancaman suatu penyakit (Sarwono; 1997,67). Semakin besarnya ancaman akan mempengaruhi besarnya kemungkinan seseorang akan mengambil tindakan pengobatan.

Seseorang yang merasa lebih terancam terhadap dampak yang timbul dari suatu penyakit akan mengambil tindakan pengobatan yang berbeda dari orang yang akan hanya mendapatkan penyakit yang ringan dan tidak mengganggu bagi hidupnya. Jika suatu penyakit dapat menimbulkan sesutu yang fatal bagi seseorang, misalnya kelumpuhan, kebutaan total, amputasi, ataupun cacat tubuh maka orang tersebut akan cendrung mengambil tindakan pengobatan yang lebih sering dan mendalam. Apabila kemampuan untuk menggerakkan anggota tubuh, mobilitas dan kemampuan untuk menjalankan kegiatan-kegiatan yang utama sudah terancam dan kemungkinan tidak dapat dilakukan lagi, ketakutan, bahkan tekanan kejiwaan yang berat merupakan implikasinya. Artinya ancaman bukan hanya mengakibatkan tekanan psikologis yang merupakan dampak subyektif namun juga dapat meningkatkan kualitas tindakan pengobatan.  

Semakin besar resiko yang dapat ditimbulkan penyakit maka akan dapat  memperbesar ancaman dari penyakit tersebut dan kemudian akan memperbesar pula dorongan untuk melakukan tindakan penyembuhan. Tindakan penyembuhan bukan hanya bersifat peningkatan frekwensi kunjungan ke pengobatan medis semata (profesional sector) maupun tindakan pengobatan sendiri (self medication), namun juga akan memilih semua sistem pengobatan yang ada, tidak tertutup kemungkinan pada sistem pengobatan yang kontradiktif dengan pengetahuan tentang pengobatan. 
Maksudnya adalah ancaman yang besar dapat menghilangkan rasionalitas atau aspek  kognitif dari seseorang. Walaupun seseorang memiliki pandangan subyektif yang ilmiah tentang suatu penyakit maupun penyembuhan dan hanya mempercayai sistem pengobatan Barat yang modern dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, hal itu dapat hilang ketika munculnya ancaman yang besar dari suatu penyakit. Seseorang yang sudah terancam akan cenderung memilih semua kemungkinan penyembuhan yang ada. 

Kadar ancaman suatu penyakit juga berbeda antara satu dengan orang lain, bahkan dapat berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lain yang memiliki budaya yang berbeda. Seseorang yang merasa memiliki peran yang penting di masyarakat, misalnya dalam kedudukannya di lingkungan pekerjaan akan menanggapi ancaman suatu penyakit secara berbeda. Ancaman bukan hanya secara sosial, ancaman psikologis juga mendorong tindakan irrasional dalam hal perilaku sakit. Seseorang yang merasa tertekan jiwanya akan kehilangan pandangan kognitifnya tentang kesehatan. 
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Undang Undang No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan Bab I Pasal 1 Ayat 1
Tekanan-tekanan psikologis kejiwaan dalam hal ini bukan hanya akan berdampak secara psikis semata, namun efek yang dirasakan informan dirasakan berwujud kerusakan pada jaringan tubuh. Hal ini mengakibatkan adanya peningkatan upaya tindakan pengobatan. Melihat ancaman yang semakin besar terhadap hubungan sosialnya mengakibatkan terjadinya penggunaan pengobatan alternatif sebagai pilihan pengobatan.

Stigma yang ada di masyarakat tentang pengobatan alternatif adalah sebagai sistem pengobatan yang bersifat irrasional dan tidak dapat dijelaskan secara ilmiah dalam hal diagnosa dan terapinya. Penggunaan mantera-mantera dan doa dalam praktek penyembuhan alternatif mengakibatkan pandangan yang tidak jelas tentang sistem pengobatan alternatif. Pandangan tentang pengobatan alternatif di Indonesia juga mendukung hal tersebut. Keanekaragaman pengobatan alternatif dengan terapi dan diagnosa yang digunakan belum pernah dijadikan penelitian ilmiah sehingga aspek keilmiahan  (empirisme) pengobatan alternatif Indonesia tidak ditemui (Majalah Kesehatan Masyarakat, 1984:231).

Walaupun demikian kepercayaan terhadap pengobatan alternatif juga menunjukkan perkembangan. Masyarakat tidak mempersoalkan apakah terapi penyembuhan alternatif merupakan praktek yang rasional atau tidak, namun mempercayai ada manfaat  dari penyembuhan non medis ini (Kompas, 1999). 
Pengobatan alternatif merupakan tindakan yang diambil ketika pengobatan lain tidak membawa hasil. Pengobatan alternatif yang dianggap kurang dapat diterima akal sering dijadikan pilihan penting dan masuk ke dalam kesehatan masyarakat, walaupun cendrung bertentangan dengan asas rasionalitas dan logika kedokteran, pengobatan alternatif jelas-jelas dijadikan alternatif pilihan.

Upaya rasionalisasi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor yang pertama adalah  maraknya tawaran dan publikasi tentang pengobatan alternatif. Selain pemanfaatan jamu-jamuan (herb) ataupun ramuan-ramuan telah berkembang pula pada saat ini terapi-terapi pengobatan yang mengutamakan penyembuhan melalui kepercayaan. Unsur-unsur kepercayaan merupakan penemuan baru yang mempengaruhi proses penyembuhan. Di negara-negara Barat sekarang  perkembangannya pengobatan alternatif sangat pesat. Mereka mencanangkan konsep pengobatan ”back to basic”.

Pemanfaatan pengobatan alternatif di dorong oleh berbagai faktor, yakni pengetahuan, kepercayaan maupun pengalaman seseorang tentang penyakit. 
Ketertarikan pada pengobatan di luar medis ini juga mempengaruhi. Ketertarikan akan pengobatan alternatif didasari oleh berbagai unsur. Masyarakat cendrung memanfaatkan pengobatan alternatif bukan hanya disebabkan ongkos (cost) dokter yang begitu mahal dan menggila sekarang., namun ada kepercayaan yang sulit dijelaskan. Walaupun pengobatan ini tidak dapat dijelaskan secara ilmiah dan kemungkinan hanya memiliki efek placebo, namun sekarang banyak pasien yang sampai antri di panti-panti pengobatan alternatif (Kompas, 2006).

Faktor penarik yang dimaksudkan di sini adalah fakta-fakta atau kenyataan yang melekat pada pengobatan alternatif, baik itu terapi yang diterapkan, diagnosanya maupun atribut-atribut yang dipakai. Atribut maupun simbol-simbol dalam pengobatan alternatif terkadang sangat menarik. Selain tidak dijumpai pada  dokter dan di rumah sakit, atribut-atribut tersebut ada yang memiliki keunikan dan dekat dengan pengetahuan masyarakat. Dengan kata lain, alat-alat yang digunakan merupakan alat-alat yang juga dipergunakan orang dalam kehidupan sehari-hari dan alat-alatnya juga sudah modern.

Contoh sikap dokter ketika menerima pasien:
  • Menyilakan masuk dan mengucapkan salam.
  • Memanggil/menyapa pasien dengan namanya.
  • Menciptakan suasana yang nyaman (isyarat bahwa punya cukup waktu, menganggap penting informasi yang akan diberikan, menghindari tampak lelah).
  • Memperkenalkan diri, menjelaskan tugas/perannya (apakah dokter umum, spesialis, dokter keluarga, dokter paliatif, konsultan gizi, konsultan tumbuh kembang, dan lain-lain).
  • Menilai suasana hati lawan bicara
  • Memperhatikan sikap non-verbal (raut wajah/mimik, gerak/bahasa tubuh) pasien
  • Menatap mata pasien secara profesional yang lebih terkait dengan makna menunjukkan perhatian dan kesungguhan mendengarkan.
  • Memperhatikan keluhan yang disampaikan tanpa melakukan interupsi yang tidak perlu.
  • Apabila pasien marah, menangis, takut, dan sebagainya maka dokter tetap menunjukkan raut wajah dan sikap yang tenang.
  • Melibatkan pasien dalam rencana tindakan medis selanjutnya atau pengambilan keputusan.
  • Memeriksa ulang segala sesuatu yang belum jelas bagi kedua belah pihak.
  • Melakukan negosiasi atas segala sesuatu berdasarkan kepentingan kedua belah pihak.
  • Membukakan pintu, atau berdiri ketika pasien hendak pulang.
Unik  berarti lain dari yang lain, yaitu berbeda dengan sesuatu yang umum. Dalam hal ini yang umum adalah sistem pengobatan kedokteran. Sistem pengobatan  yang menggunakan pendekatan biomedik yang selama ini rutin dijadikan rujukan awal dari masyarakat. Daya tarik tersebut bukan hanya muncul sebagai akibat dari pengalaman langsung, akan tetapi juga dapat muncul dari cerita-cerita orang-orang yang telah mengalami atau sebaliknya melihat keunikan tersebut.

Salah satu kekurangan sistem pengobatan ilmiah kedokteran adalah menganggap tubuh dan jiwa sebagai dua bagian yang terpisah. Kedua bagian ini tidak dipengaruhi secara langsung terhadap muncuulnya penyakit. Manusia dianggap sebagai makhluk yang hanya terdiri atas organ biologik. Untuk memahami manusia cukup dengan mengetahui anatomik normal dan patologik, fungsi faal, biofisik, neuro fisik dan patologik dari proses-proses biologik manuusia. Dengan kata lain dalam dunia kedokteran, pada tubuh manusia hanya terdapat proses biokimia saja (Agoes, 1992:133-134). 

Padahal dalam tubuh manusia terdapat dimensi keempat selain fisik, mental dan sosial yaitu spiritual. Unsur spiritual sangat mempengaruhi tubuh manusia. Sehat secara spiritual sama pentingnya dengan sehat secara fisik. Namun karena mengandung pengertian yang tidak berbentuk, tidak berwarna, tidak berbau dan sukar dideskripsikan (undescribable) maka banyak yang tidak menerima unsur ini (Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia, 1985:125).
TM. SURYADI ( 0852 7617 5222 )
Dalam penyembuhan alternatif, unsur mental, sosial maupun spiritual merupakan bagian-bagian yang sering tidak terjangkau oleh dokter. Seperti dalam penyembuhan alternatif modern yang di jalankan Bapak Tabib Suryadi ini. Penyakit yang ditanganinya bukan hanya penyakit fisik saja, namun mental, sosial dan juga spiritual. Penyakit-penyakit ataupun kelemahan-kelemahan tubuh seperti itu ditangani secara teliti dan penyembuhan juga harus dilakukan secara menyeluruh. Misalnya saja penyakit-penyakit mental seperti stress, lemah ingatan, idiot sampai penyakit yang bersifat spiritual seperti kerasukan setan, pelaris, mencabut susuk dan sebagainya.

Melalui komunikasi antara pasien dan penyembuh, akan tercipta hubungan akrab. Pasien yang memiliki masalah di luar sekedar gannguan fisik memerlukan penyembuhan dari gangguan-gangguan  yang bersifat sosial maupun kejiwaan. 
Komunikasi bukan hanya berguna untuk memberikan informasi tentang penyakit, namun lebih luas dari pada itu.
Keluhan-keluhan yang disampaikan seorang pasien jika ditanggapi ataupun didengar sangat berpengaruh. Sebab dengan demikian seorang merasa dihargai apalagi komunikasi yang terjadi dibarengi dengan humor-humor yang membawa keceriaan kepada pasien.
Walaupun konsultasi terjadi secara singkat namun sangat berarti bagi seorang pasien dan membuka kemungkinan untuk mengunjungi penyembuhan pada waktu yang akan datang.
Kemampuan komunikasi tenaga kesehatan dapat berpengaruh dalam kesembuhan pasien. Tenaga kesehatan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan komunikasi yang baik, akan memiliki pengaruh baik pula pada persepsi pasien terhadap pelayanan, kepercayaan, dan tingkat kesembuhan. http://www.unpad.ac.id/archives/43479
Jadi sebenarnya berbicara ataupun berkomunikasi dengan  pasien bukan sekedar sebuah cara untuk mendiagnosa penyakit. Namun seperti yang dilakukan penyembuh bersuku  bangsa Aceh ini adalah lebih dari pada itu. Sebuah komunikasi dua arah penting dilakukan sebagai upaya pendidikan juga. Pasien diberikan pengertian tentang jenis pengobatan alternatif, kenapa penyakit itu muncul maupun cara penanganannya. 

Ketika berada dalam dunia kedokteran saya mendapat ilmu dari kuliah dosen patologi anatomi saya bahwa memang saat ini pengobatan yang dapat menghilangkan kanker secara pasti memang belum ditemukan. Tapi hal tersebut tidak memustahilkan bahwa kanker bisa sembuh. Karena dosen saya pernah berpengalaman menyembuhkan seorang kanker hanya dengan placebo!  Ketika saya bertanya kenapa bisa seperti itu ternyata dosen saya hanya memberi kan keyakinan bahwa jika ia yakin kanker yang ada di tubuhnya bisa sembuh maka ia akan sembuh. Dan memang benar keyakinan itu yg membuat penderita itu sembuh walaupun tanpa melakukan kemoterapi sekalipun. Ajaib memang, tapi ini nyata , ketika sugesti dapat meningkatkan self-defending dari tubuh kita lebih dari biasanya dan meningkatkan jumlah sel natural killer alami dari tubuh kita yang diketahui dapat membunuh sel kanker.
Kalangie (1994:25) mengatakan bahwa sistem perawatan kesehatan adalah usaha memelihara kesehatan mencakup berbagai kegiatan yang satu dengan lainnya berkaitan dan merupakan respons  – respons terhadap penyakit dan yang terorganisasi secara sosial budaya dalam setiap masyarakat. Sedangkan menurut Foster dan Anderson (1986:46), sistem perawatan kesehatan adalah suatu pranata sosial yang melibatkan interaksi antara sejumlah orang, sedikitnya pasien dan penyembuh. Fungsi yang terwujudkan dari suatu sistemperawatan kesehatan adalah untuk memobilitasi sumber – sumber daya pasien, yakni keluarganya dan masyarakatnya, untuk  menyetarakan mereka dalam mengatasi masalah tersebut.

Manjur tidaknya sebuah obat yang diminum ternyata ikut dipengaruhi oleh kekuatan pikiran. Jika kita yakin obat tertentu tidak berkhasiat mengatasi penyakit, maka hal itu bisa menjadi kenyataan. Sebaliknya, khasiat suatu obat bisa ditingkatkan jika kita bisa memanipulasi pikiran.
Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Science Translational Medicine membuktikan hal tersebut. Penelitian dilakukan terhadap 22 pasien sehat yang diberi rangsang nyeri berupa alat pemanas yang ditempel ke kulit kaki. Dalam skala 1-100, rata-rata pasien menilai nyeri tersebut memiliki skor 66.
Kemudian para pasien diberi obat pereda nyeri yang cukup kuat, yakni remifentanil, yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah. Namun para pasien tidak diberitahu jenis obatnya dan mereka menilai skor nyeri berkurang menjadi 55 setelah mendapatkan injeksi. Kemudian setelah diberi tahu yang disuntikkan adalah pereda sakit, skor nyeri kembali turun menjadi 39.
Selanjutnya, tanpa mengubah dosis, para peneliti memberitahu bahwa obatnya dihentikan. Serta merta skor nyeri mereka naik menjadi 64.
Dengan kata lain, meski pasien diberi obat remifentanil mereka tetap merasakan nyeri seperti halnya jika tidak diberi obat sama sekali.
"Obat pereda nyeri yang kami berikan padahal termasuk obat analgesik paling baik tapi efeknya bisa berkurang atau bisa dibilang dihilangkan karena pengaruh pikiran," kata profesor Irene Tracey dari Universitas Oxford yang melakukan riset ini.
Sugesti yang positif ternyata memengaruhi aktivitas otak di bagian yang berbeda dengan aktivitas yang berasal dari sugesti negatif. Hasil penelitian ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai keakuratan studi klinis dalam menentukan efektivitas obat.
Para peneliti juga menyarankan pasien penyakit kronik yang sudah bertahun-tahun mengonsumsi obat untuk membuang sugesti-sugesti negatif demi kesembuhannya.

Kepercayaan pasien terhadap penyembuh sangat dibutuhkan saat penyembuhan berlangsung hingga pasien sembuh, agar kesehatan pulih seperti yang kita inginkan. 

>>> Daftar Jamu Godog Kendhil Kencana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar