Jumat, 10 Februari 2012

JAMU 10 - PENGOLAHAN OBAT HERBAL (Medicinal Plant)



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI


Ada beberapa teknik mengolah tanaman obat, yaitu dengan cara merebus, menyeduh, membuatnya sebagai serbuk, atau ekstrak tanaman obat yang sudah dikapsulkan.

Sadar atau tidak, seberapa besar pengaruh obat herbal bagi tubuh kita terutama untuk tujuan pengobatan, ternyata juga dipengaruhi oleh bentuk sajian obat herbal yang kita konsumsi.

Mari kita simak satu-persatu aneka teknik pengolahan obat herbal dan melihat bagaimana hal itu berpengaruh besar dalam proses pengobatan herbal yang sedang kita jalani.

Obat Herbal dan Aneka Teknik Pengolahannya

Merebus atau Menggodok Obat Herbal

Karena alasan kepraktisan, beberapa orang lebih menyukai pengolahan obat herbal dengan cara merebus atau menggodoknya berdasarkan resep para herbalis dan mungkin sedikit dimodifikasi dengan tambahan bahan lain untuk menambah cita rasa, tentunya dengan persetujuan herbalis.

Namun, perlu diketahui bahwa ada hal-hal yang perlu diperhatikan ketika merebus atau menggodok obat herbal. Dalam buku Herbal Indonesia Berkhasiat, Bukti Ilmiah & Cara Racik, terbitan Trubus, disebutkan bahwa ketika merebus bahan herbal, pemakaian wadah penting untuk diperhatikan.

Wadah dari besi dan alumunium tidak disarankan karena racun yang dikeluarkan bahan tersebut bisa mencemari ramuan herbal yang sedang dibuat sehingga dapat mengurangi khasiatnya dan bahkan bisa meracuni Anda. 

Maka, penting untuk mengetahui alat atau wadah yang cocok untuk merebus atau menggodok herbal. Alat untuk merebus herbal yang dianjurkan adalah yang anti karat, tanah liat, kaca, atau email.

Menyeduh Obat Herbal

Cara pengolahan praktis lainnya yang sering dilakukan oleh orang-orang adalah dengan cara menyeduh, yakni herbal dicampur dengan air panas tanpa proses pemasakan. Ini biasanya digunakan untuk konsumsi herbal asal bunga, contohnya rosella dan daun segar. Seduhan juga biasa dilakukan pada herbal berbentuk serbuk. Serbuk bisa dibuat dari murni tanaman tunggal atau campuran dari beberapa jenis herbal.

Ekstraksi Obat Herbal yang Dikapsulkan

Ekstraksi adalah proses mengisolasi senyawa aktif dari tanaman obat dengan menggunakan pelarut seperti etanol. Dalam proses ekstraksi, dibutuhkan banyak bahan baku untuk mendapatkan senyawa aktif yang cukup dari proses tersebut. Misalnya, dari satu kilogram bahan tanaman obat hanya dapat diperoleh sekitar satu miligram senyawa aktif yang dapat dimanfaatkan dengan optimal sebagai obat.

Tak heran, produk obat herbal yang sudah diekstraksi biasanya terlihat mencolok di pasaran karena harganya yang relatif lebih mahal dibandingkan bentuk sajian herbal lainnya. Meskipun begitu, Anda tidak akan dikecewakan oleh manfaat yang dihasilkannya karena tanaman obat (herbal) yang sudah diekstraksi pengaruhnya jauh lebih kuat dan lebih aman untuk ginjal karena sudah berupa senyawa aktif sehingga tidak dibutuhkan waktu yang lama bagi tubuh untuk mencerna dan merasakan khasiatnya.

Peneliti obat-obatan alami dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Dr Subagus Wahyuono mengatakan, "kandungan senyawa aktif berkaitan dengan daya sembuh tanaman tersebut ketika sudah diolah menjadi obat (herbal). Semakin tinggi senyawa aktifnya, semakin cepat pula obat tersebut menyembuhkan penyakit."

Keunggulan lain, hasil ekstraksi tanaman obat biasanya dikapsulkan agar lebih praktis. Dengan pengkapsulan, masa simpan obat lebih tahan lama, lebih higienis, dan lebih aman karena terlindungi oleh selongsong kapsul. Yang tak kalah penting, obat herbal yang telah dikapsulkan telah terukur dosisnya sehingga sangat tepat digunakan dalam pengobatan.

"Mana yang Lebih Baik untuk Saya?"

Ya, ada banyak teknik pengolahan herbal yang dapat digunakan. Namun, patut diingat bahwa penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi. Menurut pakar naturopati Dr. Amarullah Siregar, pada dasarnya pemanfaatan herbal bisa disesuaikan dengan selera masing-masing. Bila bertujuan untuk menjaga kesehatan, rebusan sederhana dapat dikonsumsi dengan catatan tidak adanya riwayat penyakit tertentu.

Tapi, racikan herbal sederhana tidak cukup lagi kalau sudah ada kelemahan dalam tubuh, baik karena faktor genetik atau memang mengidap penyakit tertentu. Karena itu, agar memberikan manfaat optimal, obat herbal yang dikonsumsi untuk pengobatan sebaiknya sudah dalam bentuk ekstrak serta sudah terukur dosisnya. Mengapa? Sekali lagi, tanaman obat (herbal) yang sudah diekstraksi pengaruhnya jauh lebih kuat dan lebih aman untuk ginjal.

Jika Anda sedang mempertimbangkan pengobatan herbal, artikel berikut dapat membantu Anda membuat pilihan yang tepat. Teruskan membaca di halaman Mempertimbangkan Pengobatan Herbal.





Minim, Produksi Senyawa Aktif Tanaman Obat

Peneliti obat-obatan alami dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Dr Subagus Wahyuono mengatakan, meskipun jumlah tanaman herbal di Indonesia melimpah tetapi senyawa aktif yang dapat dihasilkan relatif sedikit.
"Misalnya dari satu kilogram bahan tanaman obat hanya diperoleh sekitar satu miligram senyawa aktif yang dapat dimanfaatkan dengan optimal," katanya di Yogyakarta.
Ia mengatakan, kandungan senyawa aktif berkaitan dengan daya sembuh tanaman tersebut ketika sudah diolah menjadi obat. Semakin tinggi senyawa aktifnya, semakin cepat pula obat tersebut menyembuhkan penyakit.
"Dua hal penting dari pengembangan obat herbal yakni terkait dengan teknologi untuk memperbanyak senyawa aktif dan kerangka dari senyawa aktif sehingga  dapat diperoleh dalam jumlah besar," katanya.
Subagus yang juga Wakil Dekan Bidang Penelitian Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan masalah tersebut dapat disiasati dengan pengembangan bioteknologi untuk memperbanyak senyawa aktif maupun kerangka senyawa aktif.
"Namun masalahnya riset bioteknologi memerlukan biaya yang cukup besar," katanya.
Menurut dia, pengembangan penelitian tentang obat-obatan alami penting dilakukan karena  melimpahnya jumlah tanaman obat di Tanah Air. Sebuah penelitian bahkan menyebutkan 80 persen obat berasal dari bahan alam.
"Potensi tanaman obat di Indonesia sangat melimpah, seperti temulawak, kunyit, buah maja, dan umbi tanaman sarang semut," katanya.
Ia mengatakan obat-obatan alami merupakan solusi bagi ketergantungan Indonesia pada obat-obatan konvensional yang diproduksi negara lain.


>>> Daftar Jamu Godog Kendhil Kencana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar