Kamis, 23 Februari 2012

Jamu Gendong 20 - Kampung Jamu Dusun Kiringan 2



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI
DUSUN KIRINGAN PUSAT JAMU GENDONG DI KABUPATEN BANTUL
Antara jam 07.00-08.00 merupakan saat sibuk karena pada jam-jam itu umumnya orang hendak berangkat bekerja maupun sekolah. Demikian juga yang terjadi di Dusun Kiringan, Canden, Jetis, Bantul. Dusun yang kelihatan menyudut keletakannya di sisi selatan-timur wilayah Kalurahan Canden ini tampak bersemangat seiring dengan munculnya sinar matahari pagi. Semangat ini nampak memancar dari wajah-wajah kaum ibu yang keluar dari dusun itu sambil membawa sekian botol, panci, batok, saringan, ember, dan sekian macam ramuan jamu. Maklum Dusun Kiringan memang dikenal sebagai sentra pengrajin jamu gendong di wilayah Bantul. Jadi, jika Anda masuk ke dusun ini dan melihat ada beberapa ibu menggendong jamu, itu bukan merupakan pemandangan yang aneh.
Kini ketika alat transportasi sudah demikian maju, cara membawa atau menjajakan jamu tersebut kebanyakan sudah dengan menggunakan kendaraan. Baik dengan sepeda onthel maupun sepeda motor. Sekalipun demikian masih ada juga beberapa kaum ibu dari dusun ini yang menjajakan jamunya dengan cara digendong. Masing-masing penjual jamu gendong sudah memiliki area pemasaran sendiri-sendiri.
Kiringan, Canden, Jetis, Bantul memang dikenal sebagai pusat pengrajin jamu gendong. Pada awalnya, yakni pada sekitar tahun 1950-an hanya ada 1-2 orang ibu-ibu yang menjadi pengrajin jamu gendong di wilayah ini. Akan tetapi usaha ini kemudian diikuti oleh ibu-ibu yang lain. Lambat laun semakin banyak pengrajin jamu gendong di wilayah dusun ini. ”Kini ada 115 orang pengrajin jamu gendong di Dusun Kiringan. Sekian ratus orang pengrajin jamu ini terbagi dalam 4 kelompok. Semuanya tergabung dalam Koperasi Seruni Putih, yakni sebuah koperasi binaan Yayasan Mitra Pranata dan Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul.” Demikian tutur Ibu Sudiatmi (48) selaku Kepada Dusun di Kiringan.
Mengapa banyak kaum dari Dusun Kiringan ini berprofesi sebagai bakul jamu gendong ? ”Karena desakan ekonomi.” Jawab Ibu Sudiatmi. Oleh karena itu tidak aneh juga jika yang menjadi penjual atau pengrajin jamu gendong di wilayah ini umumnya juga kaum ibu (bukan gadis). Tidak aneh jika usia rata-rata kaum ibu yang menjadi penjual jamu di wilayah ini sekitar 22-60 tahun. Umumnya kaum ibu ingin membantu suaminya untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga karena umumnya pria di Dusun Kiringan berprofesi sebagai petani penggarap, petani dengan lahan kecil, buruh/tukang.
”Umumnya wanita-wanita yang masih gadis merasa malu untuk berjualan jamu sekalipun mereka tahu soal jamu-jamuan dan bisa meramu jamu seperti kaum ibu-ibunya.” Demikian Ibu Sudiatmi yang sejak 1990 telah menjabat sebagai Kepala Dusun Kiringan menambahkan keterangan. Jika ditanya kenapa kok belum tertarik untuk memproduksi jamu, umumnya mereka akan menjawab nanti kalau sudah berkeluarga dan tidak bekerja lagi di pabrik atau kantor.
Bahan untuk ramuan jamu gendong sangat mudah didapatkan. Untuk rempah-rempah (daun-bunga-kulit-akar) biasanya dikulak di Pasar Beringharjo. Sedangkan untuk bahan yang berupa empon-empon (umbi/rimpang) biasanya dikulak di Pasar Imogiri. Untuk sekali masa jualan (sehari) umumnya para penjual atau pengrajin jamu membutuhkan bahan berupa empon-empon sebanyak 1-2 kilogram sementara untuk bahan yang berupa rempah-rempah mereka membutuhkan sebanyak ½ kilogram. Dalam sekali berjualan itu modal yang dibutuhkan sekitar 50.000-100.000 rupiah. Dari modal sekian itu hasil yang bisa diperoleh sekitar 10.000-200.000 rupiah. Dengan begitu dapat diperkirakan bahwa penghasilan bersih dari berjualan jamu gendong ini sekitar 50.000-100.000 rupiah.

Bahan baku jamu yang akan dijual umumnya sudah dipersiapkan sejak sore hingga tengah malam dan dijual pada saat pagi hari. Penyiapan bahan baku ini meliputi pemilihan bahan, pengupasan, pencucian, perajangan, penggilingan/pemipisan dan peramuan. Proses pembuatan jamu gendong di wilayah ini semuanya masih menggunakan cara-cara tradisional. Ada pun jenis-jenis jamu yang dijual umumnya berupa beras kencur, kunir asam, cabe puyang, watukan, pilis, uyub-uyub, pahitan, dan sebagainya. Dari sekian jenis jamu ini beras kencur, kunir asam, dan cabe puyang merupakan jenis jamu yang paling banyak peminatnya.

Sampai saat ini belum ditemukan hambatan atau keluhan apa pun berkaitan dengan produksi jamu gendong di Kiringan ini. Hambatan yang rutin datang hanyalah musim penghujan. Biasanya kalau tiba saat musim penghujan para pengrajin jamu di wilayah ini untuk sementara akan menghentikan kegiatannya. Hal itu dilakukan karena pada musim penghujan umumnya orang enggan meminum jamu. Lain halnya jika pada musim kemarau.

Saat ini jumlah KK di Dusun Kiringan mencapai 214. Jika di dusun itu terdapat 115 pengrajin jamu, bisa diduga bahwa hampir separo ibu-ibu di dusun itu berprofesi sebagai bakul jamu gendong. Hal ini merupakan potensi yang besar bagi Kiringan dan Bantul. Tidak mengherankan jika Kiringan menjadi salah satu andalan Pemkab Bantul untuk mengisi berbagai event yang berkait dengan penjualan maupun wisata. Ke depan jamu dari Dusun Kiringan akan selalu dihadirkan dalam moment-moment Lomba Perahu Naga di Bendung Tegal, Jetis, Bantul. Selain itu pada berbagai event jamu gendong dari Kiringan juga ditampilkan seperti event Bantul Expo, Lomba Kuliner, Peringatan Hari Jadi Kabupaten Bantul, dan lain-lain.

Kegigihan ibu-ibu di Dusun Kiringan untuk ikut meningkatkan kesejahteraan keluarga ini patut diapresiasi. Dengen keterlibatan mereka dalam urusan ekonomi keluarga menunjukkan bahwa mereka tidak mau berpangku tangan. Mereka sadar bahwa urusan kesejahteraan ekonomi bukan menjadi tanggung jawab tunggal kaum pria (suami). Tidak jarang pendapatan dari berjualan jamu justru sering menjadi tiang utama ekonomi keluarga yang bersangkutan.

Jamu gendong produksi Dusun Kiringan ini ketika dijual dikemas dalam bentuk jadi dan setengah jadi. Bentuk jadi tersebut misalnya beras kencur dan kunir asam yang telah dikemas dalam botol dan tinggal dituangkan jika ada yang membeli. Sedangkan bentuk setengah jadi umumnya berupa adonan ramuan yang belum diencerkan atau dicampur dengan air. Jika ramuan jamu sudah diencerkan sejak dari rumah, maka rasa jamunya tidak lagi fresh. Demikian alasannya. Dengan demikian, jika ada orang yang menghendaki jamu selain kunir asam dan beras kencur, orang tersebut akan menunggu beberapa detik agar penjual jamu menyiapkan racikannya lebih dulu..

a sartono

Kampung Jamu Kiringan Perlu Segera Regenerasi
Jika regenerasi tak cepat dilakukan, Dusun Kiringan, Canden, Jetis, Bantul, beberapa tahun ke depan bisa saja tak lagi menyandang predikat kampung jamu.

Saat ini, dari 250-an keluarga di Kiringan, 118 ibu berprofesi sebagai bakul jamu di Kiringan. Mereka yang tergabung dalam Koperasi Seruni Putih ini, semuanya para ibu dengan usia 30-60 tahun. Hanya terdapat 15 orang yang usianya 25-30 orang.

Minat generasi muda menggeluti jamu, seperti kata Umi Muslimah (36), ketua koperasi, belum terlihat. Anak-anak muda masih gengsi. Bakul jamu yang usianya muda, melirik profesi ini karena setelah menikah, terpaksa membantu perekonomian keluarga, katanya, Rabu (1/4).
Faktor ekonomi memang alasan kuat, mengingat mayoritas suami bakul-bakul jamu ini bekerja dengan gaji pas-pasan. Partilah yang hanya lulusan SD ini bisa dibilang justru berpenghasilan lebih stabil ketimbang suaminya yang sebagai buruh bangunan. Sehari, paling tidak ia bisa mengantongi keuntungan bersih Rp 50.000.

Namun, potensi ini tetap belum terlirik generasi muda. Dua anak perempuan Partilah (49), salah satu bakul jamu, belum tertarik. Demikian juga Siti (25), anak perempuan Wiji (50). "Belum, lah. Nanti... ," begitu jawab Siti ketika ditanya. Padahal dia sebenarnya bisa meramu jamu.
Umi menyebut, regenerasi harus cepat dilakukan agar profesi turun-temurun ini tidak terputus. Namun diakui, jamu tidak ngetren bagi anak muda yang masih gengsian. Jika sudah kepepet, baru lah profesi ini diambil. Mengajak orang untuk rutin minum jamu saja sulit, apalagi mengajak untuk membuat jamu yang prosesnya butuh ketelatenan, ditambah harus berjualan keliling dusun.

Padahal, potensi jualan jamu lumayan. "Kalau saya muter, jamu pasti habis. Pelanggan pasti sudah menunggu, kok Mbak Wiji belum nongol. Hahaha... ," ujar Wiji, Rabu (1/4). Satu gelas jamu dijual Rp 1.500-Rp 2.500.

Wiji melakoni profesi sebagai pembuat sekaligus penjual jamu sejak hampir 40 tahun lalu. Dia mewarisi keahlian meramu jamu dari ibunya. Eyangnya pun, dulu juga pembuat dan penjual jamu. Jika dikira-kira, berarti eyangnya sudah berjualan jamu sejak sebelum kemerdekaan.

Saking terkenalnya, menurut Partilah , banyak pelanggan percaya total akan rasa dan kualitas ramuan dari para pembuat jamu di Kiringan. Tapi memang jamunya dijamin enak. Sehingga sebagian bakul jamu di sana pun, cukup beredar di wilayah Bantul.

Wiji, dengan sepeda onthelnya, bisa membawa 15 liter jamu, bekeliling ke sejumlah dusun di Jetis. Sedangkan Partilah, yang merasa berat untuk membawa 20 liter jamu, beberapa bulan ini berkeliling dengan motor. "Biar cepat," ujar Partilah.

Partilah biasanya berangkat pukul 08.30 dan pulang pukul 18.00. Namun aktivitas meramu jamu sudah dimulai subuh, sekitar pukul 03.00. Biasanya ia dibantu suami dan anaknya mengupas bahan-bahan dan mengahuskannya. Urusan jualan, sendirian.
Menikmati jamu bikinan mereka, harus sedikit bersabar. Mereka tidak membawa jamu siap saji alias langsung tuang dari botol, karena meramu dulu bahan-bahannya. Partilah menyebut, jamu lebih segar jika bahan-bahan diramu (dijur) sebelum diminum.

Dusun Kiringan, Desa Canden, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta




Canden adalah desa di kecamatan Jetis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.
Desa Canden terdiri dari 15 pedukuhan, yaitu :
  1. Bendono
  2. Bulusan
  3. Canden
  4. Gadungan
  5. Gadungan Kepuh
  6. Jayan
  7. Kiringan
  8. Kralas
  9. Ngibikan
  10. Plembutan
  11. Pulokadang
  12. Srayu
  13. Suren Kulon
  14. Suren Wetan
  15. Wonolopo

>>> Daftar Jamu Godog Kendhil Kencana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar