Minggu, 19 Februari 2012

Dosis sola venenum facit 5 - Takaran Menyebabkan Racun - Saya ke Dokter, T'api ngGak Butuh Obat Dok!



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI

Saya ke Dokter, T'api ngGak Butuh Obat Dok!

Mumpung lagi ada waktu, buruan menulis yang sudah ingin ditulis beberapa hari yang lalu. Bermula dari obrolan dengan teman yang kebetulan sama-sama dokter. Teman tersebut menceritakan pasiennya yang protes: "Dok, saya harus bayar juga ya? Kan saya cuma tanya-tanya doang."

Pertanyaan yang sekilas berkesan wajar, namun cukup merepresentasikan persepsi keliru masyarakat kita. Ketika seorang sakit, ia pasti ingin sembuh. Ia butuh kesembuhan. Kalau tidak sembuh, ia ke dokter. Kenapa ke dokter? Banyak yang akan menjawab, supaya dapat obat. Ya, ini juga persepsi saya sebelum saya belajar ilmu kedokteran.

Persepsi yang keliru tersebut ternyata sebagian besar juga disebabkan oleh istilah yang dipakai untuk menggambarkan hubungan dokter-pasien. Istilah tersebut adalah 'berobat' dan 'pengobatan'. Dengan segera kita dapat melihat kata dasar dari 'berobat' dan 'pengobatan' adalah 'obat', sehingga bukan salah masyarakat pula bila berobat ya harus dapat obat. Kalau tidak dapat obat, tentunya bukan berobat namanya.

Istilah 'berobat' sendiri sebenarnya tidak sejalan dengan arti kata dokter. Dokter tidak mengandung arti seseorang yang memberikan obat. Bahkan tidak berarti seseorang yang menyembuhkan. Dokter berasal dari bahasa latin 'docere' yang mengandung arti seorang yang mengajar (mungkin ini juga akar kata dosen? Saya tidak tahu kalau mengenai ini). Jadi pasien ke dokter seharusnya tidak untuk mendapat obat, melainkan untuk 'diajar'.
Why “DOCERE” ?
In searching for a name that would convey our message, we looked to the origins of medicine, attempting to define the heart of medicine, before it was affected by the healthcare industry. In gazing back at the core of what founded the principles of medicine and the virtues of “old time” physicians, we came across the word that clarifies our mission. “Docere” which is the Latin origin of the word “doctor” appropriately means “to teach.” Even the earliest physicians understood that education and prevention were the foundation of health and wellness. What could be more appropriate for a practice that is attempting to go back and deliver the original style of medicine than to name itself after the origin of the word “doctor.”

Di luar negeri istilah yang dipakai adalah consultation. Jadi pasien datang ke dokter untuk konsultasi. Tidak heran bahwa sering pasien luar negeri kemudian pulang dari dokter dengan tangan hampa, namun justru ini yang lebih benar dan menyehatkan pasien.
Consultation (doctor), a formal meeting with a medical doctor for discussion or the seeking of advice.

Lho kok gitu? Ada beberapa alasan. Alasan pertama bahwa semua obat sebenarnya 'pisau bermata dua'. Selain memiliki khasiat, ia juga memiliki efek samping yang merugikan. Ada obat yang efek sampingnya sedikit, ada yang banyak, tapi para ilmuwan sudah jelas mengatakan bila obat dikatakan 100% aman, maka dapat dipastikan obat tersebut 100% tidak memiliki efek apa-apa pada tubuh. (Bahkan air putih dan nasi pun memiliki efek merugikan bila dikonsumsi tidak sesuai aturan). Paracelsus pada tahun 1564 bahkan menyatakan suatu pernyataan yang keras: "Semua obat adalah racun, yang membedakannya adalah dosis dan cara penggunaannya."

Jadi, bila tidak digunakan dengan sesuai, obat adalah racun.

Alasan kedua, mengapa obat tidak harus selalu diberikan, adalah tidak semua penyakit membutuhkan obat. Beberapa penyakit akan sembuh dengan sendirinya karena sistim pertahanan tubuh atau karena memang virusnya akan mati dengan sendirinya.

Diare misalnya, sebenarnya merupakan mekanisme tubuh untuk mengeluarkan racun dari saluran pencernaan. Diare yang belum mencapai tujuh hari sebenarnya tidak membutuhkan obat, karena akan sembuh sendiri. Yang diperlukan hanyalah cairan pengganti agar tubuh tidak dehidrasi.

Demikian dengan flu, yang diperlukan hanyalah makan yang bergizi, minum banyak dan istirahat. Bahkan Food and Drug Administration (FDA/ Badan POM Amerika) tidak merekomendasikan obat flu untuk anak di bawah 2 tahun. Mereka merekomendasikan banyak minum atau pemberian sup ayam saja (lucu? Tapi memang harus demikian!).

Penyakit yang lain, seperti kebanyakan penyakit otot dan sendi sering hanya membutuhkan latihan dan informasi-informasi mengenai posisi dan postur tubuh dalam beraktivitas.

Jadi kalau obat memiliki efek yang merugikan, kenapa harus diminum bila tidak dibutuhkan?

Lalu kalau begitu, untuk apa ke dokter? Tentu saja setelah mengetahui fakta-fakta mengenai obat dan penyakit, pola pikir harus diubah. Ke dokter bukan hanya untuk obat saja, tetapi untuk informasi mengenai penyakit, bagaimana supaya sembuh dan bagaimana supaya tidak sakit lagi. Itu yang lebih penting daripada obat.

Obat yang tepat memang merupakan suatu cara untuk mencapai kesembuhan, tapi hanya merupakan bagian kecil. Cara lain untuk sembuh adalah pola hidup yang sehat seperti makanan yang sehat, istirahat yang cukup, kebiasaan hidup yang sehat dan sebagainya.

Jadi kalau lain kali 'berobat', jangan kaget kalau pulang dengan tangan hampa. Tidak apa-apa pulang dengan tangan hampa, yang penting kepala sudah terisi bukan.



>>> Daftar Jamu Godog Kendhil Kencana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar