Sabtu, 03 Maret 2012

JAMU: Kearifan Lokal Nusantara 10 - Perlakukan Herbal seperti Obat Kimia



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI
Perlakukan Herbal seperti Obat Kimia

Obat tradisional dapat digunakan untuk aspek promotif, preventif, kuratif, bahkan paliatif dalam kesehatan. Tetap memerlukan keahlian dan pengetahuan untuk penggunaan secara tepat.

Secarik kertas resep itu tidak bertuliskan nama paten atau generik sebuah senyawa kimia melainkan nama tumbuhan yang mungkin lebih sering menghuni dapur : lempuyang, temu putih, dan sebagiannya. Dan jangan heran, penulisnya tetap seorang dokter dengan latar belakang ilmu medis yang juga biasa menulis resep-resep obat dengan nama kimia sebuah senyawa. Kenapa menulis resep herbal?

Ketika pertanyaan itu dilontarkan kepada Dr. Hardhi Pranata Sp,S, MARS, ia justru menjawab dengan balik bertanya, "Mengapa dokter di Indonesia tidak mau menggunakan herbal dalam pengobatan?" Hardhi memaparkan, cukup banyak ramuan obat-obatan yang telah teruji khasiatnya sudah dipergunakan selama turun temurun di masyarakat Indonesia. Jadi, obat tradisional tersebut telah teruji secara empiris.

Namun, masyarakat memang lebih mengenal obat tradisional sebagai jamu. Di lain sisi, bidang kedokteran mengajarkan ilmu kedokteran barat yang harus memberikan pengobatan dengan dasar yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Maka, yang perlu dilakukan adalah mendorong penelitian herbal atau jamu agar lebih memiliki bukti secara ilmiah. Saat ini, Balitbang Kementrian Kesehatan sudah mengembangkan Program Saintifikasi Jamu, yakni upaya dan proses pembuktian ilmiah jamu.

R/ Nattokinase cap XXX s3ddI
R/ Centella Asiatica (500 mg) cap XXX s3ddI
R/ Kunyit Putih (500 mg) cap XXX s3ddI
Pro Tn. Mahmud

Nattokinase (pronounced nat-oh-KY-nase) is an enzyme extracted and purified from a Japanese food called nattō. Nattō is a food made from fermented soybeans that has been eaten in Japan for many years. Nattō is produced by fermentation by adding the bacterium Bacillus natto, a beneficial bacteria, to boiled soybeans. The resulting nattokinase enzyme is produced when the bacterium acts on the soybeans. While other soy foods contain enzymes, it is only the nattō preparation that contains the specific nattokinase enzyme.
Nattokinase is sometimes promoted in the alternative medicine community as a clot-buster and blood thinner or as a substitute for daily aspirin therapy. However, this substitution is not recommended since there is no evidence that nattokinase is effective in preventing cardiovascular disease. Nattokinase may interact with aspirin to increase the risk of intracranial hemorrhage.
Nattokinase has been effectively marketed by Kenrico in a patented product that prevents cell damage or apoptosis. Sold under the trade name Lexirin, it is derived from fermented soybean to address gastrointenstinal disorders, dermatological conditions, and immunodeficiencies.
There is also evidence of nattokinase being effective in catabolism of toxic amyloid fibrils associated with Alzheimer's Disease.
http://en.wikipedia.org/wiki/Nattokinase

Upaya penelitian dan saintifikasi herbal memang harus dilakukan secara serius. Jika tidak, negara lain dapat mengambil peluang ini. Hardhi mencontohkan, Amerika telah mematenkan temulawak sebagai obat anti kanker, stroke, dan obat hati. Padahal, temulawak berasal dari Indonesia.

Obat tradisional, selayaknya mendapat tempat, karena dapat digunakan secara promotif, preventif, kuratif, bahkan paliatif setelah penyakit pasien tidak mungkin disembuhkan. Dalam suatu ramuan obat tradisional umumnya terdiri dari beberapa jenis tanaman obat yang memiliki efek saling mendukung satu sama lain untuk mencapai efektivitas pengobatan. Formulasi dan komposisi ramuan tersebut dibuat setepat mungkin agar tidak menimbulkan kontra indikasi, bahkan harus dipilih jenis ramuan yang saling menunjang terhadap efek yang dikehendaki. Dalam makalah mengenai tingkat manfaat, keamanan, dan efektifitas Tanaman Obat dan Tanaman Obat Tradisional yang dikeluarkan Balitbangkes Kementrian Kesehatan mencontohkan, herma timi (Tymus serpylum) sebagai salah satu ramuan obat batuk hitam. Herba timi diketahui mengandung minyak atsiri yang terdiri dari tymol dan kalvakrol serta flavonoid. Tymol berfungsi sebagai ekspektoran untuk mencairkan dahak dan kalvakrol sebagai antibakteri penyebab batuk, sedangkan flavon polimetoksi sebagai penekan batuk non narkotik sehingga dapat mengurangi frekuensi batuk penderita.

Ramuan obat tradisional juga memiliki efek sinergisme yaitu terdapat beberapa senyawa aktif yang memiliki efek sama atau serupa. Misalnya pada daun kumis kucing yang memiliki kandungan flavonoid polimetoksi serta saponin dan garam kalium yang semuanya memiliki efek diuretik. Demikian pula pada rimpang jahe yang mengandung zingeron dari minyak atsiri dan gingerol dari zat pedas, yang keduanya memiliki efek antimual dan telah dibuktikan dengan uji klinik pada manusia.

"Obat tradisional juga lebih sesuai untuk penyakit metabolik dan degeneratif," kata Hardhi. Penyakit-penyakit seperti diebetes, hiperlipidemia, obesitas, hipertensi, reumatik, dsb, memerlukan pemakaian obat dalam waktu lama sehingga jika menggunakan obat modern dikhawatirkan terdapat efek samping yang terakumulasi terus menerus dan dapat merugikan kesehatan. Oleh karena itu, lebih sesuai bila menggunakan obat alam, walau penggunaannya lama, tetapi efek sampingnya relatif kecil jika digunakan secara tepat dan rasional hingga dianggap lebih aman.

Tepat Dosis, Waktu, dan Cara
Gerakan back to nature dan semakin derasnya aliran informasi mengenai keuntungan herbal, membuat pengobatan tradisional semakin diminati masyarakat. Tapi, tunggu dulu. Obat herbal, tetap tidak bisa digunakan sembarangan, tanpa ilmu yang mumpuni. "Pada dasarnya, obat herbal harus diperlakukan sama seperti obat kimiawi, yang juga memiliki aturan dan dosis yang harus dipatuhi," ujar Hardhi. Salah satu contoh, daun seledri telah diteliti mampu menurunkan tekanan darah tetapi penggunaannya harus hati-hati karena jika takaran berlebih akan menurunkan tekanan darah secara drastis yang dapat menyebabkan penderita menjadi syok.

"Obat tradisional tetap memiliki efek samping," kata Hardhi lagi. Tapi, efek samping tersebut tentu saja berbeda dengan efek samping obat modern. Pada obat tradisional terdapat mekanisme yang dapat menetralkan efek samping tersebut yang dikenal dengan istilah Side Effect Eleminating Substanced.

Dokter, urai Hardhi, tentu memiliki kelebihan ketika memberikan obat herbal, karena sudah didasarkan pada diagnosa medis terlebih dahulu. Dokter juga telah mempelajari interaksi antar obat herbal dan obat kimiawi yang bisa sama-sama diberikan. "Ketika saya hendak meresepkan obat pada pasien, biasanya saya bertanya terlebih dahulu, pasien telah mengonsumsi herbal apa?" kata Hardhi. Jadi, katanya, obat herbal juga tidak sembarangan bisa digunakan, tanpa memperhatikan dosis atau interaksi dengan obat lain. Diakui Hardhi, saat ini herbal masih digunakan sebagai obat komplementer. Saat ini, Kementrian Kesehatan juga memiliki Pokja CAM (Complementary and Alternative Medicine) yang salah satu tugasnya adalah membuat daftar herbal nasional yang akan menjadi acuan bagi dokter untuk menjadi obat nasional.

Untuk lebih mendorong digunakannya herbal dalam bidang pengobatan, Hardhi bersama beberapa rekan mendirikan Persatuan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) yang kini telah memiliki anggota sebanyak 200 orang. Perhimpunan dokter ini melakukan berbagai upaya untuk lebih memasyarakatkan jamu atau obat herbal, tentunya secara ilmiah. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah memberi kursus herbal 500 jam untuk dokter umum dan dokter spesialis serta membuka program magister herbal di FKUI.

Hardhi bersama PDHMI sangat menekankan agar herbal dapat diteliti mulai hulu hingga hilir di Indonesia. Artinya, mulai dari tahap penelitian, paten, hingga produksi massal, selayaknya dapat dilakukan di Indonesia. "Jangan sampai kita mengekspor hanya ekstrak, lalu dipatenkan di luar negeri," katanya tegas. Pihaknya banyak melakukan koordinasi dengan stakeholder, seperti GP Jamu, GP Farmasi, Kementrian Kesehatan dalam hal ini dengan Litbangkes dan Dirjen Yanmed, PB IDI, Balitro, LIPI, dan beberapa universitas seperti IPB, UI, UGM, Airlangga, dan Unpad. "Jika BPOM sudah mengeluarkan ijin sebagai herbal terstandar, maka obat tersebut dapat ditebus di apotik." PDHMI dapat menjadi stimulator agar herbal atau jamu dapat digunakan secara luas dan aman. "Kami bergerak melalui pendidikan, penelitian, dan pelayanan," kata Hardhi.

Hardhi, yang juga merupakan anggota tim dokter kepresidenan mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono sangat menaruh perhatian terhadap herbal. "Beliau sangat ingin jamu menjadi tuan rumah di negara sendiri," ujarnya. Kepedulian presiden dan ibu negara juga didasarkan pada pengalaman empiris pemakaian obat tradisional untuk kesehatan. Presiden dan Ibu Ani ingin sekali mengembangkan jamu sebagai warisan budaya Indonesia yang dapat dikenal di dunia.

Sebagai bukti keseriusan kepala negara, dibuat taman herbal di Istana Kepresidenan Cipanas, Jawa Barat yang diberi nama 'Taman Herbalia'. Taman ini dibuat bekerjasama dengan berbagai pihak antara lain dengan Balitro, Pusat Studi Biofarmaka IPB, BPOM, dan Tim Dokter Kepresidenan yang tergabung dalam PDHMI. Taman Herbalia ini dibuat untuk melestarikan warisan budaya nasional dan juga sebagai wisata herbal untuk pendidikan. Taman Herbalia memiliki luas 2.600 meter persegi dengan 207 tanaman di dalamnya, antara lain lidah buaya, teratai putih, ekor kucing, dan sebagainya. Tanaman herbal ini nantinya akan dikembangkan menjadi 400 tanaman. (Ika)

>>> Daftar Jamu Godog Kendhil Kencana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar