Sabtu, 03 Maret 2012

JAMU: Kearifan Lokal Nusantara 9 - Taman Herbalia Istana Cipanas



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI
Ibu Ani Bambang Yudhoyono dan Ibu Herawati Boediono, Senin (5/4/2010) pagi, 
meninjau Taman Herbalia di area Istana Cipanas, Jawa Barat.
Taman Herbalia Istana Cipanas

Kemajuan jaman atau yang lebih dikenal dengan modernisasi, telah membuat kebanyakan masyarakat, khususnya masyarakat perkotaan, melupakan nilai-nilai atau ajaran ketimuran yang diwariskan orang-orang tua pada masa dahulu. Pola hidup yang cenderung praktis membuat orang lebih menyukai sesuatu yang serba instan. Namun, tahukah anda bahwa warisan leluhur itu menyimpan kearifan lokal dan menyimpan manfaat yang sangat besar?

Salah satu kearifan lokal itu adalam pemanfaatan tanaman herbal untuk obat atau yang lebih dikenal dengan sebutan jamu. Bagi kebanyakan masyarakat modern, jamu dianggap sebagai hal kuno atau bahasa gaulnya ndeso. Namun, ada juga sebagian yang menganggap jamu sebagai warisan leluhur yang harus dilestarikan. Fenomena inilah yang menarik perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Bambang Yudhoyono untuk mengembangkan jamu sebagai warisan budaya Indonesia yang dapat dikenal di dunia.

Senin (5/4) pagi, Ibu Ani ditemani Ibu Herawati Boediono beserta anggota SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu), meninjau taman herbal yang ada di Istana Kepresidenan Cipanas, Jawa Barat. Taman yang diberi nama `Taman Herbalia` oleh Presiden SBY ini dibuat bekerjasama dengan berbagai pihak, antara lain, Balittro (Badan Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik), Pusat Studi Biofarmaka IPB, BPOM (Badan Peneliti Obat dan Makanan), serta Tim Dokter Kepresidenan Republik Indonesia, yang tergabung dalam PDHMI (Persatuan Dokter Herbal Medik Indonesia). 

Taman Herbalia ini dibuat untuk melestarikan warisan budaya nasional dan juga sebagai wisata herbal untuk pendidikan. "Tanaman herbal di sini sesuai dengan keinginan Presiden dan Ibu Negara dimana Bapak SBY pada 2008 menghendaki jamu sebagai tuan rumah di negara sendiri," kata Ketua Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia Dr. Hardhi Pranata.

Selain itu, menurut Dr. Hardhi, PDHMI ingin menjadikan jamu atau herbal Indonesia sebagai hal yang scientific atau ilmiah guna melanjutkan apa yang dicanangkan Menkes pada 6 Januari 2010. "Kita menghendaki, terutama para dokter, mau memakai jamu dalam pengobatannya," ujar Hardhi. "Jamu memiliki potensi yang baik. Jamu ini adalah obat alam, obat asli Indonesa yang mampu menyembuhkan rakyat Indonesia menuju Indonesia Sehat 2010," ia menambahkan. 

Di Taman Herbalia seluas 2.600 meter persegi ini terdapat 207 tanaman. Antara lain, Lidah Buaya selain untuk rambut juga bagus untuk kencing manis, Teratai Putih untuk obat penenang, Oleander untuk obat bisul dan kudis, dan Ekor Kucing untuk Disentri. Tanaman herbal ini nantinya akan dikembangkan menjadi 400 tanaman. Menurut riset, baru ada 18 jenis tanaman herbal yang telah memenuhi kriteria herbal berstandar, yaitu herbal yang sudah teruji secara pra klinis di laboratorium tanaman dan hewan, dan 5 jenis biofarmaka.
Ibu Ani Bambang Yudhoyono dan Ibu Herawati Boediono memperhatikan berbagai 
produk Taman Herbalia di area Istana Cipanas, Jawa Barat, Senin (5/4/2010) pagi.
Mengenai tempat penanamannya, menurut Dr. Hardhi, tanaman herbal harus terbebas dari berbagai macam polusi, baik itu air, udara ataupun tanah. Oleh karena itu, tanaman herbal kurang cocok di daerah perkotaan. "Jadi kita harus bedakan fungsi tanaman sebagai pengobatan, tentunya harus aman, berkhasiat, bebas dari jamur dan polusi. Kalau di kota lebih tepat tanaman yang dapat menyerap polusi atau CO2," Dr. Hardhi menjelaskan. Melihat kondisi unsur hara tanah, Cipanas dinilai sebagai salah satu tempat yang cocok untuk membudidayakan tanaman herbal.

Nantinya, tanaman herbal yang dijadikan obat herbal ini direncanakan akan digunakan berdampingan dengan obat kimia. Oleh karena itu, PDHMI sedang bekerjasama di bawah PB IDI melakukan pendidikan herbal medik dasar dalam rangka membuat para dokter berkompeten dalam penggunaan herbal secara terbatas sesuai dengan yang diajarkan. "Para dokter bisa menggunakan baik obat kimia maupun dengan kombinasi maupun murni herbal. Rakyat memilih. Ada juga yang mempersilakan dokter mengkombinasi, pilihan itu lebih luas manakala herbal dipakai para dokter," ujar Dr. Handri.

Diperkirakan, obat herbal ini di masa datang bisa menggeser posisi obat kimia di dunia medis. Bahan kimia berbeda dengan herbal. Dalam bahan kimia, hanya terdiri dari komponen tunggal yang diperuntukkan untuk satu jenis penyakit. Sementara herbal multi komponen, untuk berbagai penyakit dan saling melengkapi. "Herbal lebih cocok untuk penyakit degeneratif, radiovaskular dan kronik, penyakit gangguan sindroma metabolik, kanker. Herbal mempunyai potensi yg baik juga untuk jaga kesehatan," Dr. Hardhi menambahkan.

Salah satu tanaman yang menarik yaitu sirih merah. Sekjen PDHMI yang juga Sekbid Kajian Pengobatan Tradisional Komplementer PB IDI Dr. Aldrin Neilwan melakukan penelitian untuk daun sirih merah ini. Sirih Merah yang diambil dari Kalimantan ini setelah diteliti secara klinis di laboratorium Universitas Mulawarman bekerjasama dengan UI, ternyata selain untuk obat infeksi dan pembengkakan, ekstrak dari daun sirih merah ini memiliki efek terhadap kanker payudara. "Ternyata ekstrak daun sirih merah memiliki efek anti proliferasi, artinya anti pertumbuhan sel kanker payudara pada galur sel p47d," kata Aldrin.

Perlu diketahui bahwa dalam pengobatan kanker, penggunaan herbal masih sebagai compliment, terapi penunjang dalam pengobatan. Kalau harus operasi tetap operasi. Namun, didampingi obat herbal sebagai anti proliferasi.

Pengelolaan dan pembudidayaan tanaman herbal yang ada di Taman Herbalia ini dilakukan dengan sistem organik. Menurut Kepala Pusat Biofarmaka Prof. Latifah K. Darusman, sistem organik di sini memiliki dua pilihan. Pertama, organik bisa berarti semuanya organik, penggunaan pupuk dan pestisida organik. Kedua, tidak menggunakan pestisida kimia tetapi masih menggunakan pupuk kimia, urea terkadang diperlukan untuk meningkatkan produktiftas massa terutama untuk pertumbuhan vegetatif.

Untuk pemberian Hak Paten, Prof. Latifah mengatakan sudah ada 10 paten, dua sudah diakui untuk asam urat, yaitu campuran dari seledri dan sidaguri. "Ramuan kolesterol berbasis Jati Belanda, Mahkota Dewa dipatenkan untuk kanker, Tabat Barito yang di Kalimantan digunakan untuk pengobatan wanita, kami juga uji praklinis menggunakan hewan untuk kanker kaitannya dengan serviks, tapi semua masih pre klinik," ujar prof. Latifah.

Guna mewujudkan penggunaan herbal secara medik, PDHMI mengajak dunia farmasi untuk turun gunung dan bersinergi dengan para ahi herbal, karena herbal berstandar ini potensinya sangat besar. Selain itu, agar tidak terulang kembali Amerika mematenkan Temulawak sebagai obat anti kanker, stroke dan elektor hepatator. Padahal, Temulawak ini berasal dari Indonesia. "Kelemahan kita, jamu seperti sepakbola di Indonesia. Kalau sendiri-sendiri ahli, kalau bersama-sama tidak ahli. Jadi, menjadi tugas PDHMI untuk berkumpul dan bersinergi, berkoordinasi dan memfasilitasi sehingga banyak obat paten yang dapat ditimbulkan," jelas Dr. Hardhi. Badan farmasi yang tidak menggunakan herbal akan ketinggalan jaman.

Pada saat melakukan peninjauan, Ibu Ani memperlihatkan antusiasme yang besar terhadap jamu. Ibu Ani menceritakan pengalaman pribadinya menggunakan daun Lidah Buaya untuk perawatan rambut dan juga penggunaan Brotowali pada putra pertamanya. "Dulu, ketika masih kecil, anak pertama saya suka menghisap bibir sendiri. Kalau dibiarkan bibirnya bisa maju. Jadi, saya cari bagaimana caranya supaya dia tidak lagi mengenyot bibir, tapi tidak membahayakan. Jawabannya Brotowali. Brotowali pahit dan dioleskan ke bibir," Ibu Ani menjelaskan.

Selain bersinergi dengan berbagai pihak dan mematenkan obat herbal, pada Desember 2010 nanti direncanakan akan dibuka Program Studi Magister bidang Herbal Medik di Universitas Indonesia. Semoga saja dengan segala usaha ini, selain obat herbal Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, juga bisa ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. "Saya harap jamu yang dulu milik rakyat Indonesia bisa dipatenkan bersama-sama dengan batik, keris dan wayang," tegas Ibu Ani. (yun)

>>> Daftar Jamu Godog Kendhil Kencana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar