Sabtu, 03 Maret 2012

JAMU: Kearifan Lokal Nusantara 8 - Taman Djamoe Indonesia



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI
Taman Djamoe Indonesia (TDI)
Nyonya Meneer bangun Taman Djamoe Indonesia

Taman Djamoe Indonesia
Berdirinya Taman Djamoe Indonesia berawal dari kecintaan Ibu Meneer terhadap koleksi tanaman jamu. Kekayaan Indonesia akan bahan baku jamu memberikan spirit dan energi tersendiri dalam kehidupan pribadi Ibu Meneer. Tiga tanaman yang menjadi kesayangan Ibu Meneer, yakni Laos (Alpinia Galanga) untuk mencegah rheumatik, Salam (Eugeniapolyantha Wight) untuk meningkatkan metabolisme tubuh, dan Sereh (Andropogoncitratus) untuk menghangatkan badan, selalu dirawat dengan penuh totalitas. Berawal dari tanaman koleksi pribadi yang kemudian bertambah jumlah dan varietasnya, membuat halaman rumah serasa tak cukup lagi untuk menampung. Maka di tahun 1979 Ibu Meneer membeli lahan seluas 3 hektar di kawasan Bergas, Kabupaten Semarang, yang digunakan sebagai tempat mengoleksi beraneka ragam tanaman jamu, yang dinamakan Kebun Tanaman Obat. Pada tanggal 29 Juni 2004, Kebun Tanaman Obat Ibu Meneer mendapat kunjungan kehormatan dari Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang pada saat itu sebagai kandidat calon Presiden R.I., periode 2004–2009.
Dedikasi Nyonya Meneer dalam pelestarian lingkungan hidup, terus berlanjut dibawah kepemimpinan DR. Charles Saerang sebagai generasi ketiga PT. Nyonya Meneer. Sebelum Kebun Tanaman Obat Nyonya Meneer diubah menjadi Taman Djamoe Indonesia, Kebun Tanaman Obat tersebut telah mendapatkan penghargaan dari Presiden Republik Indonesia atas dedikasinya dalam lingkungan hidup dan pembinaan yang dilakukan kepada para empon-empon di wilayah Jawa Tengah. Pada tahun 1991 meraih penghargaan Upakarti, yang diberikan secara langsung oleh Presiden Soeharto. Pada tahun 2002 meraih penghargaan Kalpataru, yang diberikan secara langsung oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Dilandasi akan kecintaan yang dalam akan budaya jamu dan totalitas dalam melestarikan pusaka jamu, DR. Charles Saerang, melalui buah pemikirannya kemudian mendesign Kebun Tanaman Obat menjadi Taman Djamoe Indonesia. Sebuah taman yang didedikasikan khusus untuk memberikan manfaat sebagai sarana; Pariwisata, Pendidikan, Penelitian, Taman Budaya, Pengembangan Nilai Tanaman, Bursa Tanaman Obat, serta Lingkungan Hidup, yang seluruhnya dipersembahkan bagi masyarakat Indonesia, dan mewujudkan cita-cita luhur Ibu Meneer dalam pelestarian budaya dan tanaman jamu Indonesia.
http://tamanjamuindonesia.com/?hal=4
PT Nyonya Meneer mengoperasikan pembangunan Taman Djamoe Indonesia (TDI) senilai Rp100 miliar, sebagai tempat pelestarian warisan budaya tanaman obat/herbal dan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan obat alami.
Pendirian Taman Djamoe Indonesia di atas lahan seluas 3 hektare itu, juga untuk mewujudkan tempat wisata jamu, pendidikan, penelitian dan pengembangan terhadap ribuan jenis tanaman obat.
Charles Saerang Dirut PT Nonya Meneer mengatakan Taman Djamoe Indonesia yang dibangun di kawasan Desa Bergas, Kabupaten Semarang itu,  pada tahap awal ini memiliki 660 spesies tanaman obat dan akan dikembangkan hingga mencapai ribuan jenis lagi.
“Pembangunan Taman Djamoe yang menelan biaya sebesar Rp100 miliar, termasuk pembelian lahan ini, diharapkan mampu memberikan manfaat bagi industri jamu/herbal nasional, kalangan pendidikan, wisawatan, petani, dan terutama untuk pemahamaan terhadap khasiat tanaman obat alami kepada semua lapisan masyarakat,” ujarnya selepas persemian TDI itu, kemarin.
TDI, lanjutnya, juga dilengkapi sejumlah fasilitas terdiri Spa Srikaton,.Taman Djamoe Resto, Gift Shop dan Meneer Shop, Taman Djamoe Herbalclinic, Herbal Colection and Market, Audio visual (ruang seneplex mini), Amphithester, Green House, Laboratorium, Jogging and Biking Track serta Helipad.
Perusahaan jamu terbesar itu juga berupaya akan membangun lagi kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan obat alami, setelah beberapa tahun sempat menurun akibat kurangnya soialisasi manfaat dan khasiat produk jamu.
Charles Saerang mengatakan tanaman obat herbal akan semakin gencar dikembangkan, setelah Taman Djamoe Indonesia ini dioperasikan, dan dengan menggendeng Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) untuk bidang pengkajian serta penerapan teknologi produksi obat bahan alam.
“Secara empiris, jamu memiliki berbagai kelebihan yang sudah diakui sejak zaman dahulu, jamu berbahan tanaman herbal menjadi keunikan Indonesia, selain tanahnya subur, Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies, dari 40.000 spesies tanaman obat-obatan yang ada di dunia dan dapat dikonsumsi dengan komposisi yang tepat,” tuturnya.

Kekayaan ini, kata Charles, telah menjadikan Indonesia sebagai negara mega-biodiversity kedua setelah Brazil, perihal tanaman herbal. Bahkan TDI  kedepannya dapat menjadi tempat pelestarian tanaman herbal, mengingat tidak menutup kemungkinan 20 tahun kedepan. tanaman herbal akan mengalami kepunahan.
“Untuk itulah TDI ini dibangun, agar tanaman herbal atau jamu memiliki tempat untuk hidup. Jamu bagi bangsa Indonesia adalah identitas diri, jamu adalah bagian dari warisan budaya bangsa dan perlu dilestarikan dan dikembangkan,” ujarnya.
 Menurut Charles, mewujudkan TDI bukanlah hal yang mudah, karena setiap tanaman memiliki keunikan sifat dan karakteristik yang berbeda-beda, sehingga taman ini.dijuluki sebagai botanical zoo.
Dia menuturkan pengembangan TDI ini dengan melibatkan peranan dari para petani, peneliti, dan ahli tanaman dari beberapa daerah. “Setiap tanaman di taman ini, kami kelompokan menjadi beberapa grup,” ujarnya.
Kelompok tanaman itu di antaranya tanaman jamu yang memiliki keindahan warna (Pesona Warna), yang memiliki aroma yang sedap (Pesona Aroma), yang memiliki rasa yang nikmat (Pesona Rasa), tanaman berkhasiat untuk menambah keperkasaan pria (Pesona Perkasa), serta tanaman  berkhasiat untuk merawat kecantikan wanita (Pesona Ayu).
Kepala BBPT Marzan A Iskandar mengatakan jamu merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang perlu dilestarikan, dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kesehatan serta kesejahteraan seluruh rakyat serta duta kebanggaan bangsa.
Jamu Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa karena berasal dari keragaman budaya dan kearifan lokal masyarakat serta keragaman hayati yang sangat tinggi. Sudah saatnya harus dikembangkan menjadi komoditas yang kompetitif baik ditingkat lokal, regional maupun global,” tuturnya.
Taman Djamoe yang dibangun Nyonya Meneer ini, bisa menjadi ilmu yang berfungsi sebagai sarana pariwisata, pendidikan, penelitian, taman budaya, pengembangan nilai tanaman, bursa tanaman obat, dan Lingkungan Hidup.
“Showroom tanaman herbal ini dapat menjadi ‘Jendela Pariwisata Indonesia’ yang akan mengangkat citra jamu dan melestarikan jamu sebagai pusaka herbal Indonesia, warisan budaya bangsa,” ujarnya.

Menurut Gubernur Jateng Bibit Waluyo, karya Nyonya Meneer itu bermakna melestarikan dan mengembangkan Jamu Indonesia. Rentang waktu dari1919 sampai saat ini menjadi bukti dan catatan sejarah tentang kiprah dan komitmen perusahaan jamu yang berbasis di Semarang itu.
TDI Nyonya Meneer ini, lanjutnya, menjadi salah satu sarana pelestarian budaya, pelestarian tanaman obat langka, pendidikan jamu pada masyarakat dan sebagai momen penting terjalinnya interaksi nyata antara lembaga riset dan industri serta petani dalam kerangka memajukan jamu nasional.
“Dengan penamamanam yang baik, kajian dan penerapan teknologi yang tepat, Jamu Indonesia pasti bisa menjadi produk yang kompetitif tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di pasar ekspor,” ujar Bibit.

Taman Djamoe Indonesia Resmi Dibuka!
Senin, 28 Februari 2011, dibuka oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Tengah, Letjend (Purn) H. Bibit Waluyo, Taman Djamoe Indonesia (TDI) yang diprakarsai oleh PT Nyonya Meneer resmi dibuka. Pembukaan ini dihadiri oleh beberapa tokoh penting, seperti mantan Menteri Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Letjend (Purn) TB Silalahi, Ketua Umum KOWANI, Dewi Motik, dan lainnya.

Dalam sambutannya, Dr Charles Saerang, Presiden Direktur PT Nyonya Meneer mengungkap, Indonesia mengenal jamu sejak zaman Keraton Yogyakarta dan Surakarta sebagai minuman kesehatan dan kecantikan. Tak berlebihan bila disebut jamu merupakan warisan leluhur Indonesia. Indonesia memiliki sekitar 30 ribu spesies dari 40 ribu spesies tanaman obat-obatan yang ada di bumi. Menjadikan Indonesia sebagai negara mega-biodiversity kedua setelah Brazil untuk tanaman herbal. 

Sejak mulai berusaha dengan jamu, sekitar tahun 1919, usaha Lauw Ping Nio, nama asli Nyonya Meneer, terus berkembang, hingga kini sudah diekspor ke mancanegara, seperti Taiwan dan Amerika. Tak ingin kekayaan leluhur ini terhilang begitu saja dan terlupakan, Dr Charles membuka TDI sekaligus untuk mulai kembali membudayakan minum jamu dan mengubah mindset jamu itu kuno menjadi jamu adalah gaya hidup.

"Lewat TDI, saya ingin memperkenalkan kembali tradisi kembali ke natural, yang dibalut modern. Saya ingin meningkatkan imej jamu kepada masyarakat modern. Tradisi kita harus beradaptasi, jangan menetap di zaman kuno terus. Jamu ini adalah tradisi leluhur, tetapi bisa dibuat modern. Lewat TDI inilah salah satu caranya," ungkap Dr Charles kepada Kompas Female, saat bincang-bincang sebelum pembukaan. 

TDI terletak di jalan Raya Karangjati Km 28, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. TDI melindungi sekitar 600 spesies tanaman obat yang sering digunakan dalam industri jamu dari berbagai kategori genting, rawan, dan jarang. 

Di dalam kawasan seluas 3 hektar ini, pengunjung bisa melihat dan menggunakan berbagai fasilitas; Spa Srikaton, Taman Djamoe Resto, Taman Djamoe Gift Shop dan Meneer Shop, Taman Djamoe Herbaclinic, Taman Djamoe Herbal Collection and Market, Amphitheater, Green House, Laboratorium, Jogging and Biking Track, dan Helipad. 

Dengan biaya sebesar Rp 10.000 per orang, pengunjung bisa menikmati alam taman dari tumbuh-tumbuhan obat, sambil berjalan atau mengelilingi taman baik berjalan kaki maupun bersepeda, dan sajian secangkir minuman jamu.



>>> Daftar Jamu Godog Kendhil Kencana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar