Sabtu, 03 Maret 2012

JAMU: Kearifan Lokal Nusantara 5 - Serikat Petani Jamu (Sepejam)



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI
Serikat Petani Jamu Terbentuk
MAHALNYA ongkos kesehatan di Indonesia mengakibatkan banyak orang miskin tidak dapat membayar biaya perawatan kesehatan yang di dalamnya jasa rumah sakit, dokter dan juga obat. Dari situ muncullah anggapan, sakit merupakan bencana bagi setiap orang, terutama kaum miskin.

Harga obat-obatan yang cukup tinggi membuat sejumlah kalangan tidak mampu membelinya.

Apalagi sudah bukan rahasia lagi, adanya kerja sama antara dokter, produsen obat, dan juga rumah sakit yang mengakibatkan pasien tidak mempunyai pilihan lain lagi selain menuruti nasihat dokter yang mengobatinya untuk memakai jenis tertentu.

Menghindari biaya kesehatan yang tidak terjangkau, sebagian anggota masyarakat memilih membeli obat-obatan kimia di berbagai toko, warung. Tak hanya di daerah perkotaan, di pedesaan pun obat-obatan tersebut dijual bebas. Masyarakat tak lagi mempertimbangkan efek samping yang justru dapat membahayakan fungsi organ tubuh.

Sebenarnya, di Indonesia ini terdapat bermacam-macam tanaman obat dengan manfaat untuk penyembuhan berbagai jenis penyakit. Namun, obat alternatif yang sangat murah dan terjangkau untuk semua kalangan ini hampir dilupakan oleh masyarakat kita sendiri akibat gencarnya iklan-iklan obat-obatan kimia yang menghiasi media cetak sampai elektronik.

Dari keprihatinan itu, muncullah Lessan (Lembaga Studi Kesehatan), salah satu LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sangat peduli terhadap obat-obatan tradisional. Keberadaannya berusaha mengembalikan kepercayaan masyarakat pada penggunaan bahan-bahan tradisional sebagai obat.

''Ya, kami mempunyai tujuan mengembalikan kepercayaan masyarakat pada sistem pengobatan tradisional, di mana pengobatan itu menggunakan tanaman obat yang ada di sekitar kita,'' tutur Heny Yudea, Koordinator Lapangan Lessan ketika ditemui di kantornya, Jalan Kaliurang Km 9 Palgading, Ngaglik, Sleman.

Selain mengembalikan kepercayaan masyarakat pada tanaman obat, Heny menambahkan lembaganya juga ingin mengembangkan pengobatan alternatif yang murah, aman dan juga efektif untuk penyembuhan berbagai jenis penyakit.

Libatkan Petani

Lembaga itu tentu tidak bisa sendirian dalam bekerja. Tahun 2002, tepatnya pada tanggal 14 Mei, Lessan membentuk Serikat Petani Jamu (Sepejam) yang merupakan kumpulan dari 526 petani tanaman obat yang menjadi kelompok dampingannya. Sepejam tersebar di lima kabupaten, yakni Sleman, Kota Yogyakarta, Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul. Kekeringan yang setiap tahun melanda Gunungkidul tidak menyurutkan aktivitas para petani di sana untuk menanam tanaman obat.

Di Kabupaten Gunungkidul, sejak didirikan sampai sekarang sudah tercatat anggota sebanyak 244 orang, sebagian besar perempuan dengan jumlah mencapai 230 orang yang kesemuanya merupakan petani obat-obatan tradisional. Selain bercocok tanam sendiri, mengembangkan bahan-bahan tradisional, mereka juga sekaligus membuatnya untuk konsumsi masyarakat sekitar, lokal maupun ekspor.

''Awal mulanya, kami memang pencetus awal berdirinya Sepejam, kemudian selanjutnya hanya sebagai fasilitator. Segala kebijakan, tetap di tangan mereka. 

GAJAH di pelupuk mata tidak kelihatan, kuman di seberang lautan malah terlihat jelas. Begitu pepatah yang mungkin cocok bagi masyarakat kita. Biasanya mereka mengetahui lebih banyak hal, termasuk obat-obatan dari negara tetangga. Namun mereka tak banyak tahu tentang obat-obatan yang ada di sini, terutama yang berbahan baku tradisional.

Lembaga Studi Kesehatan (Lessan) misalnya, sudah memproduksi begitu banyak bahan-bahan tradisional sebagai obat alternatif pengganti obat berbahan kimia. Bahkan lembaga itu juga mengekspor tanaman serta hasil produksinya ke Austria.

Beberapa tanaman bentuk kering yang sudah dikirim ke Austria adalah laos. Bahan ini berfungsi untuk mengobati panu dan bisa juga sebagai bumbu masak. Kunyit, untuk anti-inflamasi atau peradangan karena tanaman ini mengandung antibiotik. Kencur, obat batuk, mag, dan juga memar. Akar Wangi biasa digunakan untuk mengusir binatang serangga jenis ngengat dan sebagai aromatherapy. Bahan terakhir adalah Cabai untuk obat mulas dan masuk angin.

''Selain tanaman untuk ekspor itu, para petani dampingan kami juga menanam kunyit putih yang berfungsi sebagai obat diare, temu Putih sebagai pencegah kanker, dan temu mangga untuk mengobati diare,'' tutur Iis, salah seorang anggota Lessan.

Setelah berhasil mengirimkan obat-obat tradisional ke Austria, Lessan berencana mengirimkan ke Jerman. Jerman tidak mau menerima dalam bentuk jadi, tetapi harus bahan mentah.

Pengiriman obat tradisional ke negara lain misal AS dan Jepang, juga masih banyak kendala. Salah satunya, dua negara itu sudah mematenkan 41 resep obat tradisional dari Indonesia. Lessan pun enggan mengekspor ke sana karena persoalan tersebut.

Pos Jamu

Karena tak ingin ''dijiplak'' pihak asing, Lessan menitikberatkan pengembangannya di tingkat domestik. Saat ini di Gunungkidul, berdiri empat pos jamu yang dilayani oleh 15 petani.

Penduduk juga bisa berkonsultasi tanpa membayar alias gratis, bahkan terkadang obat tradisional juga tanpa harus beli. Namun kalau obat tradisionalnya tidak tersedia di pos dan harus membeli di tempat lain, ada tarif sendiri dan sangat murah, Rp.1.000/jamu.

Dulu, LSM itu punya klinik pengobatan alternatif, klinik ditutup diganti dengan Bioshop. Di tempat bernama ''Waluku'' di Jalan Candi Gebang, satu kilometer sebelah utara Pasar Condongcatur, terdapat berbagai jenis obat tradsional dengan harga sangat terjangkau.

''Soal harga bisa berubah tergantung musim, misalnya kencur. Kalau sedang panen, harganya hanya Rp. 1.500/kg. Namun kalau langka atau susah dicari, kencur bisa mencapai Rp 7.000-Rp 12.000/kg,'' imbuh Koordinator Lapangan Lessan Heny. 

Berbagai bentuk komunitas pembelajaran yang muncul dalam berbagai  jenis organisasi bisa dijumpai di Yogyakarta. Serikat Petani Jamu (SePeJam) lahir dari keinginan untuk melestarikan tanaman obat. Serikat ini memiliki 562 anggota, 85 persen anggotanya perempuan dan 75 persen anggotanya hanya berpendidikan sampai tingkat sekolah dasar (SD). Mereka mencoba membudidayakan tanaman obat-obatan seperti empon-empon, sere, dan mahkota dewa. 
Sambil berproduksi mereka saling berdiskusi tentang masalah lingkungan, pertanian organik, dan cara-cara budidaya tanaman obat yang lain. 


>>> Daftar Jamu Godog Kendhil Kencana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar