Sabtu, 03 Maret 2012

JAMU: Kearifan Lokal Nusantara 7 - Saintifikasi Jamu Berbasis Pelayanan Kesehatan



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI
Saintifikasi merupakan salah satu langkah penting untuk mengembangkan obat tradisional khas Indonesia  yaitu Jamu. 
“Perlu ditekankan bahwa Jamu merupakan nama khas untuk ramuan obat herbal Indonesia”, 
tutur Dr. Arijanto Jonosewoyo, SpPD, Clinic of Indonesia Traditional Medicines. 
Hal itu diungkapkan dalam siaran Pers Conference di sela acara “International Conference on Medicinal Plants” pada 21 Juli 2010. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi UKWMS hingga tanggal 22 Juli 2010 di Kampus UKWMS Dinoyo.
Acara dilanjutkan dengan plenary 1, 2 dan 3. pembicara dalam masing-masing sesi 
adalah Prof. Tohru Mitsunaga, Faculty of Applied Biological Science, Gifu University, 
Dr. Mona Tawab on behalf of Prof. Manfred Schubert-Zsilavecs 
dari Research and Development in the Central Laboratory of German Pharmacists, Eschborn, Germany, 
dan Mr. Jimmy Sidarta, dari Industrial Proffesional. 
Bertindak sebagai moderator, Kuncoro Foe, Ph.D, Wakil Rektor I UKWMS.
Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Yankes & Pengembangan Model Registrasi Kematian

Tanggal 6 Januari 2010 Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH. meresmikan dua peristiwa bersejarah yaitu program Santifikasi Jamu dalam penelitian berbasis pelayanan kesehatan dan Pengembangan Model Registrasi Kematian di 8 provinsi yakni Jawa Tengah, DKI Jakarta, Lampung, Kalimantan Barat, Gorontalo, Papua, Bali dan Nusa Tenggara Timur di Kendal, Jawa Tengah.

Saintifikasi Jamu adalah upaya dan proses pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan. Tujuan adalah untuk memberikan landasan ilmiah (evidence based) penggunaan jamu secara empiris melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan karena para dokter dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah amat kuat keinginannya bersama ilmuan/ akademisi mengangkat jamu sebagai icon Sehat, Bersama Rakyat. Mendorong terbentuknya jejaring dokter atau dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnya sebagai peneliti dalam rangka upaya preventif, promotif dan paliatif melalui penggunaan jamu. Juga untuk meningkatkan kegiatan penelitian kualitatif terhadap pasien dengan penggunaan jamu. Selain itu untuk meningkatkan penyediaan jamu yang aman, memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri maupun dalam fasilitas pelayanan kesehatan. 

Ruang lingkup saintifikasi jamu meliputi upaya preventif, promotif, rehabilitatif dan paliatif. 

Sedangkan Registrasi Kematian merupakan program 100 hari Departemen Kesehatan bekerjasama dengan Departemen Dalam Negeri untuk memantapkan akurasi pengukuran angka kematian ibu, angka kematian bayi serta umur harapan hidup yang merupakan indikator program-program Millenium Development Goals (MDG’s) yang disertai dengan verifikasi sebab kematiannya. 

Menkes dalam sambutannya mengatakan, Provinsi Jawa Tengah telah menunjukkan komitmen kuat untuk menjadi pionir bagi program saintifikasi jamu. Suatu program baru Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes dengan melibatkan Dinas Kesehatan Jateng, IDI beserta jajaran organisasi wilayah dan kajian keseminatannya (Badan Kajian Kedokteran Tradisional dan Komplementer yang terbentuk pada Muktamar IDI XXVII 2009 Palembang), kalangan universitas khususnya Universitas Diponegoro serta pihak pengusaha, yakni GP Jamu. 

Menurut Menkes, Jawa Tengah, adalah tempatnya banyak pabrik jamu besar dan gudangnya sekaligus simbol dari eksisnya penjual jamu tradisional yang ribuan jumlahnya. Hal ini harus diapresiasi, dilindungi dan ditingkatkan mutu jamunya. 

“Jawa Tengah, juga lokasi satu-satunya Balai Besar Tanaman Obat dan Obat Tradisional Depkes di Tawangmangu yang mengkoleksi ribuan tanaman obat tradisional yang berpontensi untuk dikembangkan menjadi devisa Negara. Jawa Tengah juga dikenal sebagai sumber budaya nasional yang merupakan puncak kearifan lokal (local genius) bangsa hingga saat ini, ujar Menkes. 

Namun disayangkan di Jawa Tengah pula merupakan lokasi dimana jamu diproduksi secara gelap dengan mencampurkan bahan aktif obat yang dapat merugikan kesehatan rakyat. 

“Kedatangan saya ke Kabupaten Kendal Propinsi Jawa Tengah ini sebagai wujud keinginan kuat pemerintah untuk bersama-sama bergandeng tangan dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Kendal dan Provinsi Jawa Tengah, akademisi/profesi, peneliti dan pengusaha yang tergabung dalam GP Jamu serta seluruh rakyat Jawa Tengah untuk memajukan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya”, ujar Menkes. 

Hal ini sekaligus untuk bersinergi menuju terwujudnya masyarakat mandiri untuk hidup sehat secara berkeadilan yang merupakan visi Depkes. Tradisi kerjasama dan sinergi dengan pelbagai pemangku kepentingan ini sesuai dengan tagline/moto Kabinet Indonesia Bersatu II, yakni : Pro-rakyat, Inklusif, Responsif (tanggap sesuai wilayah dan masalah) Efektif dan Bersih. 

“Dengan dua bidang kepeloporan yakni saintifikasi jamu dalam penelitian berbasis pelayanan kesehatan dan model registrasi kematian, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terbukti berhasil membuat kebijakan pro-rakyat yang responsif, yakni dalam merajut secara inklusif semua potensi bidang kesehatan terkait “, kata Menkes. 

>>> Daftar Jamu Godog Kendhil Kencana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar