Minggu, 08 Januari 2012

JAMU 2 - PELAYANAN KESEHATAN FORMAL


javascript:void(0)

PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI




OBAT TRADISIONAL MASUK DALAM SISTEM PELAYANAN KESEHATAN FORMAL

Pemerintah berupaya memperluas cakupan upaya pelayanan pengobatan tradisional secara bertahap ke pelayanan kesehatan formal. Misalnya Kementerian Kesehatan mencanangkan program Jamu masuk Puskesmas.
Hal itu disampaikan oleh Menteri Kesehatan dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH saat membuka seminar ”Prospek Pengembangan Jamu/Herbal di Indonesia Menuju Indonesia Sehat yang Mandiri : Harapan dan Tantangannya”, dalam rangka kegiatan ”Hari Kebangkitan Alumni FKUI” di Jakarta, Sabtu 22 Mei 2010. Dalam Permenkes Nomor 1109 Tahun 2007, telah diatur praktek dokter dan tenaga kesehatan lain dalam bidang kedokteran komplementer dan alternatif, dapat dikombinasikan dengan program saintifikasi jamu dan program integrasi jamu dalam pelayanan kesehatan, sebagai upaya awal diberlakukannya sistem pelayanan jamu nasional sebagaimana diamanatkan UU Kesehatan No. 36 tahun 2009.

”Hal ini semoga menjadi bukti bahwa pemerintah serius untuk memajukan jamu sebagai unsur utama pengobatan tradisional Indonesia” ujar Menkes.

Menkes menegaskan, pada tahap awal, Kementerian Kesehatan telah mencanangkan program Saintifikasi Jamu dalam bentuk upaya penelitian berbasis pelayanan kesehatan. Saintifikasi jamu adalah upaya dan proses pembuktian ilmiah jamu melalui dokter peneliti sekaligus pelayan kesehatan masyarakat. Duet baru yang diharapkan mendongkrak citra jamu untuk segara diterima di kalangan medis. Tujuannya adalah memberikan landasan ilmiah penggunaan jamu secara empiris melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan.

Menkes menambahkan, pasca upaya saintifikasi jamu dilakukan revitalisasi Sentra Pusat Pengembangan Pengobatan Tradisional (SP3T) yang merupakan penghubung antara penelitian-pengembangan dengan pelayanan jamu sebagai salah satu obat tradisional, pemerintah juga telah memberikan kepercayaan kepada 17 RS Pendidikan, 15 RS diantaranya telah ditetapkan dengan SK Dirjen Bina Yanmed untuk mengembangkan integrasi jamu ke dalam pelayanan kesehatan.


Menkes mengatakan, upaya tersebut diharapkan dapat mengatasi multiple burden dalam pembangunan kesehatan akibat munculnya emerging dan reemerging disease, meningkatnya penyakit tidak menular, seperti penyakit degeneratif, kanker dan gangguan metabolisme, masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mutu pelayanan kesehatan yang belumoptimal dan mahalnya harga obat karena 95% bahan baku masih harus import.
Menkes mengatakan, pemanfaatan jamu di sarana kesehatan masih merupakan tantangan bersama untuk diatasi dengan koordinasi dan kerjasama yang saling terbuka, equal dan tidak ego-sektoral. Berbagai institusi seperti departemen pertanian, BPPT, LIPI, Kem Ristek, Badan POM, Perguruan Tinggi dan organisasi profesi seperti IDI, PDGI, Ikatan Apoteker indonesia (IAI) dan GP Jamu berperan serta untuk terlaksananya grand design dibentuknya sistem jamu nasional atau minimal integrasi jamu ke pelayanan kesehatan

Menkes berharap, dengan terbukanya peluang pemanfaatan jamu dalam pelayanan kesehatan, masyarakat kita akan lebih cepat mencapai tujuan pembangunan kesehatan yaitu sehat untuk semua. Terlaksananya sistem litbang jamu berbasis pelayanan perlu didukung keterpaduan komitmen dan keterlibatan unit kerja lintas sektor, berbagai disiplin ilmu, organisasi seminat dan industri.

Menkes berharap. ILUNI FK dan FKUI bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mampu mengangkat jamu sebagai ikon “sehat bersama, demi dan untuk rakyat”. Sudah lama rakyat rindu akan kepeloporan para dokter, termasuk khususnya lulusan FKUI untuk memperjuangkan paradigma sehat bukan hanya paradigma sakit.

Seminar diikuti para alumni FKUI. Pembicara dalam seminar ini antara lain : Prof. Dr. dr. Agus Purwandianto, SpF, SH, Msi, DFM dari Balitbangkes dengan topik : Bermula dari terapi suportif : Integrasi saintifikasi jamu dan pelayanan kesehatan, Prof. Dr. Eddy Dharmana, Sp.Park dari FK UNDIP dengan topik : Herbal sebagai imunostimulan, dr. Ceva W Pitoyo, SpPD-KP dari Divisi Pulmonologi Dept. Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSUPNCM dengan topik : Peningkatan daya tahan tubuh pada penderita tuberkulosis, Prof. Dr. Sumali Wiryowidagdo dari Pusat Studi Obat Bahan Alam FMIPA UI dengan topik : Standarisasi jamu dalam pelayanan kesehatan di Indonesia, Drs. Ruslan Aspan, MM Deputi bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen BPOM RI dengan topik : Regulasi dan pengawasan obat tradisional di Indonesia, serta dari PT Sido Muncul Indonesia.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@depkes.go.id, kontak@depkes.go.id.

http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1102-obat-tradisional-masuk-dalam-sistem-pelayanan-kesehatan-formal.html




Puskesmas di Karanganyar Dilengkapi Tenaga Herbal

Menindaklanjuti program dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mengembangkan obat tradisional melalui pengembangan jamu, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar melengkapi setiap Puskesmas yang ada di kecamatan dengan satu tenaga pengobatan herbal.
Para tenaga herbal yang bekerja di setiap Puskesmas tersebut sebelumnya telah diberi pengetahuan tentang aneka jenis tanaman obat dan keterampilan meracik obat-obatan tradisional, di Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (BPPTOOT) yang berlokasi di Kecamatan Tawangmangu.
Tenaga kesehatan  herbal di 21 Puskesmas itu adalah dokter di setiap kecamatan di Karanganyar. “Harapannya, dokter yang bertugas di Puskesmas kecamatan itu nanti bisa menularkan keterampilan dan pengetahuan yang dimilikinya itu, kepada apoteker Puskesmas, perawat maupun tenaga kesehatan lain seperti bidan,” ujar Kepala DKK Karanganyar, Cucuk Heru Kusumo saat ditemui Espos di Puskesmas Karangpandan, baru-baru ini.
Saat ini, imbuh Cucuk, sejumlah Puskesmas sudah ada yang menerapkan pengobatan secara herbal tersebut, seperti di Puskesmas Karangpandan.
Di Puskesmas tersebut, selain menyediakan pelayanan pengobatan secara konvensional menggunakan obat kimia, juga melayani pengobatan secara tradisional menggunakan ramuan jamu. Di Puskesmas tersebut juga sudah tersedia layanan akupressure.
Rata-rata pasien yang berobat dan memanfaatkan obat herbal tersebut yakni 16 pasien. Sedangkan obat-obatan berupa tanaman, dipasok dari BPPTOOT yang memang sudah memiliki lahan pengembangan tanaman obat.
“Di BPPTOOT itu sering memberikan keterampilan kepada para dokter dari berbagai daerah dan negara. Saya minta kepada Direkturnya mengutamakan pelatihan kepada para dokter di Karanganyar. Bagaimana pun juga, BPPTOOT itu kan berada di wilayah Karanganyar,” terang Cucuk.
Sesuai dengan program dari Kemenkes, saat ini layanan yang tersedia yakni masih untuk pengobatan sakit ringan, seperti hipertensi, kencing manis, kolesterol dan asam urat. Sementara untuk pengobatan penyakit yang cukup berat, seperti kanker, masih memerlukan bantuan pengobatan konvensional dengan menyertakan obat kimia.

http://www.solopos.com/2011/karanganyar/puskesmas-di-karanganyar-dilengkapi-tenaga-herbal-123002

>>> Daftar Jamu Godog Kendhil Kencana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar