Selasa, 03 Januari 2012

Jamu Racikan 8 - Revolusi Jamu Jawa



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI




Tionghoa dalam Revolusi Jamu Jawa
11 Desember 2011

JAMU mulai beroleh tempat terhormat. Ramuan herbal dari Indonesia itu, kini telah diakui sebagai salah satu metode pengobatan alternatif oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Jamu juga dilirik oleh kalangan medis untuk dimasukkan dalam daftar obat resep dokter.

Tentu ini perkembangan yang menggembirakan, sebab jika ditengok ke belakang, ”pemartabatan” jamu memerlukan proses yang amat panjang. Seperti kita tahu, cikal bakal jamu telah ada sejak masa prasejarah. Ia merupakan satu dari sekian produk kebudayaan tertua yang dikembangkan manusia. Berburu dan meramu dapat dijelaskan sebagai aktivitas mengumpulkan makanan dan obat-obatan.

Namun artefak tertua yang menyebut keberadaan jamu baru muncul pada 772 Masehi. Ia terpapar di salah satu panel relief Candi Borobudur. Dokumen mengenai jamu yang lebih lengkap termuat dalam rontal Usada di Bali. Dokumen yang ditulis pada peralihan milenium pertama itu memuat semacam rumusan dan ekstraksi dari rupa-rupa tanaman obat. Meski demikian, masyarakat yang hidup pada masa itu lebih mengenal jamu sebagai medium penyembuh yang digunakan dukun.

Dalam perkembangannya, kalangan keraton mulai membukukan formulasi obat dari bahan alami itu. Keraton Kasunanan Surakarta misalnya, pada 1858 menerbitkan Bab Kawruh Jampi Jawi yang berisi 1.734 formulasi herbal. Dalam rentang waktu yang panjang, pengolahan jamu hanya dilakukan dengan cara sederhana, yakni ditumbuk dan direbus.

Komodifikasi jamu mulai berlangsung sejak era Majapahit. Hal itu terungkap dari Prasasti Madhawapura yang memuat istilah ”acaraki” yang berarti peracik jamu. Proses itu kian masif pada masa Mataram Islam. Jamu yang dibuat oleh peracik, dijajakan berkeliling dengan cara dipikul dan digendong.

Era bisnis jamu yang lebih maju dimulai pada abad ke-19. Seorang perempuan keturunan bernama Nyonya Kembar membuka usaha pembuatan jamu skala rumahan di Ambarawa pada tahun 1825. Berikutnya pada 1918, Phoa Tjong Kwan memodifikasi usaha jamu istrinya di Wonogiri. Melalui perusahaan bernama Djamoe Industrie Phoa Tjong Kwan (cikal-bakal Jamu Jago), lelaki yang kemudian berganti nama menjadi TK Suprana itu menciptakan jamu berbentuk serbuk. Inovasi tersebut bisa disebut sebagai revolusi dalam industri jamu. Bentuk serbuk memungkinkan jamu diminum dengan cara lebih praktis dan diproduksi dalam skala masif.

Benar, setelah itu pabrik jamu bermunculan, sebut saja
  • Jamu Air Mancur (tahun 1963 oleh 3 sekawan Kimun Ongkosandjojo, Wonosantoso, dan Hindrotanojo)
  • Jamu Nyonya Meneer (Lauw Ping Nio alias Nyonya Meneer [baca: Menir] lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, pada tahun 1895 - wafat tahun 1978)
    Pada tahun 1919 atas dorongan keluarga berdirilah Jamu Cap Potret Nyonya Meneer yang kemudian menjadi cikal bakal salah satu industri jamu terbesar di Indonesia. Selain mendirikan pabrik Ny Meneer juga membuka toko di Jalan Pedamaran 92, Semarang. Perusahaan keluarga ini terus berkembang dengan bantuan anak-anaknya yang mulai besar.
  • Jamu Iboe (didirikan pada tahun 1910 oleh Tan Swan Nio dan putrinya, Siem Tjiong Nio, di Surabaya, pada waktu itu bernama Djamoe Industrie en Chemicalen Handel "IBOE" Tjap 2 Njonja. Sejak 1973 perusahaan ini menggunakan nama PT Jamu Iboe Jaya.)
  • Jamu Dami Sariwana berdiri tahun 1980.
  • Jamu Bopo Bijung.
    Jalan Seteran Miroto jaman dulu terkenal dengan nama Seteran Pak Man Tahu karena ada yang jual Tahu pong dan gimbal (sekarang sudah tidak ada, penerusnya ponakannya yg masih jualan di jalan Taman Seteran Baru).Kelompok pemuda Seteran dipimpin oleh Alm. Mbah Sastro, yang pinter silat katanya, tokoh setempat dan pemilik masjid tersebut.
    Anak Mbah Sastro Alm. Soebani juga terkenal dengan usaha Jamu Bopo Biyung dari Seteran yang mempekerjakan orang-orang cebol untuk berakrobat (seperti sirkus kecil) keliling seputar kampung-kampung Semarang. Orang-orang cebol ini katanya berasal dari Wonogiri beranak pinak, dan setelah Jamu Bopo Biyung sudah tidak beroperasi, orang-orang cebol ini banyak diambil oleh pabrik-pabrik jamu di Semarang, kebanyakan waktu itu Jamu Jago.
  • Sidomuncul.
    PT Sido Muncul adalah pabrik jamu tradisional dengan menggunakan mesin-mesin mutakhir. Berdiri pada tahun 1940 di Yogyakarta, dan dikelola oleh Ny. Rahkmat Sulistio, Sido Muncul yang semula berupa industri rumahan ini secara perlahan berkembang menjadi perusahaan besar dan terkenal seperti sekarang ini.
    Pada tahun 1951, keluarga Ny. Rahkmat Sulistioningsih pindah ke Semarang, dan di sana mereka mendirikan pabrik jamu secara sederhana namun produknya diterima masyarakat secara luas. Karena semakin bersarnya usaha keluarga ini, maka modernisasi pabrik juga merupakan suatu hal yang mendesak.
    Pada 1984, PT. Sido Muncul memulai modernisasi pabriknya, dengan merelokasi pabrik sederhananya ke pabrik yang representatrif dengan mesin-mesin modern.
Mereka berlomba merebut perhatian pasar dengan varian produk dan bentuk jamu. Lalu muncullah jamu berbentuk kapsul, pil, tablet, dan cairan. Tak berhenti di situ, jamu yang dikenal pahit pun dibikin manis, bahkan dengan rasa buah-buahan.

Di sisi lain, pengusaha berupaya meraih kepercayaan konsumen melalui modernisasi produk dan pembuktian ilmiah. Hasilnya, jamu bisa diterima kalangan atas. Sebagian produk jamu juga berhasil mendapatkan pasar di luar negeri.

Jika dicermati, sebagian besar pemain kunci yang berperan dalam pengembangan jamu jawa justru berlatar keturunan Tionghoa. Fakta ini dipertegas Denys Lombard dalam bukunya yang terkenal Nusa Jawa Silang Budaya. Mengutip Parada Harahap, ia mengungkapkan bahwa pada menjelang Perang Dunia II, sektor industri jamu hampir seluruhnya dikuasai oleh orang China.   

Selain Nyonya Kembar dan TK Suprana, ada Lauw Ping Nio (Nyonya Meneer), Tan Swan Nio (Jamu Iboe), Ny Rahkmat Sulistio (Sidomuncul), serta The Tjhing Hay (Jamu Leo). Keterlibatan mereka dalam industri jamu harus dibaca menggunakan kacamata ekonomi. Sebagai perantau yang gemar menggantungkan hidup dari sektor bisnis, orang-orang Tionghoa itu pada awalnya hanya berpikir praktis. Jamu di mata mereka memiliki pasar yang besar. Namun dalam perkembangan, mereka dan generasi berikutnya melakukan serangkaian inovasi yang membawa jamu jawa ke posisi terhormat.

Lepas dari itu, industri jamu menghadapi tantangan berat. Perdagangan bebas ASEAN-China (AC-FTA) yang diberlakukan sejak dua tahun lalu mengancam kelangsungan sektor ini. Serbuan produk herbal impor yang sedemikian dahsyat, mengurangi angka penjualan jamu. Dalam situasi semacam ini, pelaku industri dituntut kreatif dan inovatif. Mereka harus menghasilkan produk jamu yang lebih bisa diterima masyarakat, seperti telah dicontohkan TK Suprana, Charles Saerang , dan Irwan Hidayat. 

 CRAKÈN
  • kn. 1 adon-adoning jamu kayata mrica, pala lsp; 2 bakul ut. dodol adon-adoning jamu; 
  • bahan obat-obatan; penjual bahan obat-obatan
  • kc. craki.  

 CRAKI

  • kn. bakul dodolan crakèn; 
  • penjual bahan obat-obatan
  • kaya Cina craki: gêmi bangêt, cêthil bangêt, petung bangêt.

Dagangan tanah Indhiya kang ngolèhaké kaoentoengan akèh iya ikoe boemboe crakèn, moelané VOC. kepéngin banget mengkoe kapoelowan Moloko, kang ikoe para nakoda padha diwangsit, soepaya merlokaké ngoedi bisané nekem kepoelowan boembon crakèn maoe, yèn ora kena diloesi sarana pradjangdjian iya kanthi wasésa. Ing saenggon enggon angger Compagnie bisa becik karo ratoe bangsa boemi mesthi bandjoer nganakaké pradjangdjian bisané lengganan adjeg (monopolie). Poelo Ambon (cengkèh) ikoe poelo kang dhisik dhéwé dadi doewèking Compagnie. Ora soewé saka kecekelé poelo Ambon ing koewasané VOC. poelo Bandha Néra (pala) lan Bacan iya bandjoer kena diregem.
Marga enggoné menang perang ikoe, lakoe dagang boemboe crakèn katekem ing koewasané Compagnie, sabab ana ing endi endi, angger tanah woes kaayoman mesthi dilarangi lelawanan dedagangan karo bangsa liya kadjaba moeng karo VOC. dhéwé sarta regané dagangan dipasthi (monopolie).

Phoa Tjong Kwan

 Kartoepos DAI NIPPON dengan perangko 3,5 cent tjap pos POERWOKERTO 27-9-03.
Ada iklan Djamoe Sari Penganten. Paberik Djamoe POA TJONG KWAN. Toko djamoe tjap "DJAGO"

NY. Phoa Ting Goan pandai meracik, meramu berbagai macam jamu dari akar-akaran, daun-daunan dan tumbuh-tumbuhan lainnya. Karena itu dia mendapat julukan Nyonya Dukun di Wonogiri. Suaminya, karena pekerjaannya sebagai kasir di kantor cukai candu, disebut Baba Tukang Uang. Satu-satunya anak mereka bernama Poa Tjong Kwan, karena berbakat wiraswasta, mendirikan perusahaan kecil yang, tentu saja, menjual jamu Jawa dan rempah-rempah. Dari usaha kecil-kecilan itu lahir cap Djago. Minggu lalu, 60 tahun kemudian di Semarang, cap Djago itu merayakan hari jadinya. Resepsinya di Wisma Pancasila berlangsung meriah, dengan band musik Djago sendiri. Dari Jakarta akhir minggu ini, menurut rencana, akan didatangkannya pula Orkes Simfoni Remaja pimpinan Rudy Laban untuk melanjutkan perayaan HUT Djago ini. Kini cap Djago sudah diusahakan secara industri oleh keturunan Poa. Sesuai dengan zaman, pabriknya dilengkapi dengan laboratorium. Produknya pun sudah meningkat ke kapsul. Kampanye promosinya sampai ke seluruh pelosok Indonesia. Pemasaran oleh para agennya sampai ke Singapura, Malaysia dan Pilipina. Malah di Negeri Belanda juga ada penggemarnya. BKKBN, badan resmi yang mempromosikan KB, juga tertarik, tapi bukan karena jamunya, melainkan karena capnya. Maka sudah sejak 1974 banyak bungkusan jamu cap Djago khusus dilampiri kondom. Djago terjual, kontraseptif pun tersebar secara cuma-cuma. BKKBN, menurut jurubicaranya, dengan demikian menghemat biaya penyebarannya, "apalagi Djago mempunyai daya tarik tersendiri." Salah satu keturunan Poa, kini bernama Panji Suprono, mengatakan kepada pembantu TEMPO Metese Mulyono: "Kini memang ada persaingan. Tapi itu lumrah. Satu hal kami pertahankan: Mutu dan harga rendah." Suprono ini adalah generasi ke-2 yang memimpin usaha Djago. Orangnya agak tinggi, bertubuh kecil, mengenakan kacamata bening. Dia dan kaumnya tidak perlu lagi turut meracik jamu. Namun mereka mengaku tidak lupa pada zaman Nyonya Dukun. 

MELIHAT ibunya meracik bahan jamu, Poa Tjong Kwan berpikir keras. Anak muda ini menilai, cara konvensional yang dilakukan ibunya itu tidak praktis. Bahan baku jamu, berupa dedaunan dan akar, bila dijual begitu saja akan merepotkan pembeli. Lalu muncul gagasan untuk meracik jamu dalam jumlah besar. Tepatnya, memproduksi secara masal. "Revolusi" pertama inilah yang melahirkan "Djamoe Djago". Sabtu pekan lalu ulang tahunnya yang ke-70 diperingati secara besar-besaran di Hotel Patrajasa, Semarang. Dan seperti biasa ada kejutan. Kali ini lewat kontes Jamu Jago (JJ) dicetak prestasi baru: 19 anak dan pemuda beramai-ramai naik ke atas satu sepeda, yang meluncur sejauh 200 meter. Rekor lama dibuat Jepang dengan 16 penumpang dan cuma mencapai 50 meter. Dan apa kata bos JJ? "Jamu Jago bukan sekadar barang dagangan, tapi memiliki makna ganda: bisnis, budaya, dan kemasyarakatan," demikian Jaya Suprana, Presiden DirekturJJ yang selalu punya ide untuk kontes aneh-aneh itu. Jaya Suprana -- yang semula lebih terkenal sebagai musisi dan tak disiapkan untuk duduk di pucuk pimpinan Jamu Jago -- tiba-tiba pada tahun 1972 dipanggil pulang dan Jerman Barat. Ternyata, ia ditugasi ayahnya, Lambang Suprana, untuk menjabat direktur pemasaran JJ. Ia tak bisa menolak -- ayahnya termasuk pemegang saham di JJ. Sepuluh tahun kemudlan Jaya resmi diangkat menjadi Presdir JJ yang kini memiliki enam lokasi industri satu di Solo -- seluas 4 hektar. Di bawah kepemimpinannya, JJ -- dengan 1.500 karyawan -- tampil lebih meyakinkan. JJ mencoba berbagai sarana promosi, baik nasional maupun internasional, termasuk lomba-lomba aneh, seperti kontes siul, kontes orang kate, sayembara kartun. Sejumlah tanda penghargaan internasional diterima JJ, di antaranya dari Trade Leader's Club (Spanyol) dan International Institut pour le Selection de la Qualite (Belgia). Seiring dengan itu "asset" JJ dari tahun ke tahun makin membengkak. Omset JJ diperkirakan mencapai puluhan milyar rupiah setahunnya -- 10 sampai 20 persen digunakan untuk promosi. Tak cuma itu. Si Jago mengembangkan divisi Farmasi dan divisi Kosmetik. Lebih dari 150 jenis jamu mulai dari Pegal Linu, Galian Singset, Sari Rapat, sampai obat kuat dipasarkan ke berbagai penjuru tanah air. Sementara itu, produk farmasi, antara lain dupa, diekspor ke Malaysia dan Selandia Baru. Malaysia, sebagai pasar jamu yang kuat, setiap bulannya membeli jamu tidak kurang dari Rp 200 juta. Dari negara ini pula kebutuhan jamu untuk Serawak, Sabah, Brunei, dan Muangthai dipasok. Yang sekarang sedang dijajaki adalah Belanda. "Hambatan jamu di tingkat internasional adalah ketidakpraktisan dan rasanya," tutur Jaya Suprana. Maka, lahirlah "revolusi" kedua. "Tahun ini JJ akan mengeluarkan produk baru yang praktis dan universal rasanya, biar orang asing mau minum Jamu. Tunggu saja nanti," tambahnya optimistis. Sejalan dengan itu, mesin-mesin pengolah modern secara bertahap didatangkan dari Taiwan dan Inggris. Mekanisasi memang satu keharusan karena persaingan di antara perusahaan Jamu saat ini cukup ketat. Tercatat sekitar 350 pabrik jamu besar dan kecil bernaung di bawah Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia (GPJI). Ada tujuh perusahaan yang punya pangsa pasar besar: Air Mancur, Nyonya Meneer, Jago, Sido Muncul, Mustika Ratu, Sari Ayu, dan Jamoe Ibu. Kebanyakan perusahaan jamu dikelola oleh "orang dalam", tapi JJ sebaliknya sudah lama menerapkan prinsip manajemen terbuka, tepatnya setelah tongkat komando diserahkan Poa Tjong Kwan alias TK Suprana pada Anwar Suprana, 1936. Anwar, yang sebenarnya lebih suka foya-foya itu, secara menakjubkan, mendobrak tradisi one man show dengan merekrut sejumlah mitra kerja. Adik-adiknya diserahi tanggung jawab mengelola JJ. Perusahaan lalu berkembang pesat. Sekitar akhir tahun 1940, dari Wonogiri pusat kegiatan dipindahkan ke Semarang. "Selain lebih efektif, kota itu strategis, terletak antara Jakarta dan Surabaya," kata Jaya Suprana. Belakangan masuk ke Solo. Aspek bisnis bagaimanapun tetap nomor satu. Namun, agaknya JJ -- seperti yang dilakukan sejumlah perusahaan terkemuka lainnya -- merasuk ke bidang kegiatan yang tak hubungannya dengan usahanya. Antara lain memberikan penyuluhan KB, PKK, beasiswa, dan olah raga (angkat besi, tinju, binaraga, dan angkat berat). Yusroni Henridewanto (Jakarta) dan Nanik Ismiani (Yogya) 

JAMU Jago ternyata masih tetap jago di tengah persaingan pasar jamu. Perusahaan jamu berlambang ayam jago ini, yang merayakan hari jadi ke-75 di Tahun Jago (1993), masih menguasai 60% pangsa pasar jamu di Indonesia. Bahkan, produksi mereka juga sudah masuk pasar Malaysia, Brunei, Thailand, Taiwan, dan Belanda. ''Setiap tahun, produksi kami terus meningkat 10 sampai 15 persen,'' kata Presiden Komisaris Jamu Jago, Jaya Suprana, pekan lalu. Kunci sukses mereka, menurut Jaya, adalah tanggap terhadap tuntutan konsumen dan berani membuat terobosan. Resep itu rupanya resep turun-temurun. Poa Tjong Kwan mendirikan usaha ini pada tahun 1918 karena melihat sistem penjualan jamu waktu itu tidak praktis. Mula-mula Poa Tjong Kwan membantu meracikkan jamu untuk konsumen di warung jamunya di Wonogiri, dan sukses. Setelah itu, ia melakukan terobosan lagi dengan membungkus jamu racikannya sehingga konsumen tinggal menyeduhnya kapan dan di mana saja. Produksi pertama jamu bungkusan ini, yang diberi nama Djamoe Djagoe, hanya dua macam: jamu kesehatan untuk laki-laki dan jamu babon untuk wanita. Waktu itu, Djamoe Djagoe sudah menembus pasar Solo, Yogya, Semarang, Surabaya, dan Jakarta. Seusai perang kemerdekaan, anak-anak Poa Tjong Kwan memindahkan usaha jamu keluarga ini ke Semarang, dan sukses pula. Jamu Jago, yang memproduksi mulai jamu pegel linu sampai jamu sari rapet, mulai dikenal di seluruh pelosok Nusantara. Di tangan generasi ketiga, di antaranya Jaya Suprana, Jamu Jago membuat terobosan dengan mengubah rasa jamu. ''Kami membuat jamu yang rasanya universal, tidak terlalu pahit, supaya orang asing juga mau meminum jamu,'' kata Jaya. Pada era Jaya Suprana, Jamu Jago, setelah mengeluarkan 150 jenis jamu, juga memproduksi dupa (ratus) pengharum ruangan. Ratus Bondek buatan Jamu Jago, menurut Jaya, sering dipesan untuk pengharum ruangan Istana Negara dan Istana Merdeka di Jakarta. Pada hari jadi ke-75, Jamu Jago kembali membuat gebrakan dengan mendirikan PT Dasa Gaya, yang bergerak di bidang farmasi. ''Ini upaya kami untuk menandingi infiltrasi obat-obatan dari luar negeri,'' ujar Jaya Suprana kepada wartawan TEMPO, Bandelan Amaruddin, di Semarang, pekan lalu. Pabrik yang akan memakai label Degefarm ini akan memproduksi sekitar 40 jenis obat penyakit rakyat: obat cacing, pilek, demam, diare, sampai obat sakit kepala. Pabrik Degefarm, yang juga berlokasi di Semarang, akan mulai berproduksi pada April 1994. Nama Jamu Jago tetap melekat di hati masyarakat tak cuma semata karena jamu. Jaya Suprana juga mengabadikan nama perusahaan lewat Museum Jamu dan Museum Rekor Indonesia serta kegiatan olahraga dan kegiatan sosial lainnya. Perusahaan Jamu Jago, antara lain, dikenal aktif membina cabang bina raga dan angkat berat, yang miskin sponsor, dan juga memberikan beasiswa bagi anak-anak tak mampu yang berprestasi tinggi di sekolah. Dalam waktu dekat ini, terobosan yang ingin dilakukan Jaya bersama Jamu Jago adalah mendirikan lembaga pendidikan pengobatan tradisional. Di Cina dan India, kata Jaya, pendidikan pengobatan tradisional bisa dikembangkan dan diakui oleh kalangan medis. Siapa tahu, kelak, pengobatan tradisional kita diperhitungkan orang seperti pengobatan tradisional Cina. Bambang Sujatmoko (Jakarta) dan Bandelan Amarudin (Semarang) 



>>> Daftar Jamu Godog Kendhil Kencana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar