Senin, 02 Januari 2012

Jamu Racikan 5 - Perpaduan Antara Seni dan Pengetahuan



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI




Meracik Jamu, Perpaduan Antara Seni dan Pengetahuan
SUHARMIATI DAN LESTARI HANDAYANI 
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan dan Teknologi Kesehatan


Pendahuluan

Hampir seluruh masyarakat, khususnya di Indonesia mengenal kata "jamu". Jamu yang berasal dari bahasa Jawa merupakan obat tradisional berupa racikan akar-akaran atau tumbuhan1. Jamu diartikan sebagai racikan tumbuhan yang digunakan dalam penyembuhan tradisional, pemeliharaan kesehatan dan kecantikan tradisional, serta racikan tumbuhan untuk makanan dan minuman tradisional. Jamu pertama kali berkembang di daerah Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta dan Jawa Timur2. Dua daerah itu merupakan cikal bakal perkembangan obat tradisional di Indonesia. Di daerah-daerah lain di Indonesia, pengobatan menggunakan obat tradisional juga sudah banyak dimanfaatkan dengan nama atau istilah yang berbeda, namun perkembangannya sebagai industri tidak secepat dan sebaik yang ada di pulau Jawa.
Keberadaan jamu tidak dapat dipisahkan dengan budaya lokal masyarakat. Adanya upaya untuk membuat atau meracik jamu terdorong oleh kebutuhan masyarakat setempat yang diimbangi dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah di lingkungan tersebut. Oleh karena itu, dalam meracik jamu selalu terkait dengan budaya setempat yang mempengaruhi peracik atau pembuat jamu yang merupakan penduduk lokal suatu daerah. Perbedaan budaya atau adat kebiasaan lokal memberi warna tersendiri bagi masing-masing suku dalam menyiapkan obat tradisional yang akan digunakan.
Di alam moderen, obat moderen yang berasal dari bahan kimia telah menggeser jamu, namun tidak mampu menyingkirkan jamu dari masyarakat. Obat moderen telah menyerbu dengan gencar melalui promosi hasil dan khasiat yang lebih menjanjikan serta memberikan harapan. Obat tradisional dalam masyarakat Indonesia tetap dicintai dalam bentuk aslinya sebagai "jamu" yang tentu saja tidak dapat dibandingkan dengan "fitofarmaka" yang notabene adalah "obat moderen" yang diolah dari bahan alam. Kelebihan jamu memberikan tempat tersendiri di hati penggunanya sehingga jamu mampu bertahan di tengah terpaan budaya moderen. Racikan jamu menyimpan suatu perpaduan seni dan pengetahuan, serta merupakan suatu ketrampilan tersendiri pada orang-orang tertentu. Pemeliharaan terhadap ketrampilan ini perlu terus dibina agar budaya asli ini tetap terjaga kelestariannya.
Jamu Sebagai Warisan Budaya Bangsa2

Secara umum, dapat dilihat bahwa minum jamu sudah menjadi budaya bagi orang Jawa, khususnya Jawa Tengah. Hal ini ditandai dengan peranan jamu yang sangat beragam bagi kehidupan masyarakat Jawa, mulai dari proses kelahiran, masa remaja, dewasa, bahkan sampai masa tua. Mereka minum jamu dengan maksud menjaga kesehatan, kekuatan, maupun kecantikan. Sebagai unsur budaya, dapat dikatakan bahwa jamu telah berkembang sejak ratusan tahun yang lalu, seiring dengan berkembangnya peradaban masyarakat Jawa. Hal ini dapat dilihat dari gambar-gambar relief di candi-candi seperti Candi Borobudur, Prambanan, serta candi Penataran berupa gambar-gambar pohon kamboja, maja, maja keling, buni, dan lain-lain. Di antara pohon itu, ada yang merupakan bahan obat, kosmetik, atau bahan jamu yang sampai sekarang masih digunakan. Mengingat keterbatasan kemampuan baca tulis masyarakat Jawa pada masa itu, kebanyakan resep jamu diturunkan kepada generasi berikutnya dengan dituangkan dalam sekar-sekar atau tembang-tembang yang dapat kita baca dalam buku "Serat Centini". Buku yang berisi tentang resep racikan jamu pertama kali muncul pada 1831, yaitu "Serat Kawruh Bab Jampi-jampi Jawi". Naskah aslinya masih tersimpan di Sonopoestoko Kraton Susuhunan Surakarta. Pada masa pemerintahan Paku Buwono X juga ditulis buku mengenai resep jamu, yaitu "Primbon Jampi Jawi" yang saat ini sudah ditulis dengan huruf latin.
Aturan dan Tatacara Meracik Jamu

Meracik jamu adalah pekerjaan yang dimulai dari memilih bahan baku, membersihkan, menakar, melumatkan, menyaring, dan menempatkan obat tradisional. Pekerjaan meracik dapat mempengaruhi manfaat dan kenikmatan rasa jamu. Untuk mendapatkan manfaat yang baik, perlu diperhatikan tentang higiene dan sanitasi pada proses pembuatan jamu tersebut.

Higiene dan Sanitasi3

Higiene dan sanitasi ialah upaya yang dilakukan untuk menjamin terwujudnya kondisi yang memenuhi persyaratan kesehatan. Secara garis besar, perbedaan antara higiene dan sanitasi ialah higiene lebih mengarah pada aktivitas manusia sedangkan sanitasi lebih menitikberatkan pada faktor-faktor lingkungan. Mengingat para pembuat jamu umumnya masyarakat golongan ekonomi lemah dan berpendidikan menengah ke bawah, maka pada umumnya tidak terlalu memperhatikan higiene dan sanitasi. Sementara itu, pembuatan jamu dalam jumlah besar akan memberi peluang bagi terjadinya pencemaran yang lebih tinggi. Jika higiene dan sanitasi tidak diterapkan dengan baik maka akan dihasilkan jamu dengan mutu yang jelek. Bahkan, dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan dalam kesehatan, misalnya terjadinya penyakit. Agar diperoleh jamu yang memenuhi persyaratan kesehatan, perlu diperhatikan hal-hal seperti air yang digunakan, kondisi pembuat jamu, bahan baku, peralatan, serta wadah yang akan digunakan.
Agar jamu yang dihasilkan higienis, air yang digunakan untuk pembuatan jamu harus air bersih. Air ini dapat diambil dari air PDAM, air sumur, air sumber, maupun air mineral. Air bersih mempunyai tanda-tanda tidak berbau, tidak berwarna dan jernih, tidak berasa, tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya, serta tidak mengandung bibit penyakit.
Pembuat jamu merupakan unsur penting dalam rangkaian/proses pembuatan jamu. Higiene perseorangan pembuat jamu dan berperilaku higienis merupakan jaminan utama untuk dapat membuat jamu yang bersih.
Seorang pembuat jamu haruslah dalam keadaan sehat pada saat membuat jamu. Kondisi sakit dapat berpengaruh terhadap jamu, khususnya apabila menderita penyakit menular. Jamu dapat menjadi media penularan penyakit bagi konsumennya. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pembuat jamu adalah kesehatan, kebersihan, perilaku higienis, serta kebersihan pakaian dari pembuat jamu. Peralatan yang digunakan dalam membuat jamu harus dalam keadaan bersih. Sebelum digunakan, peralatan harus sudah dalam keadaan bersih dan dikhususkan untuk pembuatan jamu. Pencucian yang segera dilaksanakan pada setiap kali selesai digunakan, akan memudahkan pembersihan dan membuat peralatan menjadi lebih tahan lama. Peralatan yang selesai dibersihkan harus disimpan dalam keadaan kering dan di tempat yang kering pula, agar tidak terjadi pertumbuhan jamur yang dapat merugikan kesehatan. Jamu yang telah diolah dan siap dipergunakan biasanya diletakkan dalam wadah. Sebelum digunakan, wadah tempat jamu harus dibersihkan dahulu dengan cara dicuci, kemudian dibilas dengan air matang.
Bahan baku merupakan bahan pokok dalam produksi jamu. Oleh karena itu, kebenaran bahan, ketepatan takaran, dan kualitas bahan menjadi sangat penting. Setiap bahan baku yang akan digunakan harus dilakukan sortasi terlebih dahulu untuk membebaskan bahan dari bahan asing dan kotoran lainnya. Setelah dilakukan sortasi, kemudian dicuci dengan air bersih dan dikeringkan. Bila tidak langsung digunakan, bahan disimpan dalam wadah yang tertutup.
Meracik Jamu Sebagai Suatu Seni
Seperti diterangkan di atas bahwa meracik jamu adalah pekerjaan yang dimulai dari memilih bahan baku, membersihkan, menakar, melumatkan, menyaring, dan menempatkan jamu dalam suatu wadah. Bila kita kaitkan dengan seni yang merupakan "rasa" dari apa yang kita kerjakan, maka setiap langkah dari kegiatan meracik jamu mempunyai nilai seni tersendiri
Pemilihan Bahan Baku
Bahan baku bisa diperoleh dari hasil panen sendiri atau dengan cara membeli. Bila kita mengambil bahan baku dari kebun obat, kita sudah bisa merasakan bahwa apa yang akan kita ambil tersebut merupakan ciptaan Tuhan YME, yang patut kita syukuri. Dilihat dari warna dan wujud tanaman yang tidak terhingga banyaknya maupun dari kegunaan tanaman tersebut, kita akan mengakui bahwa tidak ada sesuatu yang diciptakan dengan sia-sia. Selain itu, dalam pemilihan bahan baku kita mengetahui tinggi tidaknya kandungan bahan berkhasiat yang bisa di-"rasa"-kan dari bau, warna , besar/kecilnya, ataupun bentuk/wujudnya. Sebagai contoh, bila memilih bahan baku kunyit, pertama-tama kita pilih dahulu empu dari kunyit tersebut. Biasanya, empu kunyit lebih besar dibandingkan dengan yang bukan empu. Bila kita potong kunyit tersebut, maka kita akan memilih kunyit dengan warn oranye, bukan warna kuning, karena warna kuning menunjukkan jenis kunyit yang muda. Baunya pun kurang keras dibandingkan dengan yang berwarna oranye. Hal tersebut menunjukkan kandungan bahan berkhasiat kurkumin dan minyak atsiri yang rendah.
Kadang-kadang, peracik jamu menentukan bahan baku yang sesuai melalui sesuatu yang tidak rasional. Misalnya melalui mimpi, insting, atau suatu perasaan keyakinan bahwa tanaman tersebut bermanfaat, atau petunjuk berdasarkan suatu kejadian.
Membersihkan
Pada saat kita membersihkan suatu bahan jamu, kita menyadari bahwa kebersihan pangkal kesehatan. Tetapi, di balik itu ada rasa kepuasan apabila kita mampu menyajikan sesuatu yang bersih. Dengan menghayati dan meresapi pembuatan jamu, akan dihasilkan jamu yang bermanfaat.
Menakar
Untuk memperoleh khasiat yang sama dalam pembuatan jamu, diperlukan
takaran dari masing-masing bahan baku. Bila kita meracik jamu dengan nilai seni, maka kita melakukannya dengan rasa, sehingga jamu yang dihasilkan akan mempunyai khasiat yang sama. Takaran secara tradisional kadang-kadang hanya menggunakan cara dan alat yang sederhana. Perasaan tentang ketepatan takaran maupun jenis bahan kadang-kadang tidak dapat disamakan untuk peracik jamu antara satu dengan lainnya. Sebagai contoh, bila dalam pembuatan suatu jamu kita menggunakan "rasa" maka akan dihasilkan suatu jamu dengan rasa dan aroma yang sama. Misalnya, pembuatan jamu kudu laos dengan rasa yang pedas karena rasa dari laos, aroma yang keras dari bahan kudunya, serta dengan kekentalan tertentu. Rasa pedas dari laos serta aroma yang keras dari kudu tersebut bisa dihubungkan dengan pemilihan bahan baku, yaitu dipilih bentuk, besar, bau, serta warna tertentu yang dapat dirasakan oleh pembuat jamu. Bila kita meracik jamu tersebut dengan menggunakan rasa, maka akan dihasilkan jamu kudu laos yang seolah-olah berjiwa.
Melumatkan/Menghaluskan
Melumatkan bahan baku berarti kita memperkecil ukuran bahan baku, sehingga kandungan yang ada dalam bahan baku dapat bekerja lebih maksimal. Jamu pun akan lebih bermanfaat. Tidak ada standar atau ukuran tertentu yang menuntun seorang pembuat jamu agar menghentikan proses penghalusan bahan. Untuk mencapai suatu titik pelumatan tertentu, seringkali dilakukan berdasarkan perasaan dan pengalaman.
Menempatkan Jamu
Menempatkan jamu dan memberi label/etiket pada jamu merupakan suatu seni tersendiri. Wadah yang bersih serta bentuk yang "menarik" akan memberi kesan tersendiri, baik bagi si pembuat maupun bagi pengguna/konsumen jamu. Bentuk dan bahan wadah yang telah dikenal secara tradisional dapat memberikan sentuhan tradisi yang lebih mendalam. Misalnya, jamu disimpan dalam wadah yang terbuat dari tanah liat dengan bentuk tradisional. Demikian juga label/etiket pada kemasan jamu. Jika dipasang dengan proporsi yang benar akan mempunyai nilai estetika yang tinggi.
Meracik Jamu dari Beberapa Etnis di Indonesia
Indonesia terdiri dari beberapa suku (etnis). Masing-masing suku mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri. Demikian juga dengan meracik jamu. Berikut ini disampaikan metode meracik jamu dari beberapa etnis di Indonesia, yaitu dari Tonsea Minahasa, Bali, Jawa, Madura, dan Maluku.
Etnis Tonsea Minahasa (Sulawesi)4
Jenis-jenis sediaan obat tradisional di Tonsea diracik dengan cara yang sangat sederhana, yaitu berupa ramuan segar daun, tanaman obat yang dikeringkan, bentuk rebusan, dan obat tradisional untuk mandi. Tetapi, yang menarik dari etnis Tonsea Minahasa adalah adanya bentuk sediaan yang unik, yaitu "preparat asap" dan "preparat uap". Tetapi, yang perlu dipikirkan adalah apakah "preparat asap" atau "preparat uap" ini benar-benar rasional, efektif, dan aman. Beberapa bahan obat tradisional yang telah terbukti berkhasiat, ternyata juga dipakai sebagai obat tradisional di Tonsea, misalnya temulawak ("tumbulawa), kunyit ("kuni"), daun tapak kuda (to'dong noat"), kumis kucing ("makumi nemeong"), kencur ("sukur"), daun sirih ("douna"), buah pinang ("mbua"), pare ("paria"), pala, cengkeh, jahe ("sedep"), kucai ("dansuna kayu"), bawang putih ("dansuna puti"), dan terong (poki-poki). Beberapa tanaman obat yang sering digunakan sebagai ramuan obat tradisional di Tonsea dan mungkin juga spesifik bagi daerah ini adalah "kaseta" (Jatropha curcas, jarak pagar), "se se wanua" (Clerodendron serratum), "kayu lawang", "reramdam", "dudi", "tulis wene" (geloba, amomum album), "karimenga" (goringo" Menado), dan "tere". Kebenaran khasiat tanaman ini perlu dilakukan penelitian farmakologinya, mengingat belum banyak literatur yang memberikan penjelasan tentang jenis tanaman obat tersebut.
Etnis Bali5,6
Upaya pengobatan tidak lepas dari kepercayaan dan pemahaman masyarakat terhadap penyebab penyakit. Pada umumnya, masyarakat di Bali percaya bahwa penyakit disebabkan oleh dua factor, yaitu faktorsekala (penyakit yang tampak, nyata, dan berujud, misalnya luka kena pisau, dipukul, pilek, dan sebagainya) serta faktor niskala (penyakit yang tidak tampak, tidak nyata, dan tanpa sebab yang pasti, misalnya gila, bengkak tanpa sebab, pingsan mendadak, dan sebagainya). Bila menderita suatu penyakit, masyarakat Bali berupaya mencari penyebab dan upaya penyembuhan. Biasanya langsung pergi ke RS/Dokter, baru kemudian diikuti secara tradisional, misalnya ke dukun atau ke suatu tempat dimana mereka kena musibah, kemudian di sana "nglempana, ngulap ambe". Bagi para dukun yang agak moderen pemikirannya, akan mengkombinasikan pengobatan tradisional dengan pengobatan moderen. Upaya pengobatan tradisional dan ramuan obat seperti tertulis dalam berbagai rontal antara lain Rontal-rontal Mpu Lutuk, Prembon Banten, dan Yajnaprakiti yang merupakan koleksi Kesari Sanggraha.
Tidak jauh berbeda dengan etnis Tonsea, ramuan tradisional di Bali diracik dengan cara yang sederhana pula, misalnya tanaman/bagian tanaman obat diiris-iris tipis, kemudian ditempelkan di tempat yang sakit (contoh: bawang putih dan mentimun). Selain itu, ramuan digiling halus, kemudian ditempel di tempat yang sakit atau diaduk dalam air mendidih, direbus, diperas, bahkan ada beberapa tanaman obat yang dikonsumsi sebagai lalapan. Tanaman-tanaman obat yang digunakan oleh masyarakat Bali tidak banyak berbeda dengan yang digunakan oleh etnis Jawa seperti jahe, kunyit, sirih, pinang muda, asam kawak, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Etnis Jawa7,8
Tidak berbeda dengan etnis-etnis yang lain di Indonesia, meramu jamu sampai pada pengolahan jamu umumnya dilakukan oleh "dukun". Hal ini terjadi sebelum kebudayaan Barat masuk ke Indonesia. Pada waktu itu, profesi "dukun" mendapat tempat terhormat di masyarakat, bahkan boleh dikatakan menjadi tumpuan harapan bagi masyarakat. Cara yang dilakukan oleh masing-masing dukun berbeda-beda, ada yang dengan mantra, sesaji, atau dengan menggunakan ramuan obat. Ilmu tentang ramuan pada umumnya bersumber pada ilmu semu (signature) atau lengkapnya disebut Doctrine Signature. (De geschiedenis der volken. Dr. C.L.v.d.Burg.). Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa nenek moyang kita dahulu pada umumnya sangat percaya bahwa Tuhan Yang Maha Esa telah berkenan memberikan tanda-tanda pada tiap-tiap tanaman berupa wujud atau warna tertentu yang mirip (menyerupai) dengan bagian tubuh penderita yang akan diobati. Contohnya, kalau ada penderita sakit kuning (ikterus), para dukun akan memberi umbi temulawak (Curcuma xanthorrhiza) sebagai bahan pokoknya, karena umbi temulawak tersebut warnanya kuning. Sedangkan jika "dukun" mengobati penyakit yang ada hubungannya dengan darah, misalnya luka, ibu-ibu yang baru melahirkan dan pada masa haid, biasanya menggunakan kunyit (Curcuma domestica), karena jika dipotong warna kunyit seperti merah. Apalagi jika ditambah dengan kapur sirih, warnanya akan menjadi merah darah.
Kebiasaan minum jamu bagi masyarakat Jawa berlaku bagi semua golongan usia. Mulai dari anak-anak, mereka sudah dibiasakan minum jamu, misalnya jamu penyegar (sinom atau kunyit asam). Bagi remaja putrid, sejak mengalami menstruasi, dianjurkan untuk minum jamu galian putri setelah haid secara rutin. Setelah menginjak dewasa dan akan melangsungkan pernikahan, bagi remaja putri perlu dilakukan persiapan, mulai dari merawat tubuh dengan menggunakan lulur dan bedak dingin agar kulit menjadi halus serta wajah berseri-seri. Jamu-jamu yang diminum ditujukan agar tubuh harum dan tidak berkeringat. Selain itu, juga minum jamu rapet agar tidak terjadi keputihan dan lendir di liang vagina tidak banyak. Setelah berumah tangga, wanita selalu berupaya untuk minum jamu sebagai perawatan sehari-hari, serta untuk memberikan pelayanan yang baik dalam hubungan suami isteri. Dua kali setiap minggu (hari Senin dan Kamis) ibu-ibu minum jamu galian rapet. Kebiasaan minum jamu juga dilakukan untuk menjarangkan kehamilan, atau perawatan mulai dari kehamilan sampai kelahiran.
Cara meracik yang dilakukan oleh etnis Jawa juga tidak jauh berbeda dengan etnis-etnis yang lain, yaitu dengan cara dipipis, diperas, ataupun direbus/digodok.
Etnis Madura8
Kebiasaan minum jamu ibu-ibu Madura dimaksudkan untuk menjaga kesehatan mereka. Begitu melekatnya kebiasaan minum ini sehingga seorang ibu mengatakan lebih baik tidak makan daripada tidak minum jamu. Jamu tersebut dibeli di toko-toko jamu yang siap diminum berupa pil atau seduhan dalam bentuk kemasan untuk diminum di rumah atau diminum di tempat pembelian. Menurut mereka, wanita Madura dan orang Madura pada umumnya lebih menyukai minum jamu berupa seduhan yang diminum bersama-sama dengan seluruh serbuknya karena lebih terasa, baik rasa maupun baunya. Dikatakan pula bahwa khasiatnya lebih nyata daripada minum jamu berupa pil atau serbuk.
Cara minum jamu juga ada aturan tertentu. Pada waktu minum jamu, sebaiknya dilakukan dengan cara berdiri, berbeda dengan minum biasa yang dilakukan sambil duduk. Cara ini sebagian masih dipraktikkan meskipun tidak diketahui maksud dari cara tersebut. Demikian juga dalam menambahkan campuran jamu. Campuran jamu yang spesifik di Madura adalah cuka. Cuka yang digunakan adalah cuka hasil olahan darilegen yang diperoleh dari pohon enau. Legen disimpan selama minimal satu minggu dan sudah siap sebagai cuka untuk campuran jamu.
Sebagian besar ibu-ibu selalu meracik jamu dengan cara merebus rempah-rempah yang diperoleh dari halaman ataupun membeli di pasar bagi yang tidak mempunyai TOGA atau sayang untuk mengambil TOGA di halaman.
Etnis Maluku9,10
Sejak abad ke-15, Ambon terkenal sebagai pusat perdagangan rempah, meskipun penghasil rempah umumnya diperoleh dari daerah Maluku dan sekitarnya. Kekayaan alam ini telah menarik perhatian bangsa lain. Salah satunya adalah George Everhard Rumphius yang kemudian mengunjungi Ambon, dan selanjutnya menulis buku "Herbarium Amboinense" pada abad ke-17. Buku ini memuat berbagai berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh di daerah Ambon dan Maluku, termasuk tumbuhan rempah, obat, dan sebagainya.
Tumbuhan obat merupakan bahan utama dalam pengobatan tradisional yang telah digunakan sejak lama oleh masyarakat Ambon. Setiap daerah/suku bangsa tertentu, seperti suku Ambon, mempunyai upaya kesehatan yang sudah menyatu dengan kebudayaannya. Ditinjau dari aspek pengetahuan tentang pengobatan tradisional, suku Ambon merupakan masyarakat yang mampu menolong dirinya dan keluarganya dengan pengobatan tradisional.
Cara pengobatan yang dilakukan oleh etnis Maluku ada bermacam-macam, baik tunggal maupun gabungan tindakan pengobatan. Misalnya, gabungan akupresur; pijat refleksi telapak kaki dan urut (Ambon); urut (Ambon, Suli, Telaga kodok, Liang, Mamala, Haruku); disembur; dikop (Ambon); dijilat/disedot/diisap (Ambon); dimandikan dengan ramuan obat; serta menyiram kepala dengan ramuan obat (Amahusu). Tetapi, sebagian besar cara pengobatan tersebut menggunakan ramuan obat.
Ramuan tradisional etnis Maluku disajikan dengan cara dimakan segar (misalnya daun kaki kuda), dimakan mentah/digosok ke seluruh tubuh (misalnya bawang merah), dikukus setengah matang kemudian dimakan (misalnya beluntas), direbus kemudian airnya diminum (misalnya belalang babiji/meniran), daun diremas kemudian ditempel di luka (misalnya turi), serta dikonsumsi dengan cara ditumbuk, kemudian ditambah air hangat, diperas, kemudian airnya diminum.
Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam meracik jamu secara tradisional, tidak dapat dipungkiri adanya unsur seni yang mengiringi pengetahuan dan ketrampilan yang terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Unsur seni merupakan bagian dari tradisi yang telah melekat di masyarakat setempat. Kehadiran unsur seni memperkuat dan mempererat ikatan antara jamu dengan penggunanya, yang di sisi lain akan meningkatkan khasiat dan manfaat yang dirasakan pengguna jamu. Tanpa seni, jamu hanyalah alat yang digunakan untuk tujuan tertentu. Dengan adanya seni telah menimbulkan ikatan emosi yang menjadi pengikat antara masyarakat dengan penerimaan keberadaan jamu.
Daftar Pustaka

  1. Poerwodarminto, WJS., 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : PN Balai Pustaka.
  2. Susanto, Yuli W., 1996. Sejarah Jamu Gendong. Diambil dari Buku Penyuluhan Jamu Gendong, 1995. Jakarta: Direktorat Pengawasan Obat Tradisional, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan R.I.
  3. Gade, Bachtiar, 1996. Higiene dan Sanitasi pada Pembuatan Jamu Gendong. Diambil dan Buku Penyuluhan Jamu Gendong, 1995. Jakarta: Direktorat Pengawasan Obat Tradisional, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan R.I.
  4. Moningka, Botje H, 1985. Beberapa Bahan Obat dan Ritus Dalam Pengobatan Tradisional di Tonsea-Minahasa. Seminar Penelitian Indonesia Bagian Timur Leknas-LIPI dan Unsrat, Manado, 23-29 Juli tahun 1985.
  5. Tinggen, I Nengah, 1996. Sarining Usada Bali Pusaka Leluhur Jilid I dan II. Singaraja : Toko Buku Indra Jaya.
  6. Purwanto, Waluyo, Eko Baroto, 2000. Prosiding Seminar Nasional Etnobotani III. Tema Kebifakan Masyarakal Lokal Dalam Mengelola dan Memanfaatkan Keanekaragaman Hayati Indonesia. Denpasar, Bali, 5-6 Mei tahun 1998.
  7. Sudibyo, Broto, 1985. Rarnuan Obat Tradisional. Yogyakarta : Bagian Pengembangan Pengobatan Tradisional UPKM/CD RS Bethesda.
  8. Handayani, L,, Suharmiati, Sukirno, S., dkk. 1996/1997, Inventarisasi Jamu Madura yang Dimanfaatkan untuk Perawatan Kesehatan dan Pengobatan Gejala Penyakit yang Berkaitan Dengan Fungsi Reproduksi pada Wanita. Surabaya : Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan.
  9. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, 1990. Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya. Pengobatan Tradisional Daerah Maluku. Jakarta.
  10. Nasution, Rusdy E., Roemantyo, H,, Waluyo B. Eko, Soekarman K., 1995. Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani II, Buku I Tumbuhan Obat. Diselenggarakan oleh Puslitbang Biologi LIPI, Fakultas Biologi UGM, lkatanPustakawan Indonesia. Yogyakarta, 24-25 Januari 1995.


>>> Daftar Jamu Godog Kendhil Kencana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar