Senin, 16 Januari 2012

Jamu Cekok 2



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI


Warung Jampi Asli Jamu Cekok Kulon Kerkop
Jl. Brigjend. Katamso no. 132 Kampung Dipowinatan, Kalurahan Keparakan, Kecamatan Mergangsan, Yogyakarta

RAMUAN JAMU CEKOK KULON KERKOP YOGYAKARTA:

SUDAH EKSIS SEJAK 1875


Ramuan herbal untuk pengobatan sudah dikenal masyarakat Jawa sejak zaman lampau. Ramuan herbal seperti itu oleh masyarakat Jawa dikenal dengan nama jamu yang dalam bahasa krama disebut jampi. Pengertian jamu kurang lebih sama dengan pengertian obat.

Salah satu tempat di Yogyakarta yang menyediakan ramuan herbal atau jamu ini adalah sebuah kios jamu yang dikenal dengan nama Kios atau Warung Jampi Asli Jamu Cekok Kulon Kerkop yang beralamatkan di Jl. Brigjend. Katamso no. 132 Kampung Dipowinatan, Kalurahan Keparakan, Kecamatan Mergangsan, Yogyakarta Dinamakan Warung Jamu Cekok Kulon Kerkop karena tempat ini dulunya berdekatan dengan kerkop (kerkoff ‘kuburan orang Belanda) yang kini menjadi kompleks Purawisata.

Penamaan Kulon Kerkop lebih mengacu pada pengertian lokasi keberadaan warung, bukan nama warungnya itu sendiri. Penamaan Kulon Kerkop sebenarnya ditujukan untuk lebih memudahkan orang untuk datang atau mendatangi lokasi penjualan jamu yang dimaksud.

Cekok adalah sistem pengobatan atau pemberian ramuan jamu yang dilaksanakan dengan mengucurkan perasan ramuan jamu ke dalam mulut seseorang. Biasanya dalam melaksanakan pengobatan dengan sistem cekok ini orang yang dicekoki cenderung tidak mau meminum sendiri ramuan jamunya dengan berbagai alasan. Umumnya orang-orang yang dicekoki adalah anak-anak atau balita. Hal ini dilakukan karena hampir semua balita tidak menyukai rasa jamu yang agak pahit atau getir.

Untuk melaksanakan pencekokan biasanya tangan, kaki, dan kepala balita dipegangi. Sedangkan mulutnya dibuka dengan paksaan. Ketika mulut balita tersebut terbuka, maka ramuan jamu cekok yang telah dibungkus dalam kain penyaring dalam bentuk bulat sebesar bola pingpong diperas, air perasaanya dikucurkan ke dalam rongga mulut balita tersebut. Akibatnya balita yang dicekoki umumnya menangis. Kecuali itu, air perasaan jamu cekok akan meluncur ke dalam kerongkongannya. Oleh karena proses pemasukan air ramuan jamu cekok ini dengan cara dipaksakan atau terpaksa, balita yang bersangkutan biasanya akan sedikit tersedak. Selain itu, dapat dipastikan balita tersebut menangis karena merasa disakiti.

Pendirian warung jamu ini semula dirintis oleh Kertowiryorahardjo tahun 1875

Jamu Cekok Kulon Kerkop ini diam-diam ternyata telah berusia hampir dua abad. Usia yang tidak main-main. Warung ini ternyata telah berdiri sejak tahun 1875. Pendirian warung jamu ini semula dirintis oleh Kertowiryorahardjo. Untuk mendapatkan bahan-bahan ramuan jamunya Kertowiryorahardjo terpaksa membelinya di Demak. Ia harus menempuh perjalanan ke sana selama 3 hari tiga malam dengan berjalan kaki. Maklum, saat itu transportasi dengan kendaraan bermesin dari Yogya ke Semarang-Demak nyaris belum ada. Jalanan menuju ke sana pun masih berupa jalan tanah (setapak). Bayangkan sendiri jika Anda melakukan hal yang sama. Betapa letih dan pegalnya ! Hal seperti itu terpaksa dilakukan Kertowiryorahardjo karena bahan-bahan jamu yang ada di Yogyakarta waktu itu tidak sekomplet di Demak.

Dari sekian resep jamu yang dijual di Warung Jamu Cekok Kulon Kerkop ini, Jamu Cekok-lah yang paling banyak dicari orang. Jamu Cekok yang biasa dicari biasanya adalah jamu yang ditujukan untuk mendongkrak nafsu makan anak-anak, mengobati cacingan, batuk, sawan, pilek, dan demam.

Jika kita membawa balita ke tempat ini dan mengatakan tentang keluhan penyakitnya, maka tukang jamunya akan dengan cekatan meramu sekian komponen jamu sebagai sarana bagi pengobatannya. Perlu diingat bahwa jamu di tempat ini disediakan dalam keadaan segar (basah). Jadi, jika ramuan jamunya tersisa maka akan dibuang. Hal ini dilakukan karena jamu basah memang tidak bisa bertahan lebih dari satu hari.

Zaelali (76) selaku pewaris generasi ke empat dari usaha jamu ini 

Zaelali (76) selaku pewaris generasi ke empat dari usaha jamu ini menyatakan bahwa untuk membuat ramuan jamu dia mesti jeli mengamati cuaca. Jika cuaca mendung dan potensial untuk turun hujan ia akan mengurangi volume pembuatan jamu. Sebab jika turun hujan umumnya pasien yang datang juga sedikit. Demikian pula sebaliknya.

Menurut Zaelali jika dihitung rata-rata dalam seharinya ada 50-an anak balita yang dicekokkan di warung jamunya. Jika satu porsi jamu cekok dipatok harga Rp 2.000,-, maka pendapatan yang diperolehnya dalam sehari adalah Rp 100.000,-. Itu belum termasuk pendapatan dari penjualan jamu yang digunakan untuk orang dewasa dan ramuan-ramuan jamu yang dibawa pulang.

Zaelali sendiri tidak tahu mengapa dari sekian resep jamu yang diwarisinya itu hanya jamu cekoklah yang paling laris atau dipercaya cespleng oleh pelanggan. Mungkin itu memang rahasia resep andalan yang diwariskan oleh moyangnya, Kertowiryorahardjo. Tentu saja hal ini sangat disyukuri oleh Zaelali yang kini mempekerjakan 4 orang karyawan di warungnya. Bahkan menurut pengakuan beberapa pasien mereka lebih senang meminumkan jamu cekok untuk mengobati penyakit anak-anaknya daripada obat produk pabrik yang sarat dengan bahan kimia. Mereka cemas dengan berbagai dampak yang ditimbulkan oleh bahan-bahan kimia tersebut. Terbukti juga banyak pasien yang sudah kebal obat pabrik masih bisa tertolong dengan jamu produksi Kulon Kerkop ini.

Warung berukuran mungil sekitar 1,60 m x 4 m ini dapat dikatakan minim polesan

Satu hal yang istimewa dari warung ini adalah sifat kesederhanaannya. Demikian bersahaja. Warung berukuran mungil sekitar 1,60 m x 4 m ini dapat dikatakan minim polesan. Tampil apa adanya sehingga mengesankan kejadulannya. Kesederhanaan itu merambah juga dalam sistem pembayarannya yang demikian murah. Itu pun jika pelanggan terpaksa ngutang masih tetap diikhlaskan. Bisa dibayar ketika minum jamu lagi di kemudian hari. Tidak perlu agunan atau jaminan. Lho ? Memang. Demikian bersahaja dan nyedulur dengan pelanggannya. Membayar kurang boleh mengutang. Hebat kan ?!

Selain jamu cekok untuk balita, di Warung Jamu Cekok Kulon Kerkop yang juga dilengkapi dengan papan identitas Jampi Asli Lama ini juga menyediakan menu-menu jamu untuk dewasa yang jika dihitung jumlahnya lebih dari 30 jenis ramuan. Mulai dari galian pria, galian wanita, pegel linu, watukan, cabe puyang, kunir asem, pahitan, dan sebagainya.

Zaelali menegaskan bahwa ramuan jamunya sama sekali tidak ditambahi unsur bahan kimia. Semuanya herbal alami. Selain itu ia menegaskan bahwa ia tidak buka cabang. Warung jamunya mulai buka sejak jam 06.00 – 20.00 WIB. Bagi Anda yang ingin berbadan sehat, bergairah, hilang letih lelah dan merasa greng, mungkin ada baiknya juga Anda sesekali mencoba jamu Kulon Kerkop ini. Siapa tahu Anda cocok.

foto dan teks : a. Sartono k.



"Jampi Asli", Jamu Cekok Yang Dirindukan


Bagi sebagian orang jamu adalah minuman yang menakutkan, pahit dan berbau. Namun bagi sebagian orang lagi minuman yang satu ini sangat digandrungi, bahkan menjadi minuman wajib karena kasiatnya bagi tubuh. Paling tidak, itulah yang dipercaya dan mulai ditanamkan oleh orang tua pada anak-anak sejak balita. Pada awalnya, kebanyakan bahkan hampir semua anak kecil tentu tak mau untuk meminum jamu yang sangat pahit bagi mereka. Namun karena khasiat bagi kesehatan tubuh yang dipercaya orang tua mereka maka cara cekok adalah satu-satunya alternatif untuk memaksa anak mengkonsumsi jamu.

Jamu cekok "Jampi Asli" di Jl. Brigjen Katamso No. 132 adalah satu-satunya tempat yang digandrungi dan banyak dikunjungi masyarakat Jogja. Bukan hanya dalam masa 1900 atau bahkan 2000-an ini, tetapi sudah sejak tahun 1800-an tepatnya tahun 1875. Anda dapat menerka, sudah generasi ke berapakah keluarga yang sekarang ini mewarisi. Karenanya Anda patut untuk mencoba jamu yang memiliki aneka jenis dan manfaat yang kini diwarisi oleh Zaelali.

Bapak empat anak yang kini telah berusia 74 tahun ini mengaku bahwa sebenarnya lebih tertarik dengan bidang elektronik daripada jamu. "Tapi karena dari kesembilan anak eyang tidak ada yang tertarik untuk untuk mewarisinya, maka saya beranikan diri untuk melanjutkan." Di sela waktu istirahat dirumahnya yang banyak ditumbuhi tanaman obat, ia juga mengungkapkan hobi lainnya yakni membaca buku-buku kesehatan. Dan bukan hanya itu, bapak yang masih nampak segar ini pun sangat tekun mencatat khasiat dan resep tanaman yang kadang ia dengar di radio, alhasil koleksi resepnya pun terus bertambah.

Barangkali hobi ini jugalah yang mendorongnya berani untuk melanjutkan usaha jamu cekok milik eyang yang juga mewarisi dari eyang sebelumnya. Apalagi bahan-bahan jamunya kini lebih mudah didapat. Kemajuan jaman membuatnya tak harus mewarisi kerepotan eyangnya, yaitu menempuh perjalanan kaki ke Demak selama tiga hari tiga malam hanya untuk mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan. Rupanya hal itu pulalah yang membuatnya tetap mempertahankan jamu cekok sebagai produk unggulannya. Jadi meski memiliki banyak resep lain, warung jamu yang kini mempunyai lima karyawan ini pun tak pernah sepi dari pengunjung yang meminta cekok bagi anak-anak.

Kata "cekok" yang dapat diartikan juga dengan meminumkan paksa ini memang cocoknya bagi anak-anak balita. Pemandangan itu akan Anda temui bila berkunjung ke sebuah tempat sempit tapi bersih di wilayah depan Purawisata sekitar jam tiga hingga enam sore. Banyak orang tua datang bersama dengan anak-anaknya. Kenapa saya sebut anak-anak? Karena para pengunjung rata-rata bukan hanya membawa satu anak. Dengan hanya mengucap kata cekok, maka sang penjaga jamu seperti Mbah Jinah dan Mbak Asih akan siap melayani dengan sebuah sapu tangan yang diisi dengan olahan jamu untuk kemudian diperas dimulut sang anak.

Menangis itu tentu, tapi bukan berarti hal itu merupakan sebuah ekspresi kapok. Setelah merasakan khasiatnya, mereka yang telah tumbuh besar bahkan dewasa sering merindukan jamu yang kini telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan ini. Pengakuan itu muncul dari salah satu pengunjung, Endarti yang kini telah berusia 30 tahun. Ia mengungkapkan bahwa dirinya memang sering kangen dengan jamu yang semasa kecilnya sering dicekokkan dengan paksa ke mulutnya ini. Tak jauh beda dengan Endarti, Ani yang datang dari Kasian Bantul juga mengaku sering merindukan jamu dari tempat ini. Bahkan kini ia mewariskan kerinduan itu pada dua anaknya, Putri (6) dan adiknya, Sekar yang masih balita. Ia dengan rutin setiap bulannya membawa anak-anak untuk mengkonsumsi jamu yang dihargai Rp 1.500,- ini meskipun kondisi mereka sehat walafiat.

Bagi anak-anak yang sedang menderita sakit, orang tua cukup menyebutkan apa sakitnya, maka sang tukang jamu akan memberikan beberapa campuran ke dalam jamu yang hendak dicekokkan. Sebagaimana warung jamu pada umumnya, jamu cekok "Jampi Asli" ini pun menyediakan jamu yang sering dikonsumsi banyak orang seperi, kunir asem, beras kencur, pahitan, dan jamu godogan. Bagi Anda yang mencari obat alternatif untuk berbagai penyakit dapat menemui sang empunya warung yang tak akan pelit untuk berbagi resep yang dimilikinya. (les)




cekok
  • sinonim : mendoktrin, mendoktrinasi, mendulang, menjejalkan, menyombol, menyuapi, menyuntik
  • obat tradisional yang dibuat dari ramuan rempah-rempah yang digiling dan dibungkus kain untuk diminumkan secara paksa dengan memeraskannya ke dalam mulut (biasanya untuk anak kecil)

cekokan (dari kata dasar cekok)
  • obat cekok
  • (kiasan) ajaran atau penerangan yang diterima begitu saja secara terus-menerus:
    pandangan hidup yang keliru ini adalah sisa-sisa cekokan zaman penjajahan dahulu

mencekok (pasif: dicekok, kucekok, kaucekok, tercekok, akar: cekok)
  • memberi minum cekok

mencekoki (pasif: dicekoki, kucekoki, kaucekoki, akar: cekok)
  • memberi minum cekok secara rutin atau terus-menerus:
    ibu-ibu di desa biasa mencekoki anaknya supaya tetap sehat
  • (kiasan) memberikan ajaran atau ilmu secara terus-menerus dan supaya diterima begitu saja oleh yang diberi ajaran

mencekokkan (pasif: dicekokkan, kucekokkan, kaucekokkan, transitif: cekokkan, akar: cekok)
  • meminumkan dengan paksa:
    setiap waktu yang telah ditentukan dia mencekokkan obat ini kepada anaknya
  • (kiasan) mengajarkan atau memberikan pengetahuan (ajaran, paham, dsb) terus-menerus:
    tokoh-tokoh partai telah berhasil mencekokkan paham politik partainya kepada anggotanya

mencangar (pasif: dicangar, kucangar, kaucangar, tercangar, akar: cangar)
  • membuka mulut (anak kecil) dengan paksa (dengan memencet hidungnya) untuk meminumkan obat dsb

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar