Selasa, 17 Januari 2012

Pipisan dan Gandhik 2



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI

Pipisan Jamu
Pipisan yang ada di Situs Sumur Bandung berukuran panjang sekitar 30 Cm, lebar 20 Cm, tinggi 20 Cm


SUMUR BANDUNG DI DUSUN BANDUNG, SEWON, BANTUL
Keletakan

Situs Sumur Bandung terletak di Dusun Bandung, Kalurahan Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY. Lokasi situs ini dapat dijangkau melalui Pertigaan Tembi (Jl. Parangtritis dalam persilangannya dengan jalan menuju Cepit/Jl. Bantul). Kurang lebih pada jarak 400 meter dari Pertigaan Tembi ini terdapat gang kecil menuju Dusun Bandung. Jalan kecil ini telah diberi papan petunjuk yang mengarahkan ke Dusun Bandung.

Kondisi Fisik
Benda atau artefak yang ada di Situs Sumur Bandung berupa tiga buah batu berbentuk lumpang dan sebuah pipisan (alat untuk menggiling jamu). Masing-masing ukuran Batu Lumpang di kompleks Sumur Bandung berbeda-beda.


Salah satu Batu Lumpang (A) bergaris tengah 2 x 2,5 meter dengan ketebalan bibir sekitar 12 Cm. Sementara Batu Lumpang yang lain (B) bergaris tengah 2 Cm dan bibir lumpang berukuran sekitar 12 Cm. Ketinggian kedua Batu Lumpang sekitar 50 Cm. Sedangkan sebuah Batu Lumpang yang lain (C) kelihatan datar karena bagian bibirnya telah hilang. Diameter Batu Lumpang dengan bibir yang telah hilang ini sekitar 1,5 m. Sementara pipisan yang ada di lokasi berukuran panjang sekitar 30 Cm, lebar 20 Cm, tinggi 20 Cm.


Keletakan batu berbentuk lumpang ini relatif tersebar di seputaran masjid dusun setempat. Dua buah batu lumpang berada di belakang masjid bersama dengan pipisan. Sementara satu batu lumpang lainnya berada di sisi utara-barat masjid. Batu lumpang di sisi utara-barat masjid ini wujudnya masih relatif utuh dan bahkan sering berisi air untuk minum unggas yang dipelihara tidak jauh dari lokasi.
Pipisan yang ada di lokasi diletakkan dalam sebuah bangunan berbentuk persegi (semacam pagar) yang terbuat dari tembok. Ukuran bangunan persegi itu sekitar 3 x 3 x 0,5 meter.


Latar Belakang
Situs Sumur Bandung dinamakan demikian karena keletakannya memang berada di Dusun Sumur Bandung. Nama Sumur Bandung menurut sumber setempat kemungkinan besar karena pada masa lalu di tempat itu pernah ditemukan sebuah sumur dengan mata air yang cukup besar. Sumur ini dalam legenda setempat disebutkan dibuat oleh Bandung Bandawasa, yakni seorang tokoh terkenal dalam legenda Roro Jonggrang atau terjadinya Candi Prambanan. Selain itu ada pula pendapat yang menyatakan bahwa Sumur Bandung itu dulunya tidak dibuat oleh manusia, namun sudah ada dengan sendirinya oleh karena faktor alam. Oleh karena itu sumur tersebut sering juga dinamakan Sumur Tiban.


Sumber setempat menyatakan bahwa batu-batu lumpang dan batuan lain yang ditemukan di Dusun Sumur Bandung itu ditemukan saat dilakukan penggalian tanah untuk pembangunan mushala/masjid di dusun tersebut.

a.sartono




Museum Airlangga berada di Jl. Mastrip 1, Kawasan Wisata Selomangleng, yang menyimpan arca batu dan benda-benda peninggalan purbakala lainnya dari jaman kejayaan kerajaan Mataram Hindu. Pada kali pertama saya datang di kawasan wisata Selomangleng, Museum Airlangga baru saja tutup, dan baru pada keesokan harinya saya bisa masuk ke dalam gedung Museum Airlangga ini.

Nama museum diambil dari nama Raja Airlangga, yang lahir di Bali pada 990 dan diduga meninggal di Belahan 1049, pendiri Kerajaan Kahuripan yang memerintah pada 1009-1042 dan bergelar Abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa.

Adalah Airlangga yang meminta Mpu Kanwa untuk menggubah sebuah karya sastra berjudul Kakawin Arjunawiwaha pada 1030, menyadur Wanaparwa, kitab ketiga Mahabharata karya Vyasa dari India.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar