Minggu, 08 Januari 2012

JAMU 6 - MANFAAT dan KEAMANAN



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI


Kelembak (Rhei Radix)

TINGKAT MANFAAT DAN KEAMANAN TANAMAN OBAT DAN OBAT TRADISIONAL

Penulis : Katno, S.Pramono Balai Penelitian Tanaman Obat Tawangmangu
Fakultas Farmasi, UGM

I. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN OBAT TRADISIONAL / TANAMAN OBAT

A. Kelebihan Obat Tradisional

Dibandingkan obat-obat modern, memang OT/TO memiliki beberapa kelebihan, antara lain : efek sampingnya relatif rendah, dalam suatu ramuan dengan komponen berbeda memiliki efek saling mendukung, pada satu tanaman memiliki lebih dari satu efek farmakologi serta lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeneratif

1). Efek samping OT relatif kecil bila digunakan secara benar dan tepat.

OT/TO akan bermanfaat dan aman jika digunakan dengan tepat, baik takaran, waktu dan cara penggunaan, pemilihan bahan serta penyesuai dengan indikasi tertentu.
a. Ketepatan takaran/dosis
b. Ketepatan waktu penggunaan
c. Ketepatan cara penggunaan
d. Ketepatan pemilihan bahan secara benar
e. Ketepatan pemilihan TO/ramuan OT untuk indikasi tertentu


2). Adanya efek komplementer dan atau sinergisme dalam ramuan obat tradisional/komponen bioaktif tanaman obat

Dalam suatu ramuan OT umumnya terdiri dari beberapa jenis TO yang memiliki efek saling mendukung satu sama lain untuk mencapai efektivitas pengobatan. Formulasi dan komposisi ramuan tersebut dibuat setepat mungkin agar tidak menimbulkan kontra indikasi, bahkan harus dipilih jenis ramuan yang saling menunjang terhadap suatu efek yang dikehendaki.

3). Pada satu tanaman bisa memiliki lebih dari satu efek farmakologi

Zat aktif pada tanaman obat umunya dalam bentuk metabolit sekunder, sedangkan satu tanaman bisa menghasilkan beberapa metabolit sekunder; sehingga memungkinkan tanaman tersebut memiliki lebih dari satu efek farmakologi. Efek tersebut adakalanya saling mendukung (seperti pada herba timi dan daun kumis kucing), tetapi ada juga yang seakan-akan saling berlawanan atau kontradiksi (seperti pada akar kelembak).


Kelembak (Rhei Radix) juga dijadikan campuran dalam pembuatan jamu. Khasiat obatnya adalah sebagai laksatif (penenang). Dalam pengobatan Tionghoa, ia dinamakan yào yòng dà huáng (bahasa Tionghoa: 药用大黄). Akar dan batangnya dipakai untuk mengobati sembelit (konstipasi), dan membantu mengatasi penggumpalan darah dan nanah. Orang Indian Amerika Utara juga memakainya sebagai bagian pengobatan herbal yang dinamakan essiac tea. Klembak diketahui sekarang juga mengandung bahan yang aktif dalam pengobatan Hepatitis B.

Kelembak mempunyai khasiat melancarkan buang air besar (laksatif) (baca: membuat diare dan mulas), sekaligus berkhasiat menghentikan diare dan mulas.


4). Obat tradisional lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeneratif

Sebagaimana diketahui bahwa pola penyakit di Indonesia (bahkan di dunia) telah mengalami pergeseran dari penyakit infeksi (yang terjadi sekitar tahun 1970 ke bawah) ke penyakit-penyakit metabolik degeneratif (sesudah tahun 1970 hingga sekarang). Hal ini seiring dengan laju perkembangan tingkat ekonomi dan peradaban manusia yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi dengan berbagai penemuan baru yang bermanfaat dalam pengobatan dan peningkatan kesejahteraan umat manusia.

Penyakit metabolik (Ingg: metabolic disorder) adalah penyakit medis yang berkaitan dengan produksi energi di dalam sel manusia (atau hewan). Kebanyakan penyakit metabolik adalah penyakit genetik atau penyakit keturunan, meski sebagian di antaranya disebabkan makanan, racun, infeksi, dan sebagainya. Penyakit metabolik genetik dikenal juga dengan sebutan gangguan metabolisme sejak lahir.
Salah satu penyakit metabolik yang terkenal dan banyak penderitanya adalah penyakit gula atau diabetes mellitus. Namun banyak di antaranya merupakan penyakit langka.

Penyakit degeneratif adalah penyakit yang mengiringi proses penuaan.penyakit ini terjadi seiring bertambahnya usia
Ada sekitar 50 penyakit degeneratif, diantaranya penyakit jantung, diabetes, stroke dan osteoporosis


B. Kelemahan Produk Obat Alam / Obat Tradisional

Adapun beberapa kelemahan tersebut antara lain : 
  • efek farmakologisnya yang lemah, 
  • bahan baku belum terstandar 
  • bersifat higroskopis serta volumines, 
  • belum dilakukan uji klinik 
  • mudah tercemar berbagai jenis mikroorganisme.


II. EFEK SAMPING TANAMAN OBAT/OBAT TRADISIONAL

Di samping itu perlu disadari pula bahwa memang ada bahan ramuan OT yang baru diketahui berbahaya, setelah melewati beragam penelitian, demikian juga adanya ramuan bahan-bahan yang bersifat keras dan jarang digunakan selain untuk penyakit-penyakit tertentu dengan cara-cara tertentu pula. Secara toksikologi bahan yang berbahaya adalah suatu bahan (baik alami atau sintesis, organik maupun anorganik) yang karena komposisinya dalam keadaan, jumlah, dosis dan bentuk tertentu dapat mempengaruhi fungsi organ tubuh manusia atau hewan sedemikian sehingga mengganggu kesehatan baik sementara, tetap atau sampai menyebabkan kematian.

III. PENYALAHGUNAAN OBAT TRADISIONAL/TANAMAN OBAT

Di antaranya yang sering terjadi adalah kasus penyalahgunaan cara pemakaian (seperti daun ganja, candu untuk dicampur dengan rokok, seduhan kecubung untuk flay dsb.), juga tujuan pemakaian (misalnya jamu terlambat bulan dicampur dengan jamu pegel linu untuk abortus) dan yang lebih luas lagi adalah penyalahgunaan pada proses penyiapan/produksi dengan cara menambahkan zat kimia tertentu/obat keras untuk mempercepat dan mempertajam khasiat/efek farmakologisnya sehingga dikatakan jamunya ‘lebih manjur, mujarab, ces-pleng’ dan lain-lain.

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa OT/TO dapat bermanfaat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, lebih-lebih dalam upaya preventif dan promotif bila dipergunakan secara tepat. Ketepatan itu menyangkut tepat dosis, cara dan waktu penggunaan serta pemilihan bahan ramuan yang sesuai dengan indikasi penggunaannya. Sebaliknya OT/TO-pun dapat berbahaya bagi kesehatan bila kurang tepat penggunaannya (baik cara, takaran, waktu maupun pemilihan bahan ramuan) atau memang sengaja disalahgunakan. Oleh karena itu diperlukan informasi yang lengkap tentang TO/OT, untuk menghindari hal-hal yang merugikan bagi kesehatan.

http://industri17krisna.blog.mercubuana.ac.id/tag/kelebihan-obat-tradisional/
http://www.muaro.com/tag/jamu/




Tanaman Kelembak (Rheum officinale)


Perlu Saintifikasi Jamu Agar Bisa Digunakan Untuk Resep Dokter

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menyatakan, kalangan industri jamu perlu melakukan saintifikasi obat tradisional ini agar kemanfaatan dan aspek keamanannya bisa dibuktikan secara ilmiah seperti obat modern.

Ketika meresmikan Laboratorium Terpadu Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu, ia mengatakan, untuk mempertanggungjawabkan manfaat ilmiah jamu, maka arah pengembangannya harus mengikuti pengembangan obat modern.

Oleh karena proses produksi jamu berbeda dengan obat modern, maka hingga sekarang praktik kedokteran juga belum bisa menerima obat tradisional atau jamu sebagai obat yang diresepkan.

Kalangan industri jamu harus bisa membuktikan secara ilmiah bawah obat berbahan alami itu memberikan manfaat klinik untuk pencegahan atau pengobatan penyakit, serta tidak menimbulkan efek samping alias aman dikonsumsi.

Kalang industri obat tradisional, katanya, perlu trobosan untuk mendapatkan "evidence based", yakni dengan saintifikasi jamu. 

Ia mengatakan, saintifikasi jamu adalah penelitian berbasis pelayanan, yaitu pembuktian ilmiah atas manfaat dan keamanan jamu. 

"Hal yang sangat penting dan mendasar dari sintifikasi jamu adalah pencatatan medis yang lengkap dan cermat, serta menggunakan formula yang sama dan telah disepakati," katanya.

Semua fasilitas kesehatan melaksanakan pelayanan kesehatan obat tradisional (jamu) dengan catatan medis dan formula yang sama, dan promosi jamu kepada masyarakat luas terutama ditujukan untuk pemeliharaan kesehatan sehingga tidak mudah terserang penyakit.

Menurut data Susenas 2007, katanya, diketahui bahwa penduduk yang memilih mengobati sendiri dengan obat tradisional sebanyak 28,69 persen, meningkat dalam waktu tujuh tahun yang semula hanya 15,2 persen.

"Data Riskesdas 2010 sungguh merupakan data yang fantastis. Dari populasi di 33 provinsi, dengan sekitar 70.000 rumah tangga dan 315.000 individu, secara nasional 59,29 persen penduduk Indonesia pernah minum jamu," katanya.

Angka ini menunjukkan peningkatan penggunaan jamu/obat tradisional secara bermakna. "Ternyata 93,76 persen masyarakat yang pernah minum jamu menyatakan bahwa minum jamu memberikan manfaat bagi tubuh," katanya.

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo pada acara itu mengatakan, provinsi ini mempunyai potensi tanaman jamu yang luar biasa, tetapi sampai sekarang ini belum dibudidayakan secara maksimal untuk meningkatkan perekonomian petani.

"Di Jawa Tengah sampai sekarang ini ada 11 pabrik jamu besar dan 77 pabrik jamu sedang, tetapi potensi yang ada itu tetap saja belum dimanfaatkan maksimal," katanya.

Untuk itu dengan adanya laboratorium terpadu tersebut diharapkan bisa membantu mengatasi persoalan ini utamanya dalam pengembangan tanaman obat dan jamu.

"Petani di Jawa Tengah banyak yang menanam jahe, tetapi setelah panen dijual tidak laku, karena kadar airnya terlalu besar. Untuk itu diharapkan dengan adanya laboratorium tersebut bisa membantu menanam jahe yang baik beserta bibitna," katanya.

Bupati Karanganyar Rina Iriani SR mengatakan di daerahnya banyak petani yang menanam jahe untuk pembuatan jamu yang bekerjasama dengan PT Sido Muncul dan untuk tahun mendatang akan dikembangkan lagi. 

http://www.antaranews.com/berita/1282724417/menkes-lakukan-saintifikasi-jamu-setara-obat-modern

>>> Daftar Jamu Godog Kendhil Kencana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar