Selasa, 03 Januari 2012

Jamu Racikan 7 - Jamu Tradisional



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI



Jamu Tradisional
04 MEI 1985


ADALAH seorang nonik cantik bernama Meneer. Suatu hari Meneer dilamar seorang pria yang dikenal sering berganti istri. Semua orang meramalkan Meneer akan segera jadi janda karena Tuan akan segera terpikat wanita muda lain. Tetapi orang-orang menjadi heran karena Nyonya Meneer berhasil mempertahankan rumah tangganya. Orang-orang pun heran, karena Tuan yang suka keluyuran ternyata sekarang betah di rumah. Rahasianya? Rahasia itu adalah jamu racikan sang nyonya yang berkhasiat menambah "kebahagiaan suami-istri". Ketika Tuan sakit, Nyonya Meneer pun berhasil menyembuhkannya dengan racikan jamunya. Sejak itu mau tak mau Nyonya Meneer jadi bakul jamu. Soalnya. semua orang tentu menginginkan kebahagiaan suami-istri juga. Dimulai dengan botekan kecil dari kayu ukiran, Nyonya Meneer menjual jamu di teras rumah Jalan Raden Patah Semarang. Botekan itu, lengkap dengan gelas-gelas doeloe yang tebal dan berat, kini masih tersimpan di Museum Jamu Nyonya Meneer di Semarang.

Nyonya Yulianti Aryaduta punya pengalaman serupa. Ia membuat jamu Cintasari yang tersebar khasiatnya dari mulut ke mulut. Ia hanya melayani yang datang ke rumah. Tahu-tahu ia terkejut melihat ke toko jamunya, Cap Putri Harum, dijual dengan harga lima kali lipat. Itu memaksanya, membuat bisnis jamu.

Dra. Martha Tilaar, pemimpin PT Sari Ayu yang baru-baru ini memperoleh gelar doctor honoris causa di bidang mode dan seni dari World University (Fashion & Artistry dari World University of Tuscon, Arizona, USA) tahun 1984, mengatakan bahwa orientasi seks dari jamu tradisional adalah sesuatu yang wajar dan tak perlu dilebih-lebihkan. "Dari dulu kalau soal seks itu ya wanita Madura. Kalau pria ya Kalimantan karena di sana ada pasak bumi. Jamu-jamu kraton pun sudah bisa kita ketahui ke mana arahnya, karena wanita kraton adalah figur untuk dinikmati dan dikagumi, digunakan sebagai hiasan," katanya.

Tetapi seorang putri kraton yang kini menjadi pengusaha jamu berpendapat lain. BRA Mooryati Soedibyo P. Hadiningrat, pemimpin pabrik jamu dan kosmetika tradisional Mustika Ratu. mengatakan kegunaan jamu itu sangat luas untuk hanya dikaitkan dengan seks. "Di kraton pun jamu tidak untuk seks saja. Di kraton itu 'kan orang-orang kebanyakan hanya duduk saja, karena itu diperlukan jamu untuk pegal-pegal dan melancarkan air seni, katanya. Mooryati menganggap setiap wanita wajib memelihara dan merawat diri: "Perawatan diri itu harus dari dua arah. Dari luar dengan menggunakan kosmetika, dan dari dalam dengan meminum jamu." Bertolak dari falsafah inilah Mustika Ratu kini membuat 75 macam jamu dan 75 macam kosmetika tradisional. "Pada kehidupan wanita ada titik-titik penting di mana terjadi perubahan. Mulai dari haid pertama, memasuki masa pernikahan, melahirkan anak, menopause dan kemudian memasuki masa kesepuhan. Semuanya itu memerlukan bantuan jamu," kata Mooryati. Ia juga mengatakan, secara naluri setiap wanita mempunyai keinginan untuk mempertahankan kecantikannya dan merasa berhak untuk menikmati semua layanan kecantikan. "Dan memang semua itu pada akhirnya tak bisa lepas dari kehidupan suami-istri. Tetapi 'kan tidak semata-mata untuk kepentingan seks?"

"Jamu itu jamu. Titik," kata Nyonya Sudarmilah Suparto, sama cantasnya dengan bila ia berbicara di layar televisi. "Tetapi banyak dokter-dokter di departemen kesehatan mengatakan jamu itu obat tradisional. Lha itu sangat salah. Definisi itu tidak tepat karena sampai sekarang kita belum boleh mengatakan jamu itu obat."

Dr. Charles Ong, direktur pemasaran PT Nyonya Meneer Semarang, mengatakan minum jamu adalah suatu proses untuk memperoleh kesehatan. "Manfaatnya tidak langsung cespleng. Sekarang minum jamu, sekarang langsung sehat, itu tidak bisa!" katanya. Ia memberi contoh Jamu Majun, dan sebaiknya orang jangan punya ilusi bahwa setelah minum secangkir Jamu Majun maka penampilan seks-nya mendadak sontak jadi hebat. "Ada satu contoh lagi," kata Charles. "Banyak orang menganggap jamu peluntur kami punya khasiat untuk menggugurkan kandungan. Padahal itu hanya bermanfaat untuk melancarkan haid. Ya betul-betul tidak jalan. Itu kan sama seperti orang sakit gigi yang makan selusin aspirin. Bukan giginya yang sembuh, tetapi perutnya yang rusak.

Suatu hari Poa Tjong Kwan di Wonogiri melihat usaha istri nya meracik bahan jamu itu adalah sebuah pekerjaan yang tak praktis. Ia lalu mempunyai gagasan untuk meracik bahan jamu dalam jumlah besar, kemudian ditumbuk sampai halus, sehingga pembeli yang datang tak perlu menunggu 3 jamu diracik. Lahirlah jamu serbuk. Penemuan jamu serbuk itu lalu melahirkan sebuah industri baru: Djamoe Industrie Poa Tjong Kwan (namanya kemudian diganti secara post mortem menjadi TK Suprana setelah anak-anaknya mendapat izin ganti nama dari Presiden Soekarno pada tahun 1955). Pada tahun 1930 jamu ini mulai memasuki era branded product, kemudian diberi nama dan merek Tjap Ajem Djago & Babon (ajem = ayam). Jago dipilih karena melambangkan terbitnya cita-cita bangsa Indonesia setelah pencanangan kebangkitan pemuda waktu itu. Jamu inilah yang sekarang dikenal dengan nama Jamu Jago. Jamu serbuk itu dijual dalam kemasan yang isinya 7 gram. Dan sejak saat itu hampir semua jamu dijual dengan dosis ini. Angka 7 inipun kelihatannya dipetik begitu saja dari langit. Jaya Suprana, salah seorang cucu TK Suprana yang sekarang menjadi presiden direktur Jamu Jago, juga mengatakan tidak tahu-menahu tentang asal-usul angka ini. "Karena kakek sudah meninggal, kami tidak bisa tanya mengapa 7 gram," katanya membanyol. "Yang jelas Departemen Kesehatan pun memakai standar angka 7 gram ini." TK Suprana, ketika mencapai usia 50 tiba-tiba mengundurkan diri dan usahanya yang sedang berangkat sukses. Diserahkannya usaha itu kepada anak-anaknya. Lalu, seperti kata Jaya, ia masuk "ke dalam": melakukan tapabrata dan menyepi. Mungkin ia sudah merasa umurnya tak akan panjang lagi. Beberapa tahun kemudian ia meninggal. Fotonya yang kini dipajang menunjukkan ketika ia sedang bertapa dengan jubah kuning.

Entah bagaimana, tetapi Nyonya Yayuk Abulhayat pun memulai usaha jamunya, Sari Ayu Madura, karena adanya semacam wisik (bisikan). Suatu hari ia membeli bahan-bahan yang ia sendiri hdak bisa memastikan apa manfaatnya. "Saya hanya menuruti apa yang saya rasakan," katanya. Lalu menyimpan bahan-bahan jamu itu. "Serta merta muncul berbagai ilham. Saya teringat waktu kecil dan memperhatikan nenek saya meracik jamu. Selama beberapa malam saya seperti bermimpi dan secara tak sadar menyebut beberapa nama bahan jamu seperti yang dulu disebut nenek. Saya pun seperti mendengar orang menyebut tanaman tertentu di daerah tertentu yang kemudian saya cari, Saya akhirnya heran sendiri, kok saya bisa bikin jamu, ya?"

Dari sekitar 350 pabrik jamu besar dan kecil di seluruh Indonesia yang tergabung dalam GPJI (Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia, ada lagi organisasi sejenis lainnya yaitu Gapotrin - Gabungan Pengusaha Obat Tradisional), ada 7 pabrik yang mempunyai market share terbesar. yaitu: Air Mancur, Nyonya Meneer, Jago, Sido Muncul, Mustika Ratu, Sari Ayu, Jamu Iboe. Beberapa merek lain mulai muncul juga untuk melayani bagian pasar, misalnya: Leo, Simona, Putri Harum dan lain-lain. Kebanyakan memang nama lama yang cukup dikenal, tetapi sekarang baru memekarkan pasarnya. Ada juga yang punya pasaran lokal, dan nampak tak berminat untuk mengembangkan sayap. Di Malang - misalnya, ada jamu Kidang Kencono yang depot seduannya mirip bar dan sangat populer. Di Purwokerto ada Cap Semar, di Solo ada Akar Sari, bahkan di Jakarta ada Jamu Mencos yang punya pasar sangat lokal. "Tetapi mereka hanya menjual, tidak memasarkan," kata Jaya Suprana.

Jamu Akar Sari
  • Jl. Dr. Rajiman 112 Surakarta
  • Jl. Slamet Riyadi 137 Surakarta
  • Singosaren Plaza Surakarta



Pasar jamu memang sedang membesar. Pada tahun 1960-an hanya Nyonya Meneer dan Jago yang sudah berkaliber industri dan dipasarkan secara luas. Lalu menyusul Air Mancur hingga lebih besar dari kedua pendahulunya. Ketiganya bahkan menikmati tingkat pertumbuhan yang baik dari tahun ke tahun. Menurut Charles Ong, Nyonya Meneer sejak 1980 meraih pertumbuhan rata-rata 40% tiap tahun. Jaya Suprana melihat pertumbuhan industri jamu ini tidak menciptakan persaingan frontal. "Seperti rokok yang mempunyai penggemar sendiri." katanya, "jamu 'kan juga punya cita rasa dan bumbu sendiri."

Martha Tilaar yang mengkhususkan produknya untuk kaum wanita menyatakan begini: "Penduduk Indonesia 50,3% wanita. Artinya, pasar kami 80 juta orang. Bayangkan, mana mungkin kami layani sendiri pasar sebesar itu? Kami mempunyai submarket sendiri-sendiri." Situasi pasar jamu yang menggembirakan ini tentunya bukan tanpa sebab. "Ibu Negara percaya akan jamu, dan ini tentu membangkitkan gairah." kata Charles. Ia juga menyebut tentang bantuan yang cukup besar dari pemerintah. "Padahal pada masa peralihan ke Orde Baru industri jamu Indonesia sudah hampir punah," katanya. Jaya Suprana pun membenarkan situasi itu, sekalipun ia melihatnya dari segi lain. "Waktu itu kita bukannya repot jual jamu, tetapi repot menyesuaikan harga. Inflasi yang terjadi tahun 1962-1963 membuat kami hampir putus asa," katanya.

Air Mancur yang baru berdiri ketika itupun nyaris "tewas". "Pada tahun 1966 kami sudah hampir gulung tikar," kata Yanto Wonosantoso. "Untung keadaan ekonomi membaik dan kami putuskan untuk meneruskan perjuangan." Sukses jamu tidak dapat dipisahkan dari promosi. Dan bukan hanya promosi modern. TK Suprana, misalnya, membeli mobil pada akhir 1920-an karena ia memang gemar bepergian. Sadar ia tukang jamu, mobil itupun dirombaknya menjadi mobil promosi. Ke mana pun ia berpesiar, merek jamunya pun ikut. "Tahun 1930 itu mungkin merupakan awal revolusi promosi," kata Jaya Suprana. Jamu Jago mulai menambah mobil-mobil untuk promosi. Mobil-mobil mereka ketika itu selalu menarik perhatian karena catnya yang menyolok berwarna-warni. Juga karena adanya orang-orang kerdil yang dalam jargon Jamu Jago disebut sebagai seniman mini. "Dan jangan menuduh kami menyalahgunakan kekerdilan mereka," kata Jaya. "Mereka sendiri yang datang. Kini jumlah mereka 32 orang. Habis, mereka mau kerja apa di kampung? Mau mencangkul sawah pun diperlukan cangkul khusus yang lebih kecil sehingga kerja mereka tak kunjung selesai. Dari kami mereka memperoleh kehidupan yang lebih baik. Malah ada yang beristri tiga. Yang wanita pun diuber-uber kaum pria." Dr. Charles Ong pun menganggap promosi sebagai pengatrol masa resesi inipun ia tak mengurangi anggaran iklannya. Biaya iklannya setahun mencapai Rp 1 milyar. Air Mancur yang kini menjadi pemimpin pasar pun tidak mungkin mencapai kedudukan itu bila tak usahanya. "Pada tahun 1976 kita hanya nomor empat. Waktu itu kita tak punya siasat jangka pendek- tak punya rencana jangka panjang, bahkan tidak mengenali tingkat kebutuhan konsumen." kata Charles yang pada tahun 1976 itu baru kembali dari studi di Amerika Serikat. Selain melakukan pembenahan manajemen, tahun 1976 itu Nyonya Meneer pun mulai gencar melakukan iklan dan promosi penjualan. "Gerakan 1976 ituiah yang mengantarkan kami ke kedudukan sekarang. Kini kami nomor dua, bahkan di beberapa kota besar nomor satu," kata Charles. Ia begitu yakin akan manfaat iklan hingga pada melakukan promosi besar-besaran. "Waktu kami mulai bangun, pabrik jamu lain masih tidur," kata Yanto Wonosantoso. "Dulu kami promosi tak pakai mobil. Hanya meja lipat yang kami sebar ke pasar-pasar dengan pengeras suara. Dan karena kami berani berpromosi serta berhasii merebut pasar dalam waktu singkat, maka semua pabrik jamu langsung bangun. Kalau Air Mancur tidak mencapai kedudukan seperti sekarang ini, mungkin pabrik jamu yang lain tidur terus."

Jamu Leo yang mulai mengambil pasaran di daerah pinggiran, juga membesar karena keberanian promosi. "Kami rugi puluhan juta rupiah pada dua tahun pertama untuk membiayai promosi," kata Hardi P. Hartono, direktur utama Jamu Leo. Kini Leo mulai diperhitungkan bahkan oleh pabrikan besar. Di Jawa Timur kabarnya Leo sudah berhasii merebut 60% pasar, sekalipun di sana ada Jamu Iboe yang berpusat di Surabaya. Sekarang promosi ini sedang diperluas cakupannya ke luar negeri.

Sebagai komoditi nonmigas, jamu Indonesia adalah komoditi ekspor yang hampir tak punya saingan dari negara mana pun di dunia ini. "Dan sudah seharusnya pemerintah membantu upaya ini," kata Yanto. "Kami memang bikin pameran di Bangkok. Tokyo dan lain-lain. Tapi terialu berat bagi kami untuk melakukannya sendiri. Nah, jangan seperti riwayat rokok kretek kita yang jalan sendiri-sendiri ke Amerika atau Australia." Malaysia adalah salah satu pasar jamu yang kuat. Dalam sebulan diperkirakan terjual senilai Rp 200 juta. Nyonya Meneer bulan Maret lalu mengadakan promosi besar di Kuala Lumpur. Promosi itu menupakan rangkaian dari promosinya di Singapura . Brunai, Filipina dan Eropa. Charles Ong menyebut satusatunya pesaing jamu di pasar internasional adalah Korea dan Cina yang mengandalkan ginseng dan resep Tiongkok kuno. Di Australia. menurut Charles, orang minum jamu karena ingin awet cantik. Orang Belanda menyukai jamu awet ayu, lulur, jamu habis bersalin dan jamu pria jantan. Orang Jepang lebih menyukai krim payudara. Di Arab Saudi pun jamu punya pasaran yang baik. Hampir semua merek jamu populer Indonesia telah menemukan jalannya ke pasar luar negeri. Jamu Jago bahkan telah beberapa kali menerima penghargaan atas mutunya. Yang terakhir dari Monde Selection . Tetapi larisnya jamu Indonesia di pasar luar negeri tentu mempunyai dampaknya juga. Di Johor Baru, Malaysia, Jamu Jago menemukan adanya pemalsuan terhadap produknya. Begitu juga Air Mancur yang baru-baru ini mencapai puncak kekesalannya karena jamu Air Pancur (bukan M!). yang mirip dengan produknya tetapi dalam bentuk tablet, telah membuat Air Mancur ikut dicurigai masyarakat. "Mereka sudah lama mencoba mengelabui masyarakat dengan merek yang mirip ini," kata Yanto Wonosantoso. Jamu Air Pancur itu telah dilarang beredar di Malaysia karena diketahui mengandung zat yang berbahaya bagi kesehatan. Yanto hanya mengurut dada, maklum ia tak tahu harus ke mana mencari pemalsu ini. Charles Ong memperkirakan pada 1985 industri jamu masih meningkat. Masa resesi ternyata tidak berpengaruh bagi penjualan jamu. Tetapi sebetulnya pertumbuhan itu sendiri bukannya tanpa hambatan.

Salah satu hambatan adalah peraturan penyebutan jamu Departemen Kesehatan menetapkan jamu tidak boleh iagi disebut sebagai jamu Jawa. tetapi harus disebut sebagai jamu Indonesia. "Itu 'kan aneh.' kata seorang pengusaha jamu. "Justru itu diperlukan untuk membedakannya dari jamu Aceh. jamu Madura, jamu Kalimantan dan lain-lain yang punya cirinya masing-masing." Lucunya. peraturan itu hanya berlaku untuk di dalam negeri. Untuk keperluan ekspor boleh pakai sebutan jamu Jawa. Tetapi benarkah ada jamu Jawa dan jamu non-Jawa? Di Jalan Kramat Raya Jakarta ada toko jamu yang cukup terkenal dengan nama Pusaka Ambon alias Jamu Oom Kainama. Usaha rumahan ini sudah dimulai oleh Oom Kainama sejak 1928. Jamu Pusaka Ambon ini memang tak pernah menjadi besar karena hanya dijual di rumah itu saja. "Yang perlu harus datang ke sini," kata J. Kainama, anak Oom Kainama. "Soalnya kami harus memberi konsultasi. tidak sekadar menjual." la juga mengatakan sebenarnya jamu Indonesia tak ada. "Yang ada hanya jamu Jawa, Madura, atau Pusaka Ambon dan lain-lain. Jadi, jangan sembarangan kasih nama. Apalagi ini menyangkut warisan, pusaka." Prakteknya apa yang disebut jamu Jawa sudah tidak asli Jawa lagi. Misalnya karena sudah memakai bahan baku dari Kalimantan atau daerah lain. Beberapa bahan. karena alasan kualitas, juga diimpor dari luar negeri, tetapi jumlahnya sedikit sekali. Bahkan beberapa merek pun sudah menggunakan bahan kimia seperti mentol. yang sebenarnya dilarang penggunaannya oleh Departemen Kesehatan. "Tetapi sebaiknya Departemen Kesehatan jangan hanya bisa melarang," kata seorang pengusaha. "Depkes juga harus membina. mengurangi birokrasi dan memberikan fasilitas yang lebih menarik." Birokrasi? Sumber itu memberi contoh tentang pendaftaran jamunya yang baru keluar setelah 2-4 tahun. "Dan anehnya. masa pendaftaran hanya dua tahun. Jadi tiap dua tahun kita harus daftar lagi." Peraturan Depkes yang dianggap memberatkan juga adalah keharusan melestarikan bahan-bahan jamu yang nyaris punah. "Itu logis, tapi sulit." katanya. "Kalau kami harus menanam, mana ada untungnya? Kebanyakan bahan jamu itu langsung diambil dari alam, tidak dibudidayakan ." Memang kebanyakan pabnk jamu tidak mengusahakan perkebunan untuk bahan jamunya. Alasan yang utama, karena penyediaan bahan baku merupakan usaha sektor informal. "Masyarakat datang ke sini menjual bahan yang dikumpulkannya. Masa kami akan memotong penghasilan mereka?" Semula memang tampak ada semacam keengganan dari profesi medis terhadap jamu.

Tetapi awal 1985 ini jamu mulai "diperkenalkan" di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM dalam sebuah ceramah dan- diskusi. Salah satu pembicaranya seorang medikus dari Negeri Belanda. Di RRC, Taiwan dan Inggris bahkan sudah dilakukan uji klinik obat hadisiona pada manusia. Hasil penelitian tahun 1980 menunjukkan 42.5% penderita di Jakarta menggunakan obat tradisional untuk menyembuhkan penyakit. Dari jumlah itu 49,1% adalah wanita. Kepala Bagian Farmakologi UI mengingatkan, 80% penduduk Indonesia belum menikmati pengobatan modern. WHO sendiri menganjurkan agar pengobatan tradisional dipakai dalam sistem kesehatan. Tetapi di Indonesia jamu belum masuk dalam mata kuliah pendidikan kedokteran. Bagi dunia kedokteran, kesulitan untuk menerima jamu adalah terutama karena tak adanya standar fito. Juga karena begitu berbedanya komposisi antara jamu yang satu dengan yang lain. "Padahal sebetulnya kami semua membuat jamu yang kurang lebih sama," kata Irwan Hidayat, direktur Jamu Sido Muncul, Semarang. "Kami punya Pegal Linu, Air Mancur punya Pegalin. Kami punya Padmosari, Nyonya Meneer punya Awet Ayu. Kami punya Tolak Angin, Jago punya Sri Angin. Jenis produksi jamu memang sangat banyak ragamnya. Rata-rata satu pabrik memproduksi 75 jenis jamu. Air Mancur mempunyai 120 macam. Tetapi rata-rata menggunakan 250 jenis bahan, hampir semuanya bahan lokal. "Tentu saja Pegal Linu Sido Muncul lain isinya dari jamu sejenis keluaran pabrik-lain," tambah Irwan. Masing-masing perusahaan pun mempunyai satu jenis jamu yang menjadi tulang punggung. Pada Sido Muncul. misalnya, Tolak Angin- merupakan 50% dari bisnisnya. "Ada jamu, seperti Sambetan, yang cuma laku 100 bungkus sebulan." kata Irwan, "tetapi kami harus membuatnya untuk melayani masyarakat. " Sido Muncul juga meng-klaim sebagai yang pertama memasarkan jamu Tolak Angin untuk menyembuhkan masuk angin. Dan sekarang jenis jamu untuk menyembuhkan masuk angin ini merupakan yang paling banyak dicari. Sido Muncul bahkan sempat memperkarakan sebuah pabrik jamu lain yang persis meniru Tolak Angin-nya itu.

Bagi Martha Tilaar, masuknya jamu ke lembaga terhormat seperti FKUI ini merupakan sebuah kewajaran. "Suami saya adalah doktor dan orang Menado yang tak percaya jamu. Tetapi setelah membaca laporan tentang obat sintetis, ia sekarang malah jadi fanatik jamu." Martha yang berpendidikan Amerika tentu saja akrab dengan penelitian. Untuk jamu produksinya ia sudah melakukan penelitian intensif di Jawa, Madura dan Kalimantan. Baru-baru ini ia juga melakukan penelitian tentang rambut wanita Bali. "Lihat, para penari Bali itu rambutnya selalu bagus-bagus." "Dalam jamu memang tak sekadar ilmiah, tapi ada unsur kepercayaan bahwa bahan alami tak mempunyai dampak sampingan," kata Martha. Tekadnya untuk lebih serius di bidang jamu dan kosmetik tradisional memang besar. "Prancis yang hanya berpenduduk 26 juta bisa jadi kiblat mode, kecantikan dan kosmetik. Mengapa kita sebagai bangsa besar kok tidak punya nama besar? Kita jangan hanya bisa meniru, tetapi juga menciptakan." Atas pemikiran itu pulalah sejak 1976 Martha mengkhususkan diri di bidang pengembangan kosmetika tradisional. "Soalnya konsep kita tentang kecantikan itu berbeda dengan konsep Barat," kata Martha. Ada seorang filsuf Prancis yang mengatakan bahwa setiap wanita yang dilahirkan adalah cantik, tetapi banyak di antara mereka yang tak tahu mempercantik diri. "Pemikiran seperti itu," menunut Martha, "membuat orang berpikir teknologi. Lalu ada teknik make up. seperti shodowing, coloring dan sebagainya. Sedang konsep kita: kecantikan adalah pancaran dari kesehatan. Kalau badan sehat. jiwa sehat, maka appearance pun akan baik "

Tetapi satu yang tak berubah, Jamu tetap merupakan racikan bahan alam. tidak memakai bahan kimia atau sintetis. Salah satu manifestasi modern ini adalah serbuknya yang makin halus dan kemasannya yang makin baik. Banyak sudah kemasan kertas diganti foil aluminium. Tetapi arus modernisasi ini ternyata tak sepenuhnya dapat diserap. "Kami menghadapi dilema." kata Charles Ong. "Kalau ingin semuanya bersih. kita harus pakai mesin vakum. Dan itu berarti banyak buruh harus minggir. Nah, apakah kami bisa memilih untuk melakukan itu?" Dengan modernisasi secara terbatas itu memang tercapai peningkatan besar dalam kebersihan. Karyawan memakai sarung tangan dan tutup muka. Tetapi, tentu saja bakteri alam masih ada. Dan inilah yang sering dipersoalkan oleh para dokter. Bentuk modernisasi juga muncul dalam sajian produk. Jamu tak lagi sekadar serbuk. tetapi sudah mulai berbentuk kapsul dan tablet. Depkes sendiri menganggap masih banyak cara pembuatan yang belum rasional dari sediaan kapsul atau tablet dari bahan alami. Karena itu Depkes akhir Oktober lalu mengeluarkan peraturan tentang tata cara produksi. Salah satu aturan itu adalah ditetapkannya keharusan mencantumkan tanggal kadaluwarsa. Konsumen sendiri tampaknya belum banyak yang dapat menerima jamu dalam bentuk kapsul atau tablet. Bahkan sebuah importir jamu di Malaysia menolak perubahan jamu dari bentuk serbuk ke bentuk ekstraksi. "Itu sama dengan bunuh diri," katanya. "Sekalipun mungkin 3 bentuk ekstraksi itu lebih manjur. tetapi belum tentu konsumen dapat menerimanya karena secara tradisi mereka mengenal jamu hanya dalam bentuk serbuk."

Salah satu konsekuensi wajar dari pesatnya perkembangan jamu tradisional ini adalah perkembangan kosmetika tradisional. Sari Ayu. misalnya, secara konsisten memproduksi lebih banyak kosmetika daripada jamu, dengan rasio 60: 40. la bahkan berniat memisahkan pabrik jamu dari pabrik kosmetika karena tingkat kontaminasi bahan jamu yang tinggi. "Kami yang pertama di bidang ini," kata Martha Tilaar. "Dan kami ingin konsentrasi di bidang ini saja karena banyaknya pesaing di sektor jamu." Kosmetika tradisional inipun mengalami perkembangan pesat dan telah mencapai tingkat kecanggihan yang tinggi. Mustika Ratu bahkan mempunyai produk kosmetik yang dikemas dalam ampul. Dalam minggu-minggu ini Mustika Ratu pun akan meluncurkan suatu niche baru dalam bisnis jamu. yaitu minuman segar dari bahan berkhasiat jamu. Untuk tahap pertama akan dipasarkan tiga jenis: beras kencur, gula asam dan serbat. "Karena minuman ini tanpa bahan pengawet, maka kami harus menggunakan teknologi mutakhir." kata Mooryati Soedibyo."Kemasannya dalam karton, seperti minuman modern yang Anda kenal." Nah. cara baru minum jamu telah tiba. Mungkin cocok untuk Anda yang belum doyan jamu. Rubrik Pariwara ini dikelola oleh PT Duta Media. Tulisan disiapkan oleh Bondan Winarno dan Canisyus Maran

Nyonya Sudarmilah Suparto
WALAUPUN rambutnya sudah sedikit beruban, dia kelihatan lebih muda daripada usianya - 57 tahun. Gerak dan bicaranya lincah. Itulah Ny. Soedarmilah Soeparto, yang secara teratur minum Jamu. Bu Darmi -- begitu panggilannya juga terkenal menjual jamu. Demikian sukses dia sampai berceramah di sanasini termasuk di layar TV-RI. Namanya telah ditetapkan sebagai salah satu dari kesepuluh pengusaha teladan 1977 (TEMPO, 16 Juli) oleh Bang Ali selagi masih menjadi Pj. Gubernur DKl. Minggu depan dia malah akan diutus oleh Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) untuk menghadiri pameran di Wina. Di ibukota Austria itu, jamu dan produk Indonesia lainnya akan dipromosikan. Tahun lalu BPEN juga mengutus Ny. Soeparto ke Jerman untuk menghadiri pameran obat-obat tradisionil. Sekarang kurs dirinya menanjak dan profesi sebagai penjual jamu sudah dirasakannya cukup keren. Tapi ketika memulai tahun 1966, demikian ceritanya kepada Zulkifly Lubis dari TEMPO "kami betul-betul dalam kesulitan. Bapak baru saja tabrakan uang baru dipotong." Bapak itu adalah suaminya, Brigjen Pol Soeparto, 60, bekas Pangdak IX Jawa Timur dan terakhir menjabat Komandan Komando Pendidikan AKRI menjclang pensiun. Pindah dari Surabaya ke Jakarta pada 1966, keluarga Soeparto mengkontrak umah di daerah Grogol. Suatu hari anaknya yang nomor dua (terkecil) meminta satu rupiah (uang baru) untuk membeli beras kencur. "Coba kalau mama bisa bikin, saya 'kan 'nggak perlu beli," kata si anak yang membuat mama mulai berpikir. Kebetulan seorang tetangga, karyawan Toserba Sarinah, bercerita tentang kios jamu di Sarinah itu yang kurang laku dan menawarkan apakah Ny. Soeparto berminat memperbaikinya. Kalau Bapak Tahu Maka dengan modal Rp 200 (uang baru) keluarga itu menggiling beras kencur dan memperkenalkan "Jamu Jawa Asli Darmi" di Sarinah. Tak sedikit isteri perwira tinggi Polisi merasa kikuk melihat rekan berdagang jamu. apalagi kalau dihubungkan dengan korps. Satu hari datang pula saudaranya ke tempat dia berjualan. "Mi," kata saudara itu, "kalau bapak tahu kau seperti ini tentu dia akan marah " Bapak yang dimaksudnya itu (sudah meninggal dunia) adalah Raden Soediman Hadiatmodjo yang menjadi bupati Tuban di zaman Jepang dan bupati Pasuruan setelah 1945. 'Saya pikir," sambut Ny. Soeparto, "bapak akan lebih marah kalau saya hidup mewah dari penghasilan yang tak sah". Maka dia, walaupun anak raden dan Isteri perwira tinggi, merasa tak canggung berjualan. Sekarang selain di Sarinah, dia juga membuka kios jamu di Blok M Kebayoran Baru. Bahan jamu diolah di rumahnya di Pancoran. Usaha ini masih tergolong industri rumah, tentunya. Para langganannya boleh disebut golongan menengah ke atas, termasuk orang asing. Keluarga duta besar yang jauh di luar negeri juga memesan jamu Darmi. Jika mau, Ny. Soeparto mungkin akan bisa mengembangkan bisnis sampai ke pembukaan pabrik. Tapi dia tidak berambisi ke arah itu. Kepuasannya lebih tertuju pada segi mempopulerkan janu, terbukti dari kegiatannya berceramah dan memberi konsultasi. Dengan latarbelakang pendidikan formilnya - tingkat III di Sekolah Tinggi Kedokteran NIAS dulu di Surabaya -- dia nampak berwibawa membicarakan soal jamu itu. Dalam bisnis dia sebenarnya bergantung pada ketrampilan suami, terutama sesudah pensiun. "Suami saya rupanya punya bakat terpendam," katanya. Maksudnya, sang suami pandai memegang uang. "Sampai-sampai untuk beli baju saja sulit," kata isteri lagi. Sebenarnya, menurut Ny. Soeparto, yang pantas menerima piagarn pengusaha teladan adalah "suami saya". Tapi Pak Parto yang rupanya di belakang la yar mengelola perusanaan juga bukanlah pengusaha yang bercita-cita membuka pabrik. "Kami tak mau repot," kata Soeparto. "Baik begini saja." Walaupun "begini saja", penjualan merka sudah terbilang puluhan juta rupiah. Produksi mereka yang dulunya dimulai dengan kencur kini meningkat ke 20 macam jamu.

Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia.

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN

Yanto Wonosantoso



PERUSAHAAN keluarga yang besar biasanya kena 'kejutan' bila pendirinya - biasanya si ayah - meninggal dunia. Adakalanya kejutan itu mengancam kelanjutan hidup perusahaan itu. Tapi PT Jamu Air Mancur, sesudah kematian Lambertus Wono Santoso pada 1974, nampaknya kini malah lebih laju. Menggantikan ayahnya, sekarang Yanto Wonosantoso, 33, memegang kemudi perusahaan di Wonogiri. Jika pada '74 omzet Air Mancur baru mencapai Rp 450 juta, penjualannya meningkat lagi setinggi Rp 630 juta tahun lalu. Bagaimana bisa? "Apa yang saya jalankan sekarang hanya meneruskan pola pemasaran yang diciptakan orang tua saya," jawab Dirut Yanto pada Zulkifly Lubis dari TEMPO baru-baru ini-bersama pers ibukota - memenuhi undangan meninjau tempat cap Air Mancur di Wonogiri. Berikut ini laporannya: Wonogiri sudah larna dikenal sebagai penghasil jamu ex pabrik. Poa Tjong Kwan adalah pionirnya yang mengeluarkan cap Jago pada tahun 1918. Santoso Sr. bekerja untuk cap Jago selama 23 tahun. sebelum membuka pabrik sendiri dengan produk Air Mancur. Namun penduduk setempat kurang doyan pada jamu ex pabrik. Jamu gendongan, yang diolah secara tradisionil, lebih disukai kebanyakan wong Wonogiri. Dengan cara gendongan saja, tentunya, jamu tidak mungkin berkembang. Melalui pengolahan pabrik, kemasan jamu sudah meluas menjangkau pasaran domestik dan internasional. Di pasaran domestik, belakangan ini jamu malah mulai memasuki periode bersaing dengan obat-obatan hasil pabrik farmasi. Para pembuat Air Mancur, Jago, Nyonya Meneer, Sidomuncul dan Simonakelima besar ini kini jelas menyiapkan diri untuk persaingan itu. Mereka, umpamanya, memerlukan penelitian di laboratorium dan mengusahakan kebun pembibitan bahan mentah. Obat Kuat Air Mancur membuka kebun pembibitan di Desa Jumantono, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sedikitnya 300 jenis tumbuhan bahan jamu direncanakannya ditanam di situ. "Sayangnya tumbuhan itu tak bisa dikebunkan secara besar-besaran," kata Z. Arifin yang mengepalai bagian penelitian dan pengembangan dari perusahaan itu. "Karena iklim sangat menentukan mutu setiap jenis tanaman itu." Laboratoriumnya, sementara itu, meneliti kemungkinan dipakai jenis tumbuhan baru. Sampai sekarang, menurut Arifin, baru terpaka,i 130 jenis tumbuhan untuk menghasilkan sekitar 100 macam jamu Air Mancur yang berbentuk bubuk, tablet dan kapsul. Sudah dijajaginya pula kemungkinan mendatangkan jenis tumbuhan dari Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan yang berdasarkan penelitian laboratorium Air Mancur, "paling bagus." Tak dijelaskannya apa itu, tapi a.l. untuk obat kuat. Juga bahan impor seperti kayu legi dan akar wangi dari RRC atau Iran dipakainya. Tapi penggunaan bahan impor "hanya 3-4%" sebagai pelengkap, kata Arifin. Di antara sesama besar itu hanya Nyonya Meneer yang melulu bergantung pada bahan domestik. Pabrik Air Mancur berada di tiga tempat. Selain di Wonogiri, pabriknya juga ada dua di pinggiran kota Solo, masing-masing di desa Palur yang mengarah ke Sragen dan di desa Jajar serta Kleco, jalan ke Boyolali. Kenapa harus terpisah? Menurut Yanto, "kalau terjadi kebakaran, tak semuanya habis." H. Harun Alrasyid, penanggungjawab produksinya menambah: "Dengan mundar-mandirnya kendaraan Air Mancur di tiga lokasi itu, 'kan promosi juga." Untuk promosi, Yanto menyediakan 15-20% dari biaya produksi. Maka bisalah ia memasang plakat atau papan nama di banyak warung atau kios kecil di Jawa. Kekuatan pemasarannya terutama di Jatim. "Orang Jawa Timur itu lebih kenal dengan jamu asal Wonogiri," kata Yanto. Memang di Wonogiri sendiri tak terasa kemeriahan promosi Air Mancur. Tapi bukanlah plakat promosi itu saja yang menentukan, menurut Yanto. "Kami membina agen dengan asas kekeluargaan. Komisi untuk agen cukup besar - 40. Dengan demikian agen merasa Air Mancur ini milik mereka. Sampaisampai mengenai jenis apa yang akan diproduksi, saran agen cukup didengar."



>>> Daftar Jamu Godog Kendhil Kencana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar