Selasa, 17 Januari 2012

Pipisan dan Gandhik 3 - SUKERTA - Ruwatan Murwakala/Purwakala



PULIH MARI BALI WUTUH PURNA WALUYA JATI


Bathara Kala
Sukerta

Barangkali kalian semua termasuk salah satu dari manusia yang punya sukerta. Sukerta itu ‘kotoran penghalang hidup’ hingga suatu kerja bahkan mimpipun tidak akan sukses, jika orang dalam keadaan sukerta. Celakanya orang yang dalam keadaan sukerta tidak tahu dan tidak menyadari bahwa dirinya dalam keadaan sukerta. Baca saja, golongan seperti apa yang mask criteria ‘orang sukerta’.

Sukerta ini istilah untuk orang-orang yang hidupnya menjadi lemah, diancam oleh sesuatu yang tidak diketahui. Menurut adat Jawa, golongan penyandang lemah diri dialami oleh mereka yang masuk dalam kriteria ‘menu Bathara Kala’. Juga bagi orang yang akan melewati dan mengubah masa depannya dan orang yang merasa nasibnya selalu buruk.


Yang dimaksud adalah orang yang:
  • rendah diri dan mersa selalu sial
  • selalu merasa bersalah, takut bertindak dan merasa bodoh
  • selalu merasa gagal dalam pekerjaan dan kariernya
  • selalu merasa ragu-ragu dan sulit bertindak benar

Secara adat orang dengan golongan lemah tersebut perlu dibantu. Caranya dengan ruwatan supaya dapat terbebas dari kelemahannya.

Dalam ruwatan tidak lepas dari cerita wayang. Tokoh wayang Bathara Kala adalah raksasa yang suka makan bayi. Ada banyak versi yang menyebtkan macam-macam bayi yang menjadi santapan Bathara Kala. Mangkunagoro VII dalam buku ‘Serat Pedalangan Ringgit Purwa jilid 2’ mengurai 14 jenis bayi sukerta. Serat Manikmaya 60 sukerta. Serat Murwakala karya Reditanaya 13 sukerta. Serat Batara Kala karya Soerowinarso 19 sukerta. Serat Pustakaraja krya Ronggowarsito 26 sukerta dan Babad Ila-ila karya Soemohatmoko malah menyebut 100 sukerta.

Ada 3 golongan sukerta. Menurut Bauwarna karya Harmanto Bratasiswara :

Golongan sukerta karena cacat kodrati
  • mereka yang punya kelainan bentuk badan seperti cebol, bule, bajang, bungkung, cemani, slewah dll
  • orang yang lahirnya khusus seperti Julungwangi, Julungpujud, Julungsarab dan Julung sungsang.
  • Dalam persaudaraan khusus seperti ontang-anting, kendana-kendini, kembar, dampit, padangan, ipil-ipil, pandhawi, pandhawa, sarampa sarimpi, sendang kapit pancuran dan pancuran kapit sendhang.
Golongan sukerta karena kecelakaan dalam bekerja:
  • orang yang memecahkan pipisan alas tumbuk
  • orang yang mematahkan gandhik
  • orang yang merobohkan dandang pada waktu menanak nasi.
Ini golongan orang yang pernah melakukan sesuatu kelalaian perbuatan dengan sengaja atau tidak sengaja, kalian termasuk orang-orang yang harus diruwat karena kena sukerta.
  • orang yang membuka jendela lebar-lebar pada waktu senja kala (ini Bathara Kala bisa masuk, jadi kena sukerta lu).
  • orang yang dipannya tanpa tutup
  • mendiami rumah Jawa bentuk kampung tanpa tutup keyong.
  • mendiami rumah krobongan tanpa pramana atau tutup lurup
  • pemilik tempat barang tanpa tutupnya (peti tanpa tutup)
  • pembuat lumbung tanpa dasar
  • tidur di kasur tanpa seprai
  • membuat sumur di depan atau tepat di tengah rumah hunian
  • membuat dapur menghadap ke timur atau utara
  • penghuni yang rumahnya miring
  • menanak nasi tanpa mencuci beras
  • menggelar pipisan sebelum meracik jamunya
  • memipis atau menggiling jamu menghadap ke utara atau selatan
  • orang yang tak pernah sesaji atau mendoakan leluhur
  • tak pernah menyisakan beras sedikit saat menumbuk padi
  • tak pernah menyisakan nasi saat menanak
  • tidak pernah menyapu
  • membakar sampah di sembarang tempat
  • menyapu malam hari
  • membuang sampah di bawah tempat tidur
  • membuang sampai lewat jendela
  • kencing di sembarang tempat
  • duduk-duduk di tengah dan di tepian pintu rumah
  • suka gandhulan ata menggelantungi pintu
  • bersiul di waktu malam
  • memotong kuku di malam hari
  • gemar menggigit kuku
  • suka tusuk-tusuk/sogok-sogok membersihkan gigi
  • suka dan gampang caci-maki,misuh-misuh, mengumpat, sumpah serapah.
  • suka membakar, sapu gerang, rambut, tulang belulang, kulit bawang, kulit kayu, kayu kelor, dhadhap dan irus
  • orang yang suka membuang garam dan kuah sayur
  • memanjat di malam hari atau di tengah siang, pukul 11-12.
  • tidur di pagi hari, di siang tengah (pukul 11-12), atau saat matahari terbenam
  • memukul-mukul perut di malam hari
  • suka makan pucuk daun
  • makan dengan tiduran di dipan, makan sambil jalan-jalan dan mengurai rambut
  • makan di rumah kosong
  • tidak mencuci tangan sesudah makan
  • suka mencari kutu rambut di malam hari
  • memasukkan hewan unggas di dalam rumah hunian
  • duduk di atas bantal
  • membersihkan muka dengan baju
  • menyobek-nyobek bungkusan makanan
  • sedang hajatan mantu tetapi bolak-balik ke dapur
  • orang yang sedang hajatan mantu membuang sampah sembarangan di rumahnya
  • menina-bobokkan bayi di malam hari
  • menciumi anak yang sedang tidur
  • orang hamil suka menggendong barang
  • membuka payung dan sejenisnya di dalam rumah
  • memanggil orangtua dengan menyebut namanya saja (njangkar)
  • memindahkan air kendi ke kendi yang lain
  • suka berkaca sambil tertawa
  • bekerja terus menerus waktu matahari terbenam (apalagi malam Jum’at)
  • membuang kembar mayang di sembarang tempat
  • membuat atap dengan dinding bambu (gedheg) bekas, kayu bekas untuk kerangkanya dan memasang atap berselang hari
  • menanak nasi, berasnya terendam dalam dandang
  • membuat sambel dengan kuah sayur
  • menanam pohon pisang di depan rumah
  • menanam tumbuhan menjalar di halaman rumah
  • memakai bambu wungwang (bambu berlubang ke dua sisi) untuk perabot
  • mengisi kendi dengan membenamkan kendinya di tempat air
  • suka ceroboh mencopot baju di sembarang tempat dan meninggalkannya.
  • orang yang malas bersih-bersih
  • suka tidur telentang dan melipat bantal
  • duduk jegang, duduk menggerak-gerakkan kakinya
  • suka duduk berpangku tangan dan bersilang dagu (sangga wang)
  • tidur berbantalkan tangan
  • membersihkan kasur dengan tangan atau kain atau baju
  • pergi jauh berjalan sendirian (lelampah), berdua (bathang ucap-ucap) atau bertiga (gotong mayit)
  • batal memasang atap setelah tiang-tiang selesai didirikan
  • orang hamil suka melangkahi kain (jarik, jarit), nyiru (tampah), lumpang atau lesung.

Jenis-jenis sukerto yang perlu diruwat
  1. Ontang-anting (anak tunggal laki-laki)
  2. Unting-unting (anak tunggal perempuan)
  3. Uger-uger lawang (dua bersaudara laki-laki semua)
  4. Kembang sepasang (dua bersaudara perempuan semua)
  5. Gedhana-gedhini (dua bersaudara laki-laki dan perempuan)
  6. Gedhini-gedhana (dua bersaudara perempuan dan laki-laki)
  7. Kembar (dua anak lahir dalam satu hari laki-laki atau perempuan semua)
  8. Dhampit (dua anak lahir dalam sehari satu laki-laki dan satu perempuan)
  9. Sendhang kapit pancuran (tiga anak bersaudara yang perempuan di tengah) 
  10. Pancuran kapit sendhang (tiga anak bersaudara yang laki-laki di tengah)
  11. Saramba (empat anak bersaudara laki-laki semua)
  12. Sarimpi (empat anak bersaudara perempuan semua)
  13. Pandhawa / pancala putra (lima anak bersaudara laki-laki semua)
  14. Pandhawi / pancala putri (lima anak bersaudara perempuan semua)
  15. Pandhawa madhangake (lima anak bersaudara seorang perempuan)
  16. Pandhawa apil-apil / pipilan (lima anak bersaudara seorang laki-laki)
  17. Tiba sampir (anak lahir kalung usus)
  18. Jempina (anak lahir belum waktunya / prematur)
  19. Margana (anak lahr di perjalanan)
  20. Wahana (anak lahir di desa yang sedang ada pergelaran wayang kulit)
  21. Bungkus / wungkus (anak lahit bungkus)
  22. Julung wangi (anak lahir bersamaan dengan terbitnya matahari)
  23. Julung sungsang (anak lahit bersamaan dengan matahari di titik kulminasi)
  24. Julung pujud (anak lahir bersamaan dengan tenggelamnya matahari)
  25. Wungle (anak lahir bule)
  26. Kresno (anak lahir hitam mulus)
  27. Wungkul (anak bongkok sejak lahir)
  28. Wujul (anak cebol sejak lahir)
Selain tersebut di atas, yang termasuk sukerto adalah orang yang lalai dalam mengerjakan sesuatu hal:
  1. Orang menanak nasi merobohkan dandang
  2. Orang memipis jamu mematahkan gandhik
  3. Orang membangun rumah sudah memasang genting lupa memasang tutup keong
  4. Orang memotong bambu tanpa ruas tidak dipecah
  5. Orang menylumbat kelapa, setelah selesai penylumbatnya tidak dirobohkan



Bathara Kala versi Surakarta Hadiningrat

BATHARA KALA
Bathara Kala seorang Dewa, putra Betara Guru dan dilahirkan ditengah samudera
Bathara Kala dilahirkan berupa api berkobar-kobar yang tak dapat dipadamkan. Segenap Dewa menggunakan kesaktian mereka untuk memadamkan api itu, tetapi sia-sia belaka. Segala senjata yang ditujukan pada Bathara Kala, merasuk ke dalam jiwanya dan semakin menambah sakti Dewa itu. Kemudian api berobah menjadi raksasa yang tak terhingga besarnya dan naiklah raksasa itu ke Suralaya (kerajaan Dewa) untuk menanyakan, siapa bapaknya.

Oleh karena Betara Guru merasa kuwatir akan terjadnya bencana lebih besar, ia pun mengaku, bahwa raksasa itu adalah putranya. Kemudian Betara Guru menghilangi kesaktian Bathara Kala dengan mencabut kedua caling putranya itu. Kedua caling ini dijadikan keris dan akhirnya menjadi senjata Pendawa. Itulah sebabnya mengapa peribahasa Jawa mengatakan tentang mengadu caling Bathara Kala, kalau seseorang menggunakan senjata keris.

Sesudah raksasa itu diakui putra oleh Betara Guru, diberilah ia nama Kala dengan gelar Betara yang berarti Dewa, dititahkan untuk bertempat tinggal di Nusakambangan dan kemudian beristrikan Bathari Durga.

Oleh Betara Guru, Bathara Kala diberi kekuasaan di dunia ini untuk mengambil manusia sebagai mangsanya, tetapi manusia yang akan dijadikan mangsa harus memenuhi syarat-syarat tertentu dan pengambilan mangsanya pun tak boleh menyalahi pantangan-pantangan Dewa.

Menurut kepercayaan, dunia ini penuh larangan dan pantangan. Pokok dari segala itu tak lain ialah supaya orang jangan rnenyakiti sesama hidup secara badaniah dan batiniah dan supaya orang menajankan kebajikan terhadap sesama hidup.

Bathari Uma pun mengizinkan seseorang untuk dijadikan mangsa Bathara Kala, kalau orang itu misalnya melanggar pantangan-pantangan berikut:
  1. Merebahkan dandang pada waktu menanak nasi;
  2. Mematahkan batu pipisan (gandik, gandhik);
  3. Memecahkan landasan pipisan;
  4. Membikin pagar, sebelum rumah jadi; dan lain-lain.
Untuk menghalang-halangi datangnya Bathara Kala, para Dewa telah menganugerahkan kepada manusia sejumlah rafal dengan mengucapkan tulisan yang terdapat pada tubuh Bathara Kala, pengucapan mana dapat melemahkan kesaktian Bathara Kala.

Bunyi tulisan itu adalah sebagai berikut:
Yamaraja jaramaya, jamarani rinumaja, yasiraya yarasia yasirapa parasia lawagna lawagni, sikutara sikutari, sikutaka si bintaki, sidurbala sidurbali, si rumaya si rumayi, si hudaya si hudayi, si srimaya gedah maya, si dayudi si dayuda, hadayudi nihudaya

Bathara Kala bermata plelengan, berhidung bentuk haluan perahu bermulut ngablak (terbuka). Berjamang dengan garuda membelakang, bersongkok Dewa, berambut terurai, berbulu di dada hanya tangan depan yang bergerak, berpakaian kerajaan raksasa.

Menurut kepercayaan orang Jawa, dilakukan juga upacara meruwat dengan memainkan lakon wayang Murwakala.
Caranya adalah sebagai berikut: Lakon dimainkan waktu sore hingga tamat ceritanya. Menjelang pagi disambungkan cerita yang mengkisahkan tentang seorang anak yang dikejar kejar dan akan dimakan Bathara Kala. Tetapi Bathara Kala bisa ditipu dengan makanan biasa dan ia pun menerima ganti itu. Di waktu menyantap hidangan yang disajikan, hal tersebut diperlihatkan dengan menyuapi nasi wayang Bathara Kala.
Sesudah habis gangguan Bathara Kala itu, maka anak yang diruwat dianggap telah terlepas dan mara bahaya. Kemudian anak yang diruwat memasukkan uang ke dalam paso berisi air kembang, perbuatan mana diikuti oleh para penonton yang juga ingin minta berkah.

Waktu
Oleh orang Jawa Tengah, hajat meruwat dalam banyak hal dilakukan secara besar-besaran, Jaman dulu banyak sekali terdapat alasan bagi seseorang untuk melaksanakan hajat meruwat dan orang pun belum merasa puas, kalau hajat itu belum dilakukan
Alasan untuk mengadakan ruwatan berbagai macam, antara lain bisa juga karena merobohkan dandang sewaktu menanak nasi, karena mematahkan anak batu giling sebuah pipisan dan lain-lain.
Oleh karena pantangan banyak sekali macamnya maka sebagai kiasan dapat dikatakan, bahwa harus berhati hatilah orang selalu, agar jangan sampai berbuat salah.

Sumber : Sejarah Wayang Purwa - Hardjowirogo - PN Balai Pustaka - 1982





Judul : Ruwatan di Daerah Surakarta
Penulis : Soetarno
Penerbit : CV. Cendrawasih, 1995, Surakarta
Bahasa : Indonesia
Halaman : 95
Ringkasan isi :

Pertunjukan wayang kulit bagi masyarakat Jawa mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai tontonan dan sebagai upacara baik upacara ritual atau pun upacara seremonial. Pertunjukan wayang kulit untuk upacara ritual misalnya untuk upacara ruwatan. Pertunjukan wayang kulit untuk upacara ruwatan dipergunakan oleh orang Jawa sebagai pembebas manusia dari kekuatan supranatural buruk yang mengancam manusia yang sial (Jawa: sukerta) keberadaannya di muka bumi. Di dalam tradisi Jawa orang-orang yang keberadaannya nandhang sukerta (berada dalam “dosa”) maka ia harus diruwat, sebab kalau tidak hidupnya akan sengsara dan membahayakan lingkungan. Ia diyakini menjadi makanan atau mangsa Bathara Kala. Bathara Kala adalah anak Bathara Guru yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikan.

Karya-karya sastra Jawa yang memuat cerita tentang Bathara Kala dan wong sukerta misalnya Kitab Parthayajna, Kitab Sudamala, Kitab Smaradahana, Kitab Kresna Kalantaka, Pakem Kandhaning Ringgit Purwa dan Serat Centhini. Serat Centhini menyebutkan ada 19 jenis wong sukerta, Serat Manikmaya 60 jenis, Serat Pustaka Raja Purwa 136 jenis. Wong sukerta tersebut misalnya ontang-anting (anak tunggal laki-laki), kembang sepasang (dua anak perempuan semua), bungkus (lahir masih terbungkus selaput pembungkus bayi), orang yang ketika menanak nasi merobohkan dandang (tempat menanak nasi).

Lakon ruwatan yang sering dipergelarkan di daerah Surakarta adalah Murwakala/ Purwakala. Dapat dikatakan Murwakala memuat penghayatan kejawen atas eksistensi manusia, adanya di dunia beserta segala hal yang berakibat di dalamnya. Dalam lakon ini yang menjadi titik pandangan manusia akan dirinya, bukan manusia yang baik dan sempurna, melainkan keadaan manusia yang terlibat bencana atau salah kedaden. Keadaan seperti ini dipandang sukerta, sengsara, dan kotor sehingga memerlukan peruwatan, pelepasan dan pembersihan sehingga dapat mengantarkan ke alam sempurna selanjutnya mampu mengarahkan hidupnya dalam kedudukan sewajarnya.

Untuk pergelaran wayang kulit lakon Murwakala diperlukan perlengkapan sebagai berikut gamelan satu perangkat, wayang kulit satu kotak, kelir dan blencong. Sesajian yang disiapkan antara lain:
  • Tuwuhan, antara lain terdiri pisang raja setundun, cengkir gadhing/kelapa muda, tebu, daun beringin, daun elo, daun kara, daun kluwih.
  • Kembar mayang,
  • air bunga setaman.
  • Bara dan ratus wangi (menyan)
  • Kain mori
  • Gawangan kelir dihias kain batik lima buah, dilengkapi padi 4 ikat, satu stel pakaian bekas milik yang akan diruwat
  • Bermacam-macam nasi (nasi golong, nasi wuduk, nasi kuning masing-masing dengan perlengkapannya)
  • Bermacam-macam jenang
  • Jajan pasar, misal buah-buahan, makanan kecil
  • Benang lawe, minyak kelapa untuk menyalakan blencong
  • Hewan misal burung dara, ayam, bebek masing-masing sepasang
  • Bermacam-macam rujak dengan perlengkapannya
  • Sajen buangan
  • Air sumur atau sendang untuk mandi yang diruwat
Mantra merupakan aspek yang penting dalam upacara ruwatan. Mantra adalah perkataan atau kalimat yang dapat mendatangkan daya gaib. Para dalang ruwat bahkan merahasiakan mantra tersebut. Alasannya kalau diucapkan tidak pada saat ruwatan bisa menimbulkan akibat yang kurang baik. Mengenai mantra ini setiap dalang tidak sama, tergantung kemampuan, pengalaman dan tradisi atau pakem yang dianut. Namun diantara mantra-mantra tersebut yang pokok adalah
  • sastra bathuk (caraka balik)
  • sastra dhadha (sastra bedhati)
  • sastra telak (huruf di langit-langit)
  • sastra gigir (huruf di punggung).
Dalam upacara ruwatan dalang merupakan tokoh penting yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pergelaran wayang mau pun bertanggung jawab secara spiritual apapun yang terjadi terhadap pelaksanaan upacara ruwatan. Untuk itu diperlukan syarat-syarat tertentu antara lain sudah lanjut usia (dalam arti telah masak betul pengalamannya), setidak-tidaknya sudah pernah mantu (menikahkan anak). Dalam beberapa adegan pergelaran wayang untuk ruwatan yang penting adalah pecakapan antara Dalang Kandha Buwana dengan Bathara Kala di mana terjadi adu argumentasi. Dalam argumentasi tersebut Dalang Kandha Buwana dapat menjelaskan asal-usul Kala serta membaca tulisan yang terdapat dalam tubuhnya. Kala mengaku kalah dan akhirnya minta diruwat.
Di daerah Surakarta dalang ruwatan bisa dibedakan antara dalang versi Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran. Dalam upacara ruwatan keduanya sama-sama menggunakan lakon Murwakala, disertai dengan berbagai macam sesaji dan upacara ruwatan dilaksanakan siang hari antara pukul 09.00 – 12.00. Perbedaannya dalang ruwat Kasunanan harus bisa menunjukkan bahwa ia masih “keturunan” dalng Panjangmas, sedangkan dalang ruwat Mangkunegaran tidak harus keturunan dalang Panjangmas yang penting sudah mampu dan matang pengalamannya.
Pelaksanaan ruwatan dewasa ini mengalami berbagai perubahan. Perubahan tersebut dapat digolongkan dalam tiga kategori, yaitu:
Perubahan teknis, tokoh wayang yang digunakan yang pokok saja (Bathara Guru, Wisnu, Kala), adegan diperpadat, waktu dipersingkat.
Perubahan sosial, pandangan orang terhadap pergelaran wayang untuk upacara ruwatan saat ini kurang memperhatikan fungsi ritual.
Perubahan pendidikan, adanya bentuk-bentuk pendidikan kesenian baik langsung maupun tidak langsung, sangat mempengaruhi tingkah laku, dan sikap seniman dalang ruwat.
Buku ini juga memuat cerita Murwakala versi Mangkunegaran dan Kasunanan secara ringkas, serta beberapa mantra yang digunakan oleh dalang ruwat versi Panjangmas (Kasunanan) seperti Jantur Wa Kala Mur, Santipurwa, Aksara ing Telak dan versi Mangkunegaran seperti Aksara ing Bathuk, Aksara ing Dhadha (Sastra bedhati), Gumbala Geni, Padusan Kala.
Melalui upacara ruwatan dengan pergelaran wayang kulit dapat terungkap nilai-nilai yang terkandung dalam pola kehidupan masyarakat setempat serta pergelaran tersebut dapat menjadi sarana sosialisai dan pembentukan diri masyarakat yang bersangkutan, dengan berbagai perubahan yang terjadi.
Teks : Kusalamani


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar